Penerapan
model Problem-Based Learning (PBL) terbukti efektif melatih kemampuan analisis
pasar dan pemecahan masalah otentik siswa, meski tantangan kedisiplinan kelas
masih membayangi.
MANADO – Menghadapi
dinamika industri digital yang bergerak cepat, sektor pendidikan vokasi
dituntut untuk melahirkan lulusan yang adaptif dan mampu berpikir kritis.
Sebuah riset terbaru yang dipublikasikan pada Mei 2026 oleh tim peneliti dari
Universitas Negeri Manado (UNIMA) mengungkapkan bahwa penerapan strategi Problem-Based
Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah di SMK Negeri 1 Manado
secara nyata berhasil mendongkrak keterlibatan aktif dan keterampilan berpikir
kritis siswa pada mata pelajaran kejuruan pemasaran. Temuan ini menjadi angin
segar bagi digitalisasi kurikulum kejuruan yang sering kali masih terjebak pada
metode hafalan teori konvensional.
Merombak Kelas Teoretis Menjadi
Simulasi Bisnis
Pendidikan
pemasaran di era modern tidak lagi sekadar memahami definisi, melainkan
menuntut keahlian praktis seperti analisis tren konsumen, strategi promosi
digital, hingga pengambilan keputusan yang tangkas. Sayangnya, realitas di
lapangan menunjukkan bahwa kegiatan belajar-mengajar masih didominasi oleh
pendekatan yang berpusat pada guru (teacher-centered), sehingga
interaksi siswa menjadi terbatas.
Hadirnya
model PBL di SMK Negeri 1 Manado membalikkan arah tersebut dengan menjadikan masalah
nyata di dunia bisnis dan industri—seperti studi kasus kegagalan promosi produk
atau perubahan perilaku belanja masyarakat—sebagai motor utama pembelajaran.
Metodologi Eksplorasi Kasus Secara
Mendalam
Untuk
memetakan efektivitas strategi ini, Setiawaty Th. Ambat bersama tim peneliti
menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus yang mendalam. Pola
interaksi di dalam kelas diamati secara langsung, dibarengi dengan wawancara
intensif bersama para guru pemasaran serta siswa. Peneliti juga membedah
dokumen pendukung seperti modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka dan hasil
evaluasi belajar siswa untuk mendapatkan data yang komprehensif. Seluruh data
tersebut kemudian diolah melalui tahapan reduksi, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
Temuan Utama: Tiga Tahapan
Kontekstual dan Tantangan Kelas
Riset ini menemukan bahwa guru pemasaran di SMK Negeri 1 Manado berhasil
menerapkan PBL melalui tiga kompartemen taktis:
·
Tahap Pendahuluan (Apersepsi): Guru memantik
kesiapan belajar siswa dengan mengaitkan materi lewat pengalaman sehari-hari,
seperti transaksi jual-beli di media sosial, dilanjutkan dengan pemberian
pertanyaan pemantik yang menantang.
·
Tahap Pelaksanaan (Kolaborasi Aktual): Siswa dibentuk
menjadi kelompok kecil yang heterogen untuk mendiskusikan solusi dari masalah
pemasaran yang diberikan. Mereka mencari data dari internet dan buku teks,
mempresentasikan hasil analisis, serta melakukan tanya jawab antar-kelompok.
Guru di sini bertindak murni sebagai fasilitator yang mengarahkan tanpa
langsung mendikte jawaban.
·
Tahap Evaluasi Otentik: Penilaian tidak
lagi bertumpu pada ujian akhir tertulis saja. Guru menerapkan penilaian
autentik (kinerja, proyek, dan portofolio) yang mengukur tiga aspek sekaligus:
pengetahuan (kognitif), keterampilan memecahkan masalah (psikomotorik), dan
sikap kerja sama (afektif).
Meski
berdampak positif, riset ini mengidentifikasi beberapa batu sandungan di ruang
kelas, seperti tingkat konsentrasi dan kedisiplinan siswa yang masih
fluktuatif, adanya siswa yang pasif dalam kelompok, serta keterbatasan waktu
pengajaran dibanding metode ceramah biasa. Untuk mengatasinya, guru menerapkan
strategi adaptif berupa penguatan positif (positive reinforcement),
komunikasi persuasif, pembagian peran spesifik dalam kelompok, serta penataan
aturan kelas yang lebih tegas namun tetap edukatif.
Implikasi dan Rekomendasi untuk
Pendidikan Vokasi
Secara
luas, riset ini membuktikan bahwa pengetahuan akan jauh lebih bermakna jika
siswa membangun sendiri pemahamannya lewat interaksi sosial dan pengalaman
langsung. Model PBL dinilai sangat relevan untuk memperkecil jurang pemisah
antara teori di sekolah dan kebutuhan nyata dunia kerja (link and match).
Jerry
R.H. Wuisang selaku salah satu peneliti menekankan pentingnya inovasi instruksional
yang ajeg. Tim peneliti merekomendasikan agar para pendidik vokasi terus
meningkatkan kompetensi manajemen kelas dan perancangan skenario masalah lewat
berbagai pelatihan atau workshop. Selain itu, pihak sekolah diharapkan mampu
menyediakan dukungan fasilitas teknologi yang memadai, mengingat riset
pemasaran modern tidak dapat dipisahkan dari akses informasi digital.
Profil Tim Peneliti
Setiawaty Th. Ambat - Universitas
Negeri Manado
Shelty D.M. Sumual - Universitas
Negeri Manado
Jenny Nancy Kaligis - Universitas
Negeri Manado
Jerry R.H. Wuisang - Universitas
Negeri Manado
Dominikus Rojoki Manullang - Universitas
Negeri Manado
Sumber Penelitian
Judul Artikel Jurnal: An Analysis of
Teachers' Strategies for Developing Problem-Based Learning in Marketing
Vocational Education at SMK Negeri 1 Manado
Nama Jurnal: Journal of
Educational Analytics (JEDA)
Volume & Halaman: Vol. 5, No. 2
(2026), Halaman 353-368
Tahun Publikasi: 2026
0 Komentar