Penelitian ini menyoroti perubahan tren riset manajemen guru di dunia sepanjang 2020–2026. Selama beberapa dekade, manajemen guru lebih banyak dipahami sebagai urusan birokrasi seperti rekrutmen, penempatan, dan evaluasi administratif. Namun, perkembangan pendidikan global dan dampak pandemi memperlihatkan bahwa kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kesejahteraan guru, kompetensi digital, motivasi kerja, serta dukungan institusi tempat mereka bekerja.
Andi Nur Qalbi dan tim menilai literatur sebelumnya masih terfragmentasi karena banyak penelitian hanya membahas satu aspek manajemen guru secara terpisah. Karena itu, mereka mengembangkan perspektif yang lebih menyeluruh dengan menggabungkan kajian sistematis dan pemetaan bibliometrik untuk melihat hubungan antartema penelitian secara global sekaligus mengaitkannya dengan konteks Indonesia.
Penelitian dilakukan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik. Data dikumpulkan dari tiga basis data akademik internasional, yakni Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Dari 350 artikel awal yang ditemukan, peneliti melakukan penyaringan bertahap menggunakan protokol PRISMA hingga menghasilkan 50 artikel yang dinilai paling relevan dan berkualitas tinggi untuk dianalisis.
Pendekatan bibliometrik memungkinkan peneliti memetakan perkembangan pengetahuan berdasarkan pola publikasi, hubungan kata kunci, serta tema-tema yang paling dominan dalam riset manajemen guru dunia. Dengan bantuan perangkat lunak VOSviewer, penelitian ini kemudian menggambarkan bagaimana isu manajemen guru berkembang dan saling terhubung.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan jumlah publikasi tentang manajemen guru selama periode 2020–2026, terutama setelah 2022. Lonjakan ini berkaitan erat dengan dampak pandemi yang memaksa sistem pendidikan melakukan penyesuaian besar-besaran.
Beberapa temuan utama penelitian antara lain:
- Sekitar 60 persen publikasi global berfokus pada transformasi digital dan kompetensi guru.
- Sekitar 25 persen penelitian menekankan isu kesejahteraan guru dan retensi tenaga pendidik.
- Fokus riset bergeser dari persoalan administratif menuju isu burnout, kesehatan mental, kompetensi digital, dan strategi mempertahankan guru di profesinya.
Pemetaan bibliometrik juga mengidentifikasi empat klaster besar yang membentuk arah riset manajemen guru dunia.
Klaster pertama berkaitan dengan pengembangan profesional dan kebijakan guru. Tema ini menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutan, kepemimpinan instruksional, serta komunitas belajar profesional untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
Klaster kedua berpusat pada retensi dan motivasi guru. Penelitian global menunjukkan bahwa guru bertahan bukan hanya karena faktor gaji, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan kerja, otonomi profesional, dukungan psikologis, dan peluang pengembangan karier.
Klaster ketiga menyoroti transformasi digital dan adaptasi pascapandemi. Guru kini dituntut mampu mengelola pembelajaran daring, menggunakan teknologi pendidikan, serta beradaptasi dengan kebijakan yang berubah cepat. Namun, proses digitalisasi juga memunculkan tantangan baru berupa kesenjangan infrastruktur dan meningkatnya beban kerja.
Klaster keempat membahas kesejahteraan dan burnout guru. Tema ini berkembang pesat karena banyak guru di berbagai negara melaporkan tingkat stres tinggi akibat tekanan administratif, perubahan kurikulum, dan tuntutan integrasi teknologi.
Andi Nur Qalbi dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa manajemen guru modern harus dipahami sebagai sistem yang saling terhubung. Berdasarkan sintesis penelitian global tersebut, mereka menawarkan model integratif manajemen guru yang terdiri dari empat komponen utama: rekrutmen berbasis kualitas, distribusi guru yang adil, pengembangan profesional berkelanjutan, serta kesejahteraan dan retensi guru.
Menurut peneliti dari Universitas Negeri Makassar itu, pendekatan parsial tidak lagi memadai. Kebijakan yang hanya fokus pada pelatihan atau digitalisasi tanpa memperhatikan kesejahteraan guru berisiko menghasilkan dampak jangka pendek dan tidak berkelanjutan.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi Indonesia. Sistem pendidikan nasional masih menghadapi persoalan distribusi guru, kesenjangan infrastruktur digital, serta tingginya beban administratif yang sering mengurangi fokus guru pada kegiatan pembelajaran.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan Indonesia perlu bergerak menuju pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Pengurangan pekerjaan administratif, penguatan pelatihan berkelanjutan, serta dukungan terhadap kesehatan mental guru dinilai menjadi langkah penting.
Studi ini juga mengingatkan bahwa adopsi kebijakan global tidak dapat dilakukan secara langsung tanpa penyesuaian lokal. Negara maju seperti Singapura dan Finlandia lebih fokus pada kualitas dan retensi guru melalui jalur karier yang kuat dan dukungan institusional. Sebaliknya, negara berkembang masih harus menghadapi tantangan dasar seperti pemerataan tenaga pendidik dan keterbatasan sarana.
Bagi Indonesia yang memiliki budaya kolektif dan keragaman geografis, kebijakan manajemen guru dinilai perlu memanfaatkan kekuatan kolaborasi sosial dan komunitas belajar, bukan sekadar menyalin model luar negeri.
Profil Penulis
Andi Nur Qalbi merupakan akademisi dan peneliti dari Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Makassar dengan fokus kajian pada manajemen pendidikan, kebijakan pendidikan, dan pengembangan tenaga pendidik. Penelitian ini juga melibatkan Ardiansyah dan Anshar dari Universitas Negeri Makassar yang memiliki perhatian pada kepemimpinan pendidikan dan penguatan sistem pendidikan berkelanjutan.
Sumber Penelitian
Qalbi, A. N., Ardiansyah, & Anshar. (2026). Global Trends in Teacher Management: Evidence from a Global Bibliometric Systematic Review (2020–2026). Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 5, 543–556. DOI: 10.55927/ijar.v5i5.16496.
0 Komentar