Kode QR NutriScan dalam Meningkatkan Responsivitas Keluhan Mahasiswa Terhadap Kualitas Program Makan MBG


QR-Code NutriScan Tingkatkan Respons Keluhan Siswa pada Program Makan Bergizi Gratis
FORMOSA NEWS – Inovasi digital berbasis QR-Code bernama NutriScan terbukti mampu meningkatkan respons keluhan siswa terhadap kualitas makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan ini dipublikasikan oleh Ii Rahayu, S.Pd., M.Pd., Suci Yunda Nurhalimah, dan Wulan Maulida dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam penelitian yang terbit pada tahun 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS). Penelitian ini menjadi penting karena Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program nasional yang ditujukan untuk meningkatkan status gizi peserta didik di Indonesia. Di tengah pelaksanaannya, program tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kualitas makanan yang tidak konsisten hingga lambatnya penanganan keluhan dari siswa sebagai penerima manfaat. Para peneliti menawarkan solusi melalui sistem NutriScan QR-Code, sebuah platform digital yang memungkinkan siswa menyampaikan keluhan, evaluasi, dan masukan mengenai kualitas makanan hanya dengan memindai kode QR menggunakan telepon pintar.
Keluhan Makanan Masih Menjadi Tantangan Program MBG
Sejak diluncurkan pemerintah pada Januari 2025, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat membantu mengatasi berbagai persoalan gizi masyarakat Indonesia, terutama pada anak sekolah. Namun, berbagai laporan menunjukkan masih adanya masalah dalam pelaksanaan program tersebut. Beberapa kasus yang mendapat perhatian publik antara lain makanan yang berbau tidak sedap, nasi goreng yang belum matang, hingga penemuan roti berjamur di sejumlah sekolah. Data Kementerian Kesehatan yang dikutip dalam penelitian juga menunjukkan ribuan kasus keracunan makanan yang berkaitan dengan konsumsi makanan program MBG selama tahun 2025. Menurut tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia, salah satu persoalan utama bukan hanya kualitas makanan, tetapi juga keterbatasan sistem pelaporan yang membuat keluhan siswa sulit terdokumentasi dan ditindaklanjuti secara cepat. Di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Bandung yang menjadi lokasi observasi, siswa masih menyampaikan keluhan secara manual dengan menuliskannya pada secarik kertas dan memasukkannya ke dalam wadah makan. Cara tersebut dinilai tidak efektif karena menyulitkan proses evaluasi dan pemantauan.
Memanfaatkan Teknologi QR-Code
NutriScan dikembangkan sebagai sistem pelaporan digital yang sederhana dan mudah diakses. Melalui QR-Code yang tersedia di lingkungan sekolah, siswa dapat langsung mengakses formulir digital untuk menyampaikan keluhan mengenai kualitas makanan yang mereka terima. Sistem ini dirancang untuk mempercepat proses pelaporan sekaligus memudahkan pengelola program dalam mengumpulkan dan menganalisis data secara real time. Dalam praktiknya, siswa hanya perlu memindai QR-Code menggunakan telepon pintar. Setelah itu mereka akan diarahkan ke halaman NutriScan yang berisi informasi layanan dan formulir pengaduan. Keluhan yang dikirimkan kemudian masuk ke sistem dan dapat segera ditinjau oleh sekolah maupun pengelola program MBG. Menurut Ii Rahayu dan timnya, pendekatan ini memberikan alternatif yang lebih praktis dibandingkan metode pelaporan konvensional yang selama ini digunakan.
Melibatkan Puluhan Siswa Sekolah Menengah
Untuk menguji efektivitas NutriScan, peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan desain pretest-posttest. Penelitian melibatkan siswa SMA kelas 10 hingga kelas 12 yang menjadi penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis. Sebanyak 59 siswa berpartisipasi pada tahap pretest sebelum sistem diterapkan, sedangkan 46 siswa mengikuti tahap posttest setelah NutriScan digunakan. Para responden diminta mengisi kuesioner yang mengukur beberapa indikator utama, yaitu:
-Frekuensi penyampaian keluhan
-Kemudahan penggunaan sistem
-Kecepatan respons
-Kejelasan informasi
-Tingkat kepuasan siswa
Data kemudian dianalisis menggunakan uji statistik untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah penerapan NutriScan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator mengalami peningkatan setelah NutriScan diterapkan. Sebelum penggunaan sistem, nilai rata-rata kemudahan menyampaikan keluhan berada pada angka 2,76. Setelah implementasi NutriScan, nilainya meningkat menjadi 3,23. Kecepatan respons juga mengalami kenaikan dari 2,73 menjadi 3,28. Tingkat kepuasan siswa meningkat dari 2,97 menjadi 3,09. Sementara itu, kejelasan sistem dan frekuensi penyampaian keluhan juga menunjukkan tren positif. Analisis statistik memperlihatkan nilai signifikansi sebesar 0,010, lebih kecil dari batas standar 0,05. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah penggunaan NutriScan. Dengan kata lain, sistem QR-Code yang dikembangkan peneliti terbukti efektif meningkatkan respons keluhan siswa terhadap kualitas makanan Program Makan Bergizi Gratis.
Mendorong Transparansi dan Partisipasi Siswa
Penelitian ini tidak hanya menunjukkan manfaat teknologi dalam mempercepat proses pelaporan, tetapi juga memperkuat partisipasi siswa dalam pengawasan layanan gizi sekolah. Menurut para peneliti, NutriScan membantu mengurangi hambatan psikologis yang sering dialami siswa ketika ingin menyampaikan keluhan. Sistem digital memungkinkan pelaporan dilakukan dengan lebih cepat, fleksibel, dan relatif anonim. Ii Rahayu dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa NutriScan berfungsi bukan sekadar sebagai alat teknologi, melainkan juga sebagai instrumen strategis untuk membangun budaya komunikasi yang lebih terbuka antara siswa dan pengelola program. Keberadaan sistem ini berpotensi meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kualitas layanan makanan di sekolah. Selain itu, data yang terkumpul dapat digunakan sebagai dasar evaluasi untuk mencegah terulangnya kasus makanan tidak layak konsumsi.
Potensi Implementasi Lebih Luas
Keberhasilan NutriScan membuka peluang penerapan sistem serupa di berbagai sekolah yang menjalankan Program Makan Bergizi Gratis maupun program pelayanan publik lainnya. Di tengah transformasi digital sektor pendidikan dan layanan publik, penggunaan QR-Code dinilai sebagai solusi yang murah, mudah diterapkan, dan dapat menjangkau banyak pengguna. Jika diterapkan secara luas, sistem ini dapat membantu pemerintah, sekolah, dan penyedia layanan makanan memperoleh umpan balik yang lebih cepat sehingga perbaikan kualitas layanan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Profil Penulis
Ii Rahayu, S.Pd., M.Pd. merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang memiliki minat pada bidang teknologi pendidikan, inovasi pembelajaran digital, serta pengembangan sistem layanan berbasis teknologi di lingkungan pendidikan. Penelitian ini juga melibatkan Suci Yunda Nurhalimah dan Wulan Maulida, yang sama-sama berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia dan aktif dalam kajian pendidikan, teknologi digital, serta peningkatan kualitas layanan bagi peserta didik.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: NutriScan QR-Code in Improving Student Complaint Responsiveness Toward the Quality of the MBG Meal Program
Penulis: Ii Rahayu, Suci Yunda Nurhalimah, Wulan Maulida
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Volume dan Nomor: Vol. 4 No. 5
Tahun Publikasi: 2026

Posting Komentar

0 Komentar