Penelitian Ungkap Rahasia Humor dalam Kanal YouTube 7 Comedy Melalui Analisis Bahasa
FORMOSA NEWS – Humor dalam tayangan komedi ternyata tidak lahir secara spontan semata. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rena Ramadhani Barus, Prof. Dr. I Nengah Suandi, dan Dr. I Komang Sugi Partawan dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) mengungkap bahwa keberhasilan humor dalam kanal YouTube 7 Comedy, khususnya episode Merayakan 4 Tahun Berkarya Lapor Pak!, dibangun melalui strategi bahasa yang terstruktur. Hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa tindak tutur ilokusi memainkan peran penting dalam menciptakan humor, menjaga alur percakapan, dan menarik perhatian penonton di media digital. Temuan ini menjadi relevan di tengah pesatnya perkembangan platform digital seperti YouTube yang kini menjadi salah satu sumber hiburan utama masyarakat Indonesia. Di balik percakapan yang terlihat santai dan menghibur, terdapat pola komunikasi yang membantu membangun interaksi yang efektif antara para pemain dan audiens. Menurut para peneliti, memahami penggunaan bahasa dalam program komedi dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai cara komunikasi modern bekerja di era media digital.
YouTube Menjadi Ruang Baru untuk Kajian Bahasa
Perkembangan media sosial dan platform berbasis video telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hiburan. Salah satu kanal yang berhasil menarik perhatian publik adalah 7 Comedy, yang memiliki hampir satu juta pelanggan dan dikenal melalui berbagai tayangan komedi populer. Program Lapor Pak! menjadi salah satu konten unggulan yang memadukan humor, improvisasi, sindiran sosial, dan percakapan spontan. Karakter-karakter dalam program tersebut tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggunakan bahasa untuk menghibur, mengkritik, mengajak, bahkan menyindir secara halus. Fenomena inilah yang mendorong para peneliti untuk menganalisis bagaimana tindak tutur ilokusi digunakan dalam membangun humor yang efektif di media digital.
Menganalisis Percakapan dalam Episode Lapor Pak!
Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap video Merayakan 4 Tahun Berkarya Lapor Pak! yang diunggah di kanal YouTube 7 Comedy. Tim peneliti menonton video secara berulang, mencatat dialog yang muncul, kemudian mengelompokkan setiap tuturan berdasarkan jenis dan fungsinya. Analisis dilakukan menggunakan teori pragmatik yang menjelaskan bagaimana seseorang tidak hanya berbicara untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk mencapai tujuan tertentu melalui ucapannya. Dari keseluruhan tayangan yang dianalisis, peneliti menemukan 206 tuturan ilokusi yang terdiri dari berbagai kategori.
Tuturan Asertif Menjadi Bentuk Komunikasi Paling Dominan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur asertif merupakan jenis tuturan yang paling sering digunakan dalam program tersebut. Peneliti menemukan 85 tuturan asertif atau sekitar 41,26 persen dari seluruh data yang dianalisis. Tuturan asertif mencakup pernyataan, penjelasan, laporan, pengakuan, pengumuman, dan penyampaian informasi. Dominasi jenis tuturan ini menunjukkan bahwa humor dalam Lapor Pak! banyak dibangun melalui percakapan yang menjelaskan situasi tertentu sebelum menghasilkan respons lucu dari karakter lain. Selain tuturan asertif, peneliti juga menemukan:
-Tuturan direktif: 48 tuturan (23,30 persen)
-Tuturan ekspresif: 43 tuturan (20,87 persen)
-Tuturan deklaratif: 16 tuturan (7,77 persen)
-Tuturan komisif: 14 tuturan (6,80 persen)
Tuturan direktif berupa perintah, ajakan, permintaan, dan saran menjadi elemen penting dalam menggerakkan alur percakapan. Sementara itu, tuturan ekspresif digunakan untuk menyampaikan pujian, kritik, keluhan, rasa terkejut, atau emosi lainnya yang memperkuat efek komedi.
