Studi yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Advance Social Sciences and Education (IJASSE) itu mengungkap bahwa Selca Day memiliki makna sosial yang lebih dalam dibanding sekadar unggahan swafoto bersama idola. Temuan ini penting karena menunjukkan bagaimana budaya penggemar di era digital dapat menciptakan hubungan sosial yang positif dan membantu individu membangun identitas diri.
Fenomena Selca Day berkembang seiring meningkatnya pengaruh Korean Wave atau Hallyu di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di kalangan penggemar TXT yang dikenal dengan nama MOA, Selca Day rutin dilaksanakan setiap tanggal 22 setiap bulan. Para penggemar mengunggah foto diri mereka yang dipadukan dengan foto anggota TXT menggunakan tagar #MOASD atau #MOASelcaDay.
Menariknya, kebiasaan ini bertolak belakang dengan kecenderungan sebagian penggemar K-Pop yang biasanya memilih menggunakan akun anonim dan foto profil idola mereka. Dalam Selca Day, para penggemar justru berani memperlihatkan identitas pribadi mereka secara terbuka.
Tim peneliti dari Program Studi Ilmu Komunikasi UNIBI menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz untuk memahami pengalaman subjektif para penggemar. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Sebanyak tiga informan utama dan satu informan pendukung yang aktif mengikuti Selca Day dijadikan sumber data penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para penggemar memiliki dua jenis motivasi dalam mengikuti Selca Day.
Pertama, motivasi yang berasal dari pengalaman masa lalu. Para peserta mengaku sudah terbiasa dengan budaya fandom K-Pop dan memiliki ikatan emosional yang kuat dengan TXT. Mereka mengikuti Selca Day karena merasa kegiatan tersebut merupakan bagian alami dari kehidupan sebagai penggemar.
Kedua, motivasi yang berorientasi pada tujuan masa depan. Mereka ingin berinteraksi lebih dekat dengan sesama penggemar, mendapatkan apresiasi berupa tanda suka, komentar, atau repost, serta memperlihatkan kreativitas melalui hasil foto dan proses penyuntingan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa Selca Day memberikan pengalaman sosial yang positif bagi para penggemar. Sebelum mengunggah foto, mereka biasanya mempersiapkan konsep, memilih pose yang mirip dengan idola, melakukan penyuntingan, dan menambahkan keterangan kreatif. Proses tersebut memberikan rasa puas dan menjadi sarana mengekspresikan diri.
Interaksi melalui komentar, repost, dan tanda suka di media sosial X membuat para penggemar merasa semakin dekat satu sama lain. Mereka merasakan adanya komunitas yang mendukung dan memberikan penghargaan terhadap kreativitas sesama anggota fandom.
Temuan lainnya menunjukkan bahwa Selca Day turut membantu meningkatkan rasa percaya diri. Sebagian informan awalnya merasa ragu mengunggah foto pribadi karena khawatir terhadap penilaian orang lain. Namun, setelah memperoleh respons positif dari sesama penggemar, mereka menjadi lebih nyaman dan percaya diri dalam menampilkan diri di ruang digital.
Menurut para peneliti, Selca Day memiliki beberapa makna penting bagi penggemar TXT-MOA di Indonesia.
- Menjadi sarana ekspresi diri dan kreativitas.
- Menjadi ruang untuk saling menghargai dan mendukung sesama penggemar.
- Memperkuat hubungan sosial dan rasa memiliki terhadap komunitas.
- Membantu individu membangun kepercayaan diri dan menerima diri sendiri.
Anggita Lestari dan tim peneliti menjelaskan bahwa Selca Day bukan hanya aktivitas hiburan semata. Kegiatan ini merupakan praktik komunikasi digital yang menggabungkan ekspresi diri, interaksi sosial, dan pembentukan identitas di lingkungan fandom.
Temuan tersebut juga memberikan perspektif baru mengenai komunitas penggemar K-Pop yang selama ini kerap mendapat stereotip negatif. Aktivitas yang dilakukan para penggemar ternyata mampu menghasilkan pengalaman sosial yang positif dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung.
Dari sisi akademik, penelitian ini membuka peluang kajian lebih lanjut mengenai budaya penggemar di media digital. Peneliti merekomendasikan penelitian pada bentuk aktivitas fandom lainnya, seperti streaming bersama, kegiatan amal, maupun praktik partisipatif lain yang berkembang di komunitas daring.
Sementara bagi masyarakat umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya penggemar modern tidak selalu identik dengan perilaku berlebihan. Sebaliknya, komunitas digital dapat menjadi ruang yang sehat untuk mengekspresikan diri, memperluas jaringan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis anggotanya.
Profil Singkat Penulis
Lidwina Febian Yumanisa merupakan peneliti dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia yang menaruh perhatian pada kajian komunikasi digital dan budaya populer.
Nisa Lathifah adalah akademisi dari Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia dengan fokus penelitian pada komunikasi dan media sosial.
Shinta Hartini Putri merupakan dosen dan peneliti di bidang komunikasi yang aktif mengkaji fenomena budaya digital dan interaksi masyarakat di media sosial.
Anggita Lestari adalah dosen dan peneliti dari Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia yang memiliki keahlian di bidang ilmu komunikasi, komunikasi digital, dan kajian budaya populer.
Sumber Penelitian
Yumanisa, Lidwina Febian; Lathifah, Nisa; Putri, Shinta Hartini; Lestari, Anggita. 2026.
"Selca Day as a Digital Communication Practice: A Phenomenological Study Based on Alfred Schutz's Perspective among TXT-MOA Fans in Indonesia on Social Media X"
International Journal of Advance Social Sciences and Education (IJASSE), Vol. 4, No. 3, halaman 143–154.
0 Komentar