Eastern Samar, Filipina — Menjadi guru di sekolah terpencil bukan sekadar soal mengajar di ruang kelas. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa guru sekolah dasar yang ditempatkan di daerah terpencil di Eastern Samar harus menghadapi keterbatasan fasilitas, akses transportasi yang sulit, hingga tekanan emosional yang tinggi. Meski demikian, mereka tetap menunjukkan daya juang yang kuat demi memastikan anak-anak di daerah terisolasi tetap mendapatkan pendidikan.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal East Asian Journal of Multidisciplinary Research tahun 2026 oleh April Jean D. Salazar, Roxanne A. Ogale, Daisyvic A. De Leon, dan Irish Catherine D. Llego dari Eastern Samar State University.
Penelitian ini menjadi penting karena guru adalah ujung tombak pendidikan, terutama di wilayah-wilayah yang secara geografis sulit dijangkau. Di Filipina, masih banyak sekolah yang berada di daerah pegunungan, pulau kecil, atau kawasan yang minim infrastruktur, sehingga tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga bertahan dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Salazar dan tim menggali pengalaman langsung empat guru sekolah dasar yang mengajar di wilayah terpencil Eastern Samar. Melalui wawancara mendalam, penelitian ini menelusuri bagaimana mereka menjalani rutinitas harian, menghadapi tantangan, menjaga motivasi, dan membangun strategi bertahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama yang paling sering dihadapi adalah minimnya bahan ajar, keterbatasan teknologi, jaringan internet yang lemah, dan kondisi transportasi yang berat.
Beberapa guru mengaku harus berjalan jauh, melewati jalan berlumpur, atau menghadapi cuaca buruk hanya untuk sampai ke sekolah. Dalam beberapa kasus, mereka juga harus mengajar beberapa tingkat kelas sekaligus dalam satu ruangan karena keterbatasan tenaga pengajar.
Di tengah kondisi itu, guru dituntut untuk sangat fleksibel. Mereka harus memodifikasi metode pembelajaran sesuai kebutuhan siswa, menggunakan bahan lokal sebagai media belajar, dan mengatur strategi agar semua siswa dari berbagai tingkatan tetap bisa mengikuti pelajaran.
Salah satu guru dalam penelitian ini menceritakan bagaimana ia harus mengombinasikan kerja kelompok, pembelajaran mandiri, dan tutor sebaya agar kelas multi-level tetap berjalan efektif.
Namun di balik berbagai kesulitan itu, ada pengalaman yang justru memperkuat semangat mereka.
Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari seorang guru yang mengajar siswi kelas 2 berusia 15 tahun yang sudah memiliki anak, tetapi tetap berjuang menyelesaikan sekolah dasar. Bagi guru tersebut, pengalaman itu mengubah cara pandangnya tentang pentingnya pendidikan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa motivasi guru banyak datang dari perkembangan siswa, dukungan orang tua, serta hubungan yang kuat dengan komunitas sekitar.
Ketika melihat murid berkembang, menjadi lebih percaya diri, dan berhasil menyelesaikan pendidikan, para guru merasa perjuangan mereka terbayar.
Selain itu, dukungan sosial menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan mental guru. Rekan kerja, kepala sekolah, keluarga, dan masyarakat setempat menjadi sumber semangat utama yang membantu mereka tetap bertahan.
Untuk menghadapi tekanan, para guru mengembangkan berbagai strategi bertahan seperti perencanaan yang matang, menjaga sikap positif, berolahraga, serta membangun fleksibilitas dalam menghadapi situasi tak terduga.
Menurut Salazar dan tim dari Eastern Samar State University, pengalaman ini menunjukkan bahwa mengajar di daerah terpencil bukan hanya tantangan profesional, tetapi juga perjalanan pembentukan karakter.
Temuan penelitian ini juga memperlihatkan bahwa sistem pendidikan perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap guru di daerah terpencil.
Peneliti merekomendasikan peningkatan distribusi bahan ajar, akses internet yang lebih baik, dukungan transportasi, pelatihan berkelanjutan, serta program kesejahteraan mental untuk guru.
Selain itu, program mentoring bagi guru baru dinilai sangat penting agar mereka lebih siap menghadapi realitas mengajar di daerah yang sulit dijangkau.
Di tengah kesenjangan pendidikan yang masih menjadi persoalan di banyak negara berkembang, studi ini menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga oleh kondisi kerja guru yang menjalankannya setiap hari.
Guru di sekolah terpencil mungkin bekerja jauh dari sorotan, tetapi peran mereka tetap menjadi fondasi penting bagi masa depan generasi muda.
0 Komentar