Program pelatihan kerja yang dijalankan Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bogor terbukti efektif meningkatkan keterampilan dan kesiapan kerja masyarakat. Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Anida Safinatunajah, Gotfridus Goris Seran, dan Dede Syahrudin dari Universitas Djuanda pada 2026. Studi tersebut menunjukkan bahwa program pelatihan kerja BLK Kabupaten Bogor memperoleh skor efektivitas 4,47 dari 5 dan masuk kategori “Sangat Baik.”
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) ini menjadi penting karena Indonesia masih menghadapi tantangan pengangguran dan persaingan tenaga kerja yang semakin ketat. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka nasional berada pada angka 4,76 persen pada Februari 2025 dan sedikit menurun menjadi 4,74 persen pada November 2025. Namun di Kabupaten Bogor, angka pengangguran justru mencapai 7,34 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 7,69 persen.
Kondisi tersebut membuat pelatihan kerja menjadi semakin penting untuk membantu masyarakat memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja modern. Di tengah persaingan kerja yang semakin kompetitif, kemampuan teknis dan keterampilan praktis kini menjadi faktor utama yang menentukan peluang seseorang mendapatkan pekerjaan.
Balai Latihan Kerja Kabupaten Bogor sendiri merupakan lembaga pelatihan kerja milik pemerintah daerah yang menyediakan berbagai program pelatihan gratis bagi masyarakat. Program tersebut mencakup pelatihan teknis maupun nonteknis yang disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi dan industri di wilayah Bogor. Kebijakan pelatihan gratis menjadi daya tarik utama karena membuka akses lebih luas bagi masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi.
Penelitian Universitas Djuanda ini melibatkan 85 responden dari total 556 peserta pelatihan kerja tahun 2025. Peneliti menggunakan metode survei melalui kuesioner, observasi lapangan, dan wawancara terstruktur untuk mengukur efektivitas program. Evaluasi dilakukan menggunakan empat indikator efektivitas menurut Budiani, yaitu ketepatan sasaran program, sosialisasi program, tujuan program, dan pemantauan program.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh aspek program memperoleh penilaian sangat baik.
Dimensi dengan nilai tertinggi adalah Tujuan Program, dengan skor rata-rata 4,61. Mayoritas peserta menyatakan bahwa pelatihan yang mereka ikuti berhasil meningkatkan keterampilan kerja, memperluas pengetahuan, dan memperkuat kesiapan mereka untuk bekerja maupun membuka usaha mandiri.
Salah satu peserta pelatihan yang diwawancarai peneliti menyebut materi pelatihan disampaikan secara sistematis, mudah dipahami, dan langsung dipraktikkan melalui kegiatan hands-on sehingga peserta lebih cepat menguasai keterampilan yang diajarkan.
Sementara itu, dimensi Sosialisasi Program memperoleh skor 4,52. Peserta menilai informasi mengenai pelatihan, jadwal kegiatan, dan manfaat program disampaikan dengan cukup jelas dan mudah dipahami.
Dimensi Ketepatan Sasaran Program memperoleh skor 4,50. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis pelatihan yang diberikan dianggap sesuai dengan minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta. Banyak responden merasa pelatihan yang diikuti relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Meski demikian, penelitian juga menemukan bahwa aspek Pemantauan Program memperoleh skor paling rendah dibanding dimensi lainnya, yakni 4,26. Walaupun masih masuk kategori sangat baik, peneliti menilai pendampingan pasca pelatihan masih perlu diperkuat. Sebagian peserta berharap adanya bimbingan karier yang lebih intensif setelah pelatihan selesai.
Penelitian ini juga mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi BLK Kabupaten Bogor dalam menjalankan program pelatihan kerja.
Salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan anggaran dari pemerintah pusat. Kondisi ini membuat jumlah pelatihan yang dapat dibuka pada setiap tahap menjadi terbatas sehingga tidak semua masyarakat bisa mengikuti program secara bersamaan.
Selain itu, keterbatasan fasilitas dan infrastruktur juga menjadi kendala utama. Peneliti menemukan masih kurangnya ruang pelatihan dan peralatan praktik seperti mesin berat yang dibutuhkan dalam pelatihan keterampilan teknis. Kekurangan peralatan membuat peserta harus berbagi alat praktik sehingga mengurangi intensitas latihan.
Permasalahan lain adalah penyebaran informasi pelatihan yang masih terbatas pada media sosial seperti Instagram dan Facebook. Akibatnya, sebagian masyarakat, terutama yang memiliki keterbatasan akses internet, sulit memperoleh informasi mengenai pembukaan pendaftaran pelatihan.
BLK juga menghadapi keterbatasan informasi lowongan kerja dari perusahaan. Hal ini membuat proses penempatan kerja lulusan pelatihan belum optimal meskipun peserta sudah memiliki keterampilan yang cukup baik.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, BLK Kabupaten Bogor melakukan sejumlah langkah strategis sepanjang 2025. Salah satunya dengan menambah jumlah tahap pelatihan meskipun anggaran terbatas. BLK juga menjalin kerja sama dengan lembaga pelatihan kerja swasta dan lembaga tingkat desa yang memiliki fasilitas lebih memadai.
Selain itu, peserta pelatihan mendapatkan sertifikat berbasis Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang dapat meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja. BLK juga membentuk grup WhatsApp untuk membagikan informasi lowongan kerja dan mempermudah komunikasi antara peserta, instruktur, dan perusahaan.
Menurut Anida Safinatunajah dan tim peneliti dari Universitas Djuanda, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program pelatihan kerja dapat menjadi instrumen penting dalam mengurangi pengangguran dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Namun, peneliti menekankan pentingnya penguatan pendampingan pasca pelatihan, perluasan jaringan industri, dan pemerataan akses informasi agar manfaat program semakin optimal.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa pelatihan kerja tidak hanya berkaitan dengan peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga berhubungan dengan kesiapan peserta memasuki dunia kerja yang terus berubah akibat perkembangan ekonomi dan teknologi.
Profil Penulis
Anida Safinatunajah merupakan peneliti dari Universitas Djuanda yang berfokus pada bidang pengembangan tenaga kerja, administrasi publik, dan kebijakan pelatihan kerja. Penelitian ini juga melibatkan Gotfridus Goris Seran dan Dede Syahrudin dari Universitas Djuanda yang memiliki keahlian di bidang kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Sumber Penelitian
Anida Safinatunajah, Gotfridus Goris Seran, dan Dede Syahrudin. “The Effectiveness of the Implementation of the Job Training Program at the Job Training Center, Bogor Regency Manpower Office, in 2025.” International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 4, 2026, halaman 433–450. DOI: https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i4.236

0 Komentar