Riset yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM) ini menyoroti bagaimana kelompok tani tidak hanya berperan sebagai produsen bahan baku, tetapi juga menjadi aktor penting dalam strategi internasionalisasi komoditas berbasis hasil hutan bukan kayu. Temuan penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa pelaku usaha skala desa dapat terhubung dengan pasar internasional tanpa harus bergantung penuh pada perusahaan besar atau jalur ekspor formal.
Biji genitri selama ini dikenal memiliki nilai ekonomi dan spiritual, terutama di pasar India dan beberapa negara Asia. Permintaan global terhadap produk alami dan berkelanjutan membuat komoditas ini semakin diminati. Namun, pelaku usaha kecil di sektor agribisnis masih menghadapi banyak hambatan seperti keterbatasan akses pasar, teknologi, modal, hingga standar kualitas internasional.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Desa Kedemangan, salah satu sentra produksi genitri di Blitar. Tim peneliti melakukan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap ketua kelompok tani Sucipto serta anggota kelompok tani Tedy Nawala dan Mardian. Data dianalisis menggunakan metode thematic analysis untuk menemukan pola strategi internasionalisasi yang berkembang di lapangan.
Hasil penelitian menemukan empat strategi utama yang menjadi fondasi keberhasilan kelompok tani dalam memasuki pasar ekspor, yaitu:
- pemasaran multisaluran (multichannel marketing)
- peran diaspora sebagai agen pasar internasional
- komunikasi digital untuk membangun kepercayaan
- penguatan kapasitas produksi dan kualitas produk
Salah satu temuan paling menarik adalah peran diaspora Indonesia di luar negeri. Para pekerja migran asal Kedemangan yang bekerja di Hong Kong dan India menjadi penghubung awal antara petani genitri dengan importir internasional. Mereka memperkenalkan produk kepada relasi bisnis di negara tempat bekerja, sekaligus membantu menjelaskan karakteristik produk lokal kepada calon pembeli.
Ketua kelompok tani, Sucipto, menjelaskan bahwa hubungan ekspor pertama kali terbentuk melalui pekerja migran yang membawa contoh produk dan memperkenalkannya kepada importir lokal. Setelah importir tertarik, kelompok tani mulai mengirim sampel kecil untuk pengujian kualitas sebelum transaksi berlanjut secara rutin.
Menurut penelitian ini, diaspora memiliki “double embeddedness” atau keterikatan ganda. Mereka memahami budaya dan kebutuhan pasar luar negeri sekaligus memahami kondisi produksi di desa asal. Peran ini membuat diaspora mampu mengurangi ketidakpastian dalam transaksi lintas negara dan membangun kepercayaan awal dengan pembeli internasional.
Selain mengandalkan jaringan diaspora, kelompok tani juga memanfaatkan teknologi digital sebagai alat utama komunikasi bisnis. WhatsApp, WeChat, dan Facebook digunakan untuk mengirim foto, video, dan deskripsi produk kepada calon pembeli. Strategi visual ini terbukti efektif meningkatkan kepercayaan importir terhadap kualitas produk.
Tedy Nawala, anggota kelompok tani, mengatakan bahwa mereka rutin mengirim dokumentasi proses panen dan penyortiran biji genitri kepada calon pembeli. Transparansi tersebut membuat importir lebih yakin terhadap kualitas dan konsistensi pasokan produk dari Kedemangan.
Penelitian juga menemukan bahwa promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) menjadi faktor penting dalam memperluas pasar. Importir yang puas dengan kualitas produk merekomendasikan genitri Kedemangan kepada relasi bisnis lain. Strategi ini memungkinkan kelompok tani mendapatkan pelanggan baru tanpa biaya promosi besar.
Dari sisi produksi, kelompok tani di Kedemangan mampu menghasilkan sekitar 500 kilogram biji genitri per tahun. Produk disortir berdasarkan ukuran dan kualitas sebelum dikirim ke pembeli internasional. Sistem koordinasi antaranggota kelompok tani membantu menjaga kontinuitas pasokan yang menjadi syarat penting dalam rantai nilai global.
Peneliti menilai kelompok tani telah melakukan peningkatan kualitas (product upgrading) dan perbaikan proses produksi (process upgrading), meskipun belum masuk ke tahap pengolahan lanjutan atau penguasaan distribusi ekspor secara mandiri. Dalam rantai nilai global, posisi kelompok tani masih bergantung pada pembeli internasional untuk akses pasar dan informasi ekspor.
Secara ekonomi, ekspor genitri memberikan tambahan pendapatan nyata bagi masyarakat desa. Penghasilan dari penjualan biji genitri digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, hingga modal pertanian lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa produk hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sumber pendapatan alternatif yang memperkuat ketahanan ekonomi pedesaan.
Penelitian juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dan lembaga pendamping dalam memperkuat kapasitas kelompok tani. Pelatihan manajemen kualitas, sertifikasi produk, hingga akses logistik dinilai penting agar kelompok tani dapat naik kelas dan memiliki daya saing lebih kuat di pasar internasional. Selain itu, pemanfaatan platform digital dan marketplace internasional masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Aris Sunandes dan tim peneliti menyimpulkan bahwa internasionalisasi berbasis komunitas dapat menjadi model baru pengembangan UMKM agribisnis desa. Strategi berbasis jaringan sosial, diaspora, dan teknologi digital terbukti mampu membuka akses pasar global tanpa memerlukan modal besar. Model ini dinilai berpotensi diterapkan pada komoditas lokal lain di berbagai daerah Indonesia.
Profil Penulis
Aris Sunandes merupakan peneliti dari Universitas Negeri Malang yang berfokus pada kajian internasionalisasi UMKM, rantai nilai global, dan pengembangan agribisnis berbasis komunitas. Penelitian ini juga melibatkan Sudarmiatin dan Heri Pratikto dari Universitas Negeri Malang yang memiliki keahlian di bidang manajemen, ekonomi, dan pengembangan usaha berbasis masyarakat.
Sumber Penelitian
Sunandes, Aris., Sudarmiatin., & Heri Pratikto. 2026. Internationalization Strategy of Farmer Groups in the Export Value Chain of Elaeocarpus Ganitrus Seeds. Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Vol. 5 No. 2, halaman 447–462. DOI: https://doi.org/10.55927/ajabm.v5i2.47, URL: https://journalajabm.my.id/index.php/ajabm
0 Komentar