Riset Ungkap Boikot Produk Pengaruhi Keputusan Konsumen, Faktor Religiusitas Tidak Selalu Menentukan

Ilustrasi by AI

Malang — Penelitian yang dilakukan oleh Marsudi dan Rahmad Wijaya dari Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2026 mengungkap bahwa niat boikot memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen, khususnya pada produk makanan cepat saji. Namun, faktor religiusitas yang selama ini dianggap kuat ternyata tidak selalu mampu memperkuat keputusan tersebut. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal East Asian Journal of Multidisciplinary Research.

Temuan ini menjadi relevan di tengah maraknya gerakan boikot global, terutama terhadap produk yang dikaitkan dengan isu politik dan kemanusiaan. Di Indonesia, fenomena boikot semakin menguat seiring meningkatnya solidaritas masyarakat terhadap konflik internasional, termasuk isu Palestina.

Penelitian ini berangkat dari perubahan perilaku konsumen modern yang semakin sadar terhadap nilai sosial, politik, dan lingkungan dalam menentukan pilihan konsumsi. Di sisi lain, industri makanan cepat saji terus berkembang pesat, dengan nilai pasar global diproyeksikan mencapai lebih dari 800 miliar dolar AS pada 2026.

Dalam kondisi tersebut, para peneliti mencoba menjawab pertanyaan penting: apakah nilai religius seseorang benar-benar memengaruhi keputusan membeli atau memboikot suatu produk?

Studi ini menggunakan pendekatan kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui survei terhadap konsumen makanan cepat saji di wilayah Malang, kemudian dianalisis menggunakan model statistik untuk melihat hubungan antara niat boikot, religiusitas, dan keputusan pembelian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa niat boikot terbukti berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Konsumen yang memiliki kecenderungan untuk memboikot suatu produk cenderung lebih tegas dalam menentukan pilihan, baik untuk membeli maupun menghindari produk tertentu.

Namun, hasil yang cukup mengejutkan muncul pada variabel religiusitas. Penelitian ini menemukan bahwa religiusitas tidak mampu memperkuat hubungan antara niat boikot dan keputusan pembelian. Artinya, meskipun seseorang memiliki tingkat religiusitas tinggi, hal tersebut tidak secara langsung membuat mereka lebih konsisten dalam keputusan konsumsi berbasis boikot.

Peneliti menjelaskan bahwa fenomena ini dapat terjadi karena karakteristik responden yang didominasi oleh generasi muda. Kelompok ini cenderung lebih fleksibel dalam menentukan pilihan konsumsi, terutama ketika dipengaruhi oleh tren, harga, dan popularitas merek di media sosial.

Selain itu, dalam industri makanan cepat saji, faktor seperti rasa, harga, dan citra merek tetap menjadi pertimbangan utama konsumen. Dalam banyak kasus, faktor-faktor tersebut lebih dominan dibandingkan pertimbangan religius dalam keputusan pembelian.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa gerakan boikot dapat memengaruhi persepsi terhadap merek. Boikot berpotensi menurunkan citra merek dan loyalitas konsumen, terutama terhadap produk internasional. Di sisi lain, media sosial memainkan peran besar dalam menyebarkan informasi dan membentuk opini publik terkait produk yang diboikot.

Marsudi dari Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan bahwa perusahaan perlu memahami dinamika ini secara lebih mendalam. Menurutnya, strategi pemasaran tidak cukup hanya menekankan nilai religius, tetapi juga harus mempertimbangkan faktor emosional, sosial, dan tren yang memengaruhi konsumen.

Implikasi penelitian ini cukup luas, terutama bagi pelaku bisnis dan pembuat kebijakan. Perusahaan disarankan untuk lebih responsif terhadap isu sosial dan menjaga komunikasi yang transparan dengan konsumen. Selain itu, edukasi konsumen mengenai produk juga menjadi penting untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan publik.

Bagi pemerintah, hasil penelitian ini menunjukkan perlunya kebijakan yang mendukung perlindungan konsumen, terutama dalam menghadapi praktik pemasaran yang tidak etis seperti iklan palsu atau manipulasi informasi produk.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa keputusan konsumen tidak hanya dipengaruhi oleh nilai moral atau religius, tetapi juga oleh faktor praktis dan psikologis yang lebih kompleks.

Profil Penulis:
Marsudi – Universitas Muhammadiyah Malang
Rahmad Wijaya – Universitas Muhammadiyah Malang

Sumber:
“Buy Now or Buy Later: Moderating Role of Religiosity in Purchasing Decisions”
East Asian Journal of Multidisciplinary Research, 2026

Posting Komentar

0 Komentar