Kolaborasi Antar Tokoh Menjadi Kunci Humor
Selain jenis tuturan, penelitian juga menganalisis fungsi dari setiap tuturan yang digunakan para pemain. Hasilnya menunjukkan bahwa fungsi kolaboratif menjadi fungsi yang paling dominan dalam percakapan program Lapor Pak!. Dari 124 fungsi tuturan yang dianalisis, peneliti menemukan:
-Fungsi kolaboratif: 51 tuturan (41,12 persen)
-Fungsi menyenangkan (convivial): 33 tuturan (26,61 persen)
-Fungsi kompetitif: 20 tuturan (16,12 persen)
-Fungsi konflik: 20 tuturan (16,12 persen)
Fungsi kolaboratif mencakup aktivitas mengumumkan, melaporkan, menjelaskan, dan menyampaikan informasi. Fungsi ini membantu menjaga kesinambungan percakapan sehingga humor dapat berkembang secara alami. Menurut para peneliti, keberhasilan humor dalam Lapor Pak! tidak hanya bergantung pada satu tokoh yang melontarkan lelucon, tetapi pada kemampuan seluruh pemain untuk saling mendukung dan merespons percakapan secara spontan. Interaksi yang terbangun secara kolektif inilah yang menghasilkan situasi lucu dan menarik bagi penonton.
Humor Menjadi Sarana Kritik dan Sindiran Sosial
Penelitian juga menemukan bahwa humor dalam program tersebut sering digunakan sebagai media penyampaian kritik sosial dan sindiran. Tuturan yang tampak seperti keluhan, larangan, atau teguran sering kali tidak dimaksudkan sebagai konflik serius, melainkan sebagai strategi humor yang memancing tawa audiens. Menurut Rena Ramadhani Barus dan tim dari Universitas Pendidikan Ganesha, makna suatu tuturan sangat dipengaruhi oleh konteks percakapan. Kalimat yang sama dapat berfungsi sebagai informasi, sindiran, kritik, atau humor tergantung pada situasi dan hubungan antarpenutur. Temuan ini memperkuat kajian pragmatik yang menyatakan bahwa pemahaman bahasa tidak hanya bergantung pada kata-kata yang diucapkan, tetapi juga pada konteks sosial yang melatarbelakanginya.
Kontribusi bagi Dunia Pendidikan dan Media Digital
Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu linguistik, komunikasi, dan kajian media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten hiburan digital dapat menjadi objek kajian akademik yang kaya karena mencerminkan praktik komunikasi yang berkembang di masyarakat modern. Bagi dunia pendidikan, temuan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran pragmatik dan analisis bahasa. Sementara bagi kreator konten, penelitian ini menunjukkan bahwa humor yang efektif tidak hanya bergantung pada lelucon semata, tetapi juga pada kemampuan membangun komunikasi yang kolaboratif, kontekstual, dan mudah dipahami audiens. Para peneliti menegaskan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam menciptakan pengalaman hiburan yang menarik. Di balik setiap lelucon yang membuat penonton tertawa, terdapat strategi komunikasi yang membantu membangun makna, hubungan sosial, dan keterlibatan audiens.
Profil Penulis
Rena Ramadhani Barus merupakan peneliti dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali, yang memiliki minat penelitian di bidang pragmatik, analisis wacana, komunikasi digital, dan penggunaan bahasa dalam media sosial.
Prof. Dr. I Nengah Suandi adalah guru besar dan akademisi di Universitas Pendidikan Ganesha dengan keahlian di bidang linguistik, pragmatik, sosiolinguistik, dan pendidikan bahasa.
Dr. I Komang Sugi Partawan merupakan dosen dan peneliti di Universitas Pendidikan Ganesha yang fokus pada kajian bahasa, analisis komunikasi, dan penelitian media digital.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Analysis of Illocutionary Speech Acts on the 7 Comedy YouTube Channel
Penulis: Rena Ramadhani Barus, I Nengah Suandi, I Komang Sugi Partawan
Afiliasi: Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali, Indonesia
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS)
Volume dan Nomor: Vol. 4 No. 5
Tahun Publikasi: 2026

0 Komentar