Inflasi, Nilai Tukar, dan Suku Bunga Tekan Pertumbuhan Harga Saham Sektor Konsumsi

Ilustrasi by AI

PONTIANAK – Kondisi makroekonomi seperti inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD/IDR), dan suku bunga acuan Bank Indonesia terbukti memengaruhi pertumbuhan harga saham perusahaan sektor konsumsi di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Pontianak menemukan bahwa ketiga faktor ekonomi tersebut memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan harga saham perusahaan sektor konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020–2024. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan yang diukur melalui Return on Equity (ROE) mampu memperkuat daya tahan perusahaan terhadap tekanan inflasi dan fluktuasi nilai tukar. Hasil penelitian dipublikasikan dalam International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE) Volume 5 Nomor 3 Tahun 2026.

Temuan ini menjadi penting karena sektor konsumsi merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Kinerja harga saham sektor ini tidak hanya dipengaruhi kondisi internal perusahaan, tetapi juga sangat sensitif terhadap perubahan indikator ekonomi makro yang memengaruhi daya beli masyarakat, biaya produksi, dan keputusan investasi para pelaku pasar.

Penelitian dilakukan dengan menganalisis data perusahaan sektor konsumsi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020 hingga 2024. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Moderated Regression Analysis (MRA) untuk mengukur pengaruh inflasi, nilai tukar USD/IDR, dan BI 7-Day Reverse Repo Rate terhadap pertumbuhan harga saham, serta menguji peran ROE sebagai variabel moderasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi, nilai tukar USD/IDR, dan BI 7-Day Reverse Repo Rate secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan harga saham. Ketiga variabel tersebut memiliki hubungan negatif, yang berarti peningkatan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, atau kenaikan suku bunga acuan cenderung menekan pertumbuhan harga saham perusahaan sektor konsumsi.

Temuan Utama Penelitian

  • Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan harga saham.
  • Nilai tukar USD/IDR berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan harga saham.
  • BI 7-Day Reverse Repo Rate berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan harga saham.
  • Return on Equity (ROE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan harga saham.
  • ROE mampu memoderasi pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan harga saham.
  • ROE mampu memoderasi pengaruh nilai tukar USD/IDR terhadap pertumbuhan harga saham.
  • ROE tidak mampu memoderasi pengaruh BI 7-Day Reverse Repo Rate terhadap pertumbuhan harga saham.
  • Model penelitian menjelaskan 73,2 persen variasi pertumbuhan harga saham setelah memasukkan ROE sebagai variabel moderasi.

Penelitian menjelaskan bahwa inflasi yang tinggi meningkatkan harga bahan baku dan biaya operasional perusahaan. Di sisi lain, daya beli masyarakat cenderung menurun sehingga penjualan perusahaan dapat tertekan. Kondisi tersebut menyebabkan prospek perusahaan dinilai kurang menarik oleh investor, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan pertumbuhan harga saham.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memberikan tekanan pada perusahaan sektor konsumsi, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya impor meningkatkan beban produksi dan berpotensi menurunkan profitabilitas perusahaan. Selain itu, ketidakstabilan nilai tukar dapat meningkatkan risiko investasi sehingga memengaruhi minat investor terhadap saham sektor konsumsi.

Sementara itu, kenaikan BI 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan Bank Indonesia mendorong peningkatan biaya pinjaman bagi perusahaan dan masyarakat. Dalam situasi tersebut, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen investasi yang lebih aman seperti deposito, sehingga permintaan terhadap saham menurun dan pertumbuhan harga saham ikut tertekan.

Penelitian juga menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi lebih mampu menghadapi tekanan ekonomi. ROE yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari modal yang dimiliki. Kondisi ini meningkatkan kepercayaan investor dan membantu perusahaan mempertahankan pertumbuhan harga saham meskipun menghadapi tekanan inflasi atau pelemahan nilai tukar.

Menurut peneliti, hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Selain memperhatikan kondisi ekonomi makro, investor juga perlu memperhatikan tingkat profitabilitas perusahaan sebagai indikator kemampuan perusahaan menghadapi perubahan ekonomi. Bagi perusahaan, menjaga kinerja keuangan dan profitabilitas menjadi strategi penting untuk mempertahankan kepercayaan pasar.

Peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan dengan menambahkan faktor-faktor lain seperti Earnings per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER), Current Ratio (CR), pertumbuhan ekonomi, harga komoditas, dan tingkat pengangguran agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan harga saham di Indonesia.

Profil Penulis

  • Dio Febrianto - Universitas Muhammadiyah Pontianak
  • Fuad Ramdhan Ryanto - Universitas Muhammadiyah Pontianak

Sumber Penelitian

The Effect of Inflation, USD/IDR Exchange Rate, and BI 7-Day Reverse Repo Rate on Stock Price Growth with Return on Equity as a Moderating Variable in Consumer Sector Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange. International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE), Vol. 5 No. 3, 2026, hlm. 961–976.

DOI: Tercantum pada publikasi resmi jurnal.

URL Jurnal: https://journalijbae.my.id/index.php/ijbae


Posting Komentar

0 Komentar