Studi Filipina Temukan Mikroplastik dalam Teripang Konsumsi di Teluk Pujada

Ilustrasi by AI

Mati City — Ancaman mikroplastik kini tak hanya mencemari laut, tetapi juga telah masuk ke tubuh hewan laut yang dikonsumsi manusia. Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru oleh Errole A. Maxey, Alezandra Ramille A. Cadayona, dan Dj Mar M. Longyapon dari Davao Oriental State University, Filipina, yang dipublikasikan pada 2026.

Penelitian tersebut mengungkap bahwa teripang pasir (Holothuria scabra), salah satu komoditas laut bernilai ekonomi tinggi di Asia, telah terkontaminasi mikroplastik di Teluk Pujada, Filipina. Temuan ini menjadi peringatan penting bagi keamanan pangan laut dan kesehatan ekosistem pesisir.

Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil, biasanya kurang dari 5 milimeter, yang berasal dari pecahan sampah plastik lebih besar maupun produk sintetis seperti serat pakaian, ban kendaraan, dan alat tangkap ikan. Dalam ekosistem laut, mikroplastik mudah mengendap di dasar perairan dan masuk ke rantai makanan melalui organisme dasar laut.

Tim peneliti memeriksa 90 individu teripang pasir dari tiga lokasi pesisir di Teluk Pujada, yaitu Lawigan, Badas, dan Dahican. Hasilnya, sebanyak 35 individu atau sekitar 38,88 persen terbukti mengandung mikroplastik di saluran pencernaannya.

Dari seluruh sampel, peneliti menemukan total 36 partikel mikroplastik dengan rata-rata 0,4 partikel per individu. Meski jumlahnya terlihat kecil, keberadaan partikel ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah menyusup ke habitat dasar laut yang selama ini dianggap relatif terlindungi.

Mayoritas mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat panjang, mencapai 75 persen dari total partikel. Bentuk ini paling sering berasal dari jaring ikan, tali sintetis, atau limbah tekstil yang terurai di laut.

Warna biru menjadi jenis yang paling dominan, mencakup 61,11 persen dari total partikel. Menurut peneliti, warna ini kuat diduga berasal dari aktivitas perikanan seperti tali nilon, jaring, dan perlengkapan tangkap yang rusak atau terbuang.

Analisis kimia menggunakan teknologi FTIR menunjukkan bahwa jenis polimer yang paling banyak ditemukan adalah karet sintetis, mencapai 66,67 persen. Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa sumber pencemaran tidak hanya berasal dari plastik rumah tangga, tetapi juga dari abrasi ban kendaraan, alat industri, dan aktivitas manusia lainnya.

Errole A. Maxey dan tim dari Davao Oriental State University menjelaskan bahwa perilaku makan teripang membuat hewan ini sangat rentan terpapar mikroplastik. Sebagai organisme pemakan endapan, teripang terus-menerus menelan sedimen untuk mencari bahan organik. Jika sedimen tersebut tercemar plastik, partikel itu ikut masuk ke tubuhnya.

Kondisi ini membuat Holothuria scabra berpotensi menjadi bioindikator alami pencemaran mikroplastik di dasar laut. Artinya, keberadaan plastik di tubuh teripang bisa menjadi cerminan tingkat polusi di lingkungan sekitarnya.

Temuan ini juga memunculkan kekhawatiran baru bagi manusia. Teripang merupakan makanan laut bernilai tinggi dan banyak dikonsumsi di negara-negara Asia. Jika mikroplastik terus terakumulasi, ada potensi partikel tersebut masuk ke rantai konsumsi manusia.

Selain itu, mikroplastik juga dikenal mampu membawa zat beracun seperti logam berat dan bahan kimia organik yang menempel di permukaannya. Jika masuk ke tubuh organisme laut, zat-zat ini dapat memengaruhi kesehatan hewan dan keseimbangan ekosistem.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa kawasan konservasi seperti Teluk Pujada pun tidak luput dari ancaman sampah plastik. Aktivitas manusia di pesisir, perikanan, limbah rumah tangga, hingga lalu lintas darat dapat menjadi sumber utama kontaminasi.

Para peneliti menekankan pentingnya pengawasan lebih ketat terhadap limbah plastik, terutama di wilayah pesisir yang menjadi habitat penting berbagai biota laut. Pengurangan sampah plastik, pengelolaan limbah yang lebih baik, serta edukasi masyarakat dinilai menjadi langkah mendesak.

Bagi dunia sains, studi ini menjadi data dasar penting untuk memahami sejauh mana mikroplastik telah menyebar di organisme laut bentik. Bagi masyarakat umum, hasil ini menjadi pengingat bahwa polusi plastik bukan lagi masalah yang jauh, tetapi sudah berada di makanan yang mungkin kita konsumsi setiap hari.

Profil Penulis
Errole A. Maxey — Davao Oriental State University
Alezandra Ramille A. Cadayona — Davao Oriental State University
Dj Mar M. Longyapon — Davao Oriental State University

Sumber Penelitian
Maxey, E.A., Cadayona, A.R.A., & Longyapon, D.M.M. (2026). Baseline Assessment of Microplastic Ingestion in the Sea Cucumber Holothuria scabra, Jaeger 1833 from Pujada Bay, Philippines. East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR).

Posting Komentar

0 Komentar