Penelitian tersebut menjadi penting karena jagung kuning merupakan salah satu komoditas pangan strategis di Kabupaten Bone yang berperan besar dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menjadi sumber utama pendapatan rumah tangga petani. Di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan, sistem agroforestri dinilai sebagai solusi pertanian berkelanjutan yang mampu menggabungkan tanaman pangan dengan pepohonan dalam satu lahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani yang menerapkan agroforestri memperoleh hasil panen dan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan sistem budidaya monokultur atau penanaman satu jenis tanaman saja.
Agroforestri Jadi Alternatif Pertanian Berkelanjutan
Selama ini, praktik agroforestri telah diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Sistem ini mengintegrasikan tanaman pertanian dengan tanaman kehutanan sehingga penggunaan lahan menjadi lebih optimal.
Selain meningkatkan hasil produksi, agroforestri juga diketahui mampu menjaga keseimbangan ekologi, memperbaiki kesuburan tanah, mengurangi erosi, serta menekan risiko gagal panen akibat perubahan iklim.
Namun, kajian kuantitatif mengenai produktivitas jagung dalam sistem agroforestri masih relatif terbatas, terutama di Kabupaten Bone. Karena itu, penelitian yang dilakukan di Desa Taccipi memberikan bukti empiris baru mengenai manfaat ekonomi dan keberlanjutan sistem tersebut.
Survei Langsung kepada Petani
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui survei lapangan terhadap 10 petani jagung yang menerapkan sistem agroforestri.
Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara mendalam, observasi lapangan, serta dokumentasi. Tim peneliti kemudian menghitung tingkat produktivitas, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan terhadap biaya atau R/C Ratio untuk mengetahui kelayakan ekonomi usaha tani.
Variabel yang dianalisis meliputi produktivitas jagung per hektare, pendapatan petani, biaya produksi, luas lahan, serta harga jual hasil panen.
Produktivitas Jagung Meningkat Signifikan
Temuan penelitian menunjukkan bahwa produktivitas jagung kuning pada sistem agroforestri mencapai rata-rata 4.200 kilogram per hektare.
Angka tersebut tercatat 16,7 persen lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur yang hanya menghasilkan sekitar 3.600 kilogram per hektare.
Peningkatan produktivitas ini diduga dipengaruhi oleh keberadaan pohon-pohon dalam sistem agroforestri yang mampu memperbaiki kualitas tanah, menjaga kelembapan, serta menyediakan unsur hara tambahan bagi tanaman jagung.
Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pohon pengikat nitrogen dalam sistem agroforestri dapat meningkatkan hasil panen jagung hingga 15–20 persen.
Berikut ringkasan hasil penelitian:
- Produktivitas jagung agroforestri: 4.200 kg/ha
- Produktivitas jagung monokultur: 3.600 kg/ha
- Kenaikan produktivitas: 16,7 persen
- Pendapatan petani agroforestri: Rp12,6 juta/ha
- Pendapatan petani monokultur: Rp9,8 juta/ha
- Kenaikan pendapatan: 28,6 persen
Seluruh responden penelitian menunjukkan tingkat produktivitas yang relatif seragam meskipun luas lahan yang dimiliki berbeda-beda.
Pendapatan Petani Naik Hampir 30 Persen
Tidak hanya meningkatkan hasil panen, sistem agroforestri juga berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani.
Penelitian menemukan bahwa rata-rata pendapatan petani jagung yang menerapkan agroforestri mencapai Rp12.600.000 per hektare. Nilai ini lebih tinggi sekitar 28,6 persen dibandingkan pendapatan petani pada sistem monokultur yang hanya mencapai Rp9.800.000 per hektare.
Menurut tim peneliti, peningkatan pendapatan tersebut berasal dari diversifikasi hasil produksi dan efisiensi biaya usaha tani.
"Agroforestri terbukti lebih unggul dibandingkan monokultur karena tidak hanya memberikan tambahan pendapatan, tetapi juga mendukung keberlanjutan pertanian," tulis Fitriadi dan rekan-rekannya dalam publikasi ilmiah tersebut.
Layak Secara Ekonomi
Analisis kelayakan usaha menggunakan indikator R/C Ratio menunjukkan bahwa budidaya jagung pada kedua sistem sama-sama layak untuk dikembangkan karena memiliki nilai rasio lebih besar dari satu.
Namun, sistem agroforestri dinilai lebih menguntungkan karena memberikan manfaat tambahan berupa diversifikasi produk, peningkatan ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Nilai R/C Ratio sebesar 3,33 menunjukkan bahwa setiap pengeluaran biaya produksi masih menghasilkan penerimaan yang jauh lebih besar bagi petani.
Temuan ini memperkuat berbagai hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa agroforestri mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat pedesaan.
Dukungan Kebijakan Dinilai Penting
Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti merekomendasikan pemerintah daerah untuk memperluas penerapan agroforestri melalui program pelatihan, penyuluhan pertanian, serta bantuan sarana produksi.
Selain itu, akses pasar yang lebih luas juga diperlukan agar harga jual jagung dan hasil kehutanan tetap stabil sehingga pendapatan petani dapat terjaga.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian juga menjadi faktor penting. Petani perlu dibekali keterampilan manajemen usaha tani, teknologi budidaya, hingga pengolahan hasil agar produk pertanian memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Penelitian lanjutan mengenai dampak agroforestri terhadap konservasi tanah, pengelolaan air, dan keanekaragaman hayati juga direkomendasikan untuk memperkuat dasar ilmiah pengembangan pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Profil Penulis
Fitriadi, S.P., M.P. merupakan dosen dan peneliti di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Yapi Bone dengan fokus kajian pada agribisnis, sistem pertanian berkelanjutan, dan pengembangan wilayah pedesaan.
A. Murniati, S.P., M.P. adalah akademisi dari Universitas Muhammadiyah Bone yang menaruh perhatian pada bidang ekonomi pertanian dan pembangunan agribisnis.
Islawati, S.P., M.P. merupakan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Yapi Bone dengan bidang keahlian sistem budidaya pertanian dan pemberdayaan petani.
Sumber Penelitian
Fitriadi, A. Murniati, dan Islawati. 2026. "Quantitative Analysis of Yellow Corn Productivity in Agroforestry Systems and Its Impact on Farmers' Income in Taccipi Village, Bone Regency." International Journal of Asian Business and Development (Metropolis), Vol. 2 No. 1, halaman 23–28.
URL: https://journalmetropolis.my.id/index.php/metropolis/index
DOI: https://doi.org/10.55927/metropolis.v2i1.7
0 Komentar