Tantangan yang Dihadapi UMKM Lokal dalam Memenuhi Standar Kualitas Internasional untuk Ekspor

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Malang - UMKM Keripik Lokal Terkendala Standar Ekspor: Biaya Sertifikasi hingga Teknologi Jadi Hambatan. Penelitian yang dilakukan oleh Gleydis Harwida bersama Sudarmiatin, Heri Pratikto dari Universitas Negeri Malang, dan Evita Novilia dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa pelaku UMKM sebenarnya sudah memahami standar ekspor, namun kesulitan dalam implementasi.

Penelitian yang dilakukan oleh Gleydis Harwida bersama Sudarmiatin, Heri Pratikto dari Universitas Negeri Malang, dan Evita Novilia dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar menyoroti bahwa sektor UMKM berperan besar dalam perekonomian nasional dan memiliki potensi ekspor tinggi, khususnya produk olahan pangan lokal seperti keripik singkong, talas, dan ubi jalar.

Peran Jaringan dan Strategi Adaptasi
Meski menghadapi berbagai hambatan, UMKM tidak sepenuhnya tanpa peluang. Penelitian ini menemukan bahwa keberadaan agregator ekspor atau perantara bisnis sangat membantu pelaku usaha dalam menjalin koneksi dengan pembeli luar negeri. Jaringan ini membuka akses pasar sekaligus memberikan informasi penting terkait standar dan preferensi konsumen global.
Pelaku UMKM juga mulai melakukan berbagai strategi peningkatan kualitas, seperti:
  • Memilih bahan baku berkualitas tinggi.
  • Mengontrol proses produksi secara lebih ketat.
  • Meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap.
Langkah-langkah ini menunjukkan adanya upaya adaptasi untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Tiga Hambatan Utama UMKM Menuju Ekspor
Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah kendala utama yang menghambat UMKM dalam memenuhi standar internasional:
  • Biaya Sertifikasi yang Tinggi. Proses sertifikasi seperti izin BPOM, uji laboratorium, dan pengujian daya tahan produk membutuhkan biaya besar. Bagi UMKM dengan modal terbatas, ini menjadi beban signifikan yang seringkali menyebabkan penundaan proses ekspor.
  • Keterbatasan Teknologi Produksi. Peralatan produksi yang masih sederhana membuat efisiensi rendah dan kualitas produk sulit dijaga konsistensinya. Faktor seperti suhu penggorengan, kualitas bahan baku, dan proses produksi sangat memengaruhi hasil akhir produk.
  • Keterbatasan Modal Usaha. Modal menjadi faktor krusial untuk meningkatkan kapasitas produksi, membeli teknologi baru, serta memenuhi persyaratan legalitas ekspor. Tanpa dukungan finansial yang memadai, UMKM sulit berkembang ke pasar global.
Selain itu, konsistensi kualitas produk juga menjadi tantangan tersendiri. Variasi bahan baku dan proses produksi dapat memengaruhi rasa, tekstur, dan daya tahan produk, yang semuanya merupakan faktor penting dalam pasar ekspor.

Pemahaman Ada, Implementasi Terkendala
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku UMKM sudah memiliki pemahaman yang cukup baik terkait standar kualitas internasional. Mereka menyadari pentingnya sertifikasi seperti BPOM, uji kandungan gizi, serta uji daya simpan produk sebelum dipasarkan ke luar negeri. Namun, pemahaman ini belum diikuti dengan kemampuan implementasi. Hambatan utama justru terletak pada keterbatasan sumber daya, baik dari sisi finansial maupun teknologi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan kapasitas pelaku usaha.

Dampak dan Implikasi bagi Kebijakan
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa tantangan UMKM bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, diperlukan intervensi dari berbagai pihak.
Peneliti dari Universitas Negeri Malang menekankan bahwa dukungan pemerintah sangat krusial, terutama dalam:
  • Penyediaan akses pembiayaan yang terjangkau.
  • Subsidi atau bantuan biaya sertifikasi.
  • Pelatihan teknis dan pendampingan ekspor.
  • Penyederhanaan proses perizinan.
Selain itu, peningkatan teknologi produksi dan penguatan rantai pasok juga menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi.

Profil Penulis
Gleydis Harwida
adalah peneliti di bidang ekonomi dan bisnis dari Universitas Negeri Malang, dengan fokus pada pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif.
Dr. Sudarmiatin, M.Pd., Dr. Heri Pratikto, M.Si., yang juga merupakan akademisi di Universitas Negeri Malang dengan fokus pada pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif.
Evita Novilia, S.E., M.M. dari Universitas Nahdlatul Ulama Blitar yang memiliki keahlian di bidang manajemen usaha kecil dan menengah.

Sumber Penelitian
Gleydis Harwida, 
Sudarmiatin, Heri Pratikto, Evita Novilia (2026), “The Challenges Faced by Local MSMEs in Meeting International Quality Standards for Export”, Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5, No. 4 tahun 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i4.44
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar