Penelitian ini dilakukan oleh Wiwik Tiswiyanti dari Universitas Jambi dan dipublikasikan pada 2026 dalam jurnal ilmiah Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES). Studi tersebut menganalisis 25 perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2019–2023 dengan total 125 observasi data keuangan.
Hasil penelitian menjadi penting karena industri pertambangan dikenal sebagai sektor dengan risiko tinggi, nilai aset besar, serta sangat dipengaruhi fluktuasi harga komoditas global. Dalam kondisi seperti itu, keputusan perusahaan mengenai penggunaan utang dan modal internal menjadi faktor penting bagi keberlanjutan bisnis.
Penelitian menemukan bahwa perusahaan tambang yang memiliki laba tinggi dan kas yang kuat lebih memilih menggunakan dana internal dibandingkan mencari pinjaman eksternal. Temuan ini memperlihatkan adanya kecenderungan perusahaan menjaga stabilitas keuangan dan mengurangi risiko akibat beban utang.
Menurut Wiwik Tiswiyanti dari Universitas Jambi, kondisi keuangan internal perusahaan memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan struktur modal. Perusahaan dengan kemampuan menghasilkan keuntungan yang baik akan lebih mudah membiayai operasional dan investasi tanpa harus menambah pinjaman dari luar.
Latar belakang penelitian ini tidak terlepas dari dinamika industri tambang Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan performa ekspor sektor tambang pada 2019, 2020, dan 2023 memengaruhi kondisi keuangan perusahaan, terutama profitabilitas dan likuiditas. Situasi tersebut mendorong perusahaan untuk lebih selektif dalam menentukan sumber pendanaan.
Dalam penelitian ini, profitabilitas diukur menggunakan Return on Equity (ROE), likuiditas menggunakan Current Ratio (CR), dan struktur aset dilihat dari proporsi aset tetap terhadap total aset perusahaan. Sementara itu, struktur modal dianalisis menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), yaitu perbandingan antara total utang dan total modal sendiri.
Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda melalui perangkat lunak statistik SPSS. Sebelum pengujian utama dilakukan, peneliti memastikan seluruh data memenuhi syarat statistik seperti normalitas, tidak terjadi multikolinearitas, heteroskedastisitas, maupun autokorelasi.
Hasil pengujian menunjukkan seluruh variabel memiliki pengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan tambang.
Berikut temuan utama penelitian:
- Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap struktur modal.
- Likuiditas berpengaruh negatif terhadap struktur modal.
- Struktur aset juga berpengaruh negatif terhadap struktur modal.
- Ketiga variabel secara bersama-sama menjelaskan 55,7 persen perubahan struktur modal perusahaan.
Artinya, semakin tinggi kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan memenuhi kewajiban jangka pendek, maka semakin kecil ketergantungan perusahaan terhadap utang.
Likuiditas menjadi faktor paling dominan dalam penelitian ini. Perusahaan yang memiliki aset lancar tinggi relatif mampu membiayai kebutuhan operasional tanpa harus mencari pinjaman baru. Kondisi tersebut membuat rasio utang perusahaan menjadi lebih rendah.
Temuan menarik lainnya muncul pada variabel struktur aset. Secara teori, perusahaan dengan aset tetap besar biasanya lebih mudah memperoleh pinjaman karena aset tersebut dapat dijadikan jaminan. Namun dalam penelitian ini, perusahaan tambang tetap memilih mengurangi utang meskipun memiliki aset besar.
Peneliti menilai perusahaan tambang cenderung menghindari risiko finansial yang dapat muncul akibat ketidakstabilan arus kas dan volatilitas harga komoditas global. Dengan kata lain, aset besar tidak otomatis membuat perusahaan agresif mencari pinjaman.
Hasil penelitian ini mendukung teori Pecking Order Theory yang menjelaskan bahwa perusahaan akan lebih dulu menggunakan dana internal sebelum mencari pembiayaan eksternal. Penelitian juga mendukung Trade Off Theory yang menyatakan perusahaan harus menyeimbangkan manfaat penggunaan utang dengan risiko kebangkrutan dan tekanan finansial.
Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi rujukan penting bagi manajemen perusahaan tambang dalam menentukan strategi pendanaan yang lebih aman dan berkelanjutan. Investor juga dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Bagi pemerintah dan regulator pasar modal, temuan ini menunjukkan pentingnya menjaga stabilitas industri pertambangan agar perusahaan tidak terlalu bergantung pada pembiayaan berbasis utang, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kesehatan keuangan internal perusahaan menjadi kunci utama ketahanan bisnis sektor tambang Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi dan fluktuasi pasar dunia.
Profil Penulis
Wiwik Tiswiyanti merupakan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi yang memiliki fokus kajian pada bidang akuntansi keuangan, struktur modal perusahaan, profitabilitas, dan analisis laporan keuangan perusahaan publik di Indonesia.
Sumber Penelitian
0 Komentar