Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS) Volume 4 Nomor 3 Tahun 2026 itu menunjukkan bahwa kualitas hubungan teman sebaya memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat kecemasan FoMO pada remaja. FoMO sendiri merupakan kondisi psikologis ketika seseorang merasa cemas karena takut tertinggal momen, aktivitas, atau pengalaman sosial yang dialami orang lain di media sosial.
Fenomena ini semakin sering ditemukan di kalangan remaja seiring tingginya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Banyak remaja merasa harus terus memantau aktivitas teman-temannya secara online agar tidak dianggap tertinggal atau terasing dari kelompok sosialnya.
Puji Lestari dan tim peneliti menjelaskan bahwa remaja saat ini hidup di tengah tekanan sosial digital yang sangat kuat. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang pembentukan identitas sosial. Akibatnya, banyak remaja merasa harus selalu “hadir” secara online untuk memperoleh pengakuan sosial dari lingkungannya.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 93 siswa berusia 12 hingga 18 tahun dipilih secara acak sebagai responden. Peneliti menggunakan dua instrumen utama, yakni Friendship Quality Scale (FQS) untuk mengukur kualitas hubungan pertemanan, serta Fear of Missing Out Scale (FoMOS) untuk mengukur tingkat kecemasan FoMO.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hubungan teman sebaya yang masih rendah hingga sedang. Sebanyak 73,1 persen siswa berada pada kategori kualitas hubungan pertemanan yang kurang optimal, sementara hanya 26,9 persen yang memiliki hubungan pertemanan berkualitas tinggi.
Di sisi lain, tingkat FoMO pada siswa menunjukkan variasi yang cukup besar. Sebanyak 41,9 persen responden berada pada kategori FoMO rendah, 37,6 persen kategori sedang, dan 20,4 persen mengalami FoMO tinggi.
Temuan paling penting dalam studi ini terlihat pada hubungan antara kualitas persahabatan dan tingkat kecemasan FoMO. Penelitian menemukan nilai signifikansi statistik sebesar p=0,025, yang berarti terdapat hubungan nyata antara kedua variabel tersebut.
Siswa yang memiliki hubungan pertemanan berkualitas tinggi cenderung mengalami tingkat FoMO yang lebih rendah. Dari 25 siswa dengan kualitas hubungan teman sebaya yang baik, sebanyak 64 persen hanya mengalami FoMO dalam kategori rendah.
Sebaliknya, pada kelompok siswa dengan kualitas hubungan sosial yang rendah, tingkat kecemasan FoMO meningkat cukup tajam. Banyak siswa merasa terasing, kurang mendapat dukungan emosional, dan akhirnya mencari validasi sosial melalui media digital.
Menurut Puji Lestari dan tim peneliti dari Universitas Ngudi Waluyo, hubungan pertemanan yang sehat berfungsi sebagai “pelindung psikologis” bagi remaja di era digital. Remaja yang merasa diterima dan dihargai dalam lingkungan sosial nyata tidak memiliki kebutuhan berlebihan untuk mencari pengakuan di media sosial.
“Persahabatan yang suportif membantu remaja merasa aman secara emosional sehingga tidak mudah terjebak dalam tekanan sosial digital,” tulis peneliti dalam pembahasannya.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa FoMO bukan sekadar kebiasaan bermain media sosial, tetapi dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius. Remaja dengan tingkat FoMO tinggi cenderung mengalami kecemasan sosial, stres kronis, gangguan tidur, penurunan konsentrasi belajar, hingga risiko kecanduan media sosial.
Dalam konteks Indonesia, temuan ini menjadi semakin penting karena masalah kesehatan mental remaja terus meningkat. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan sekitar 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir, dengan gangguan kecemasan menjadi salah satu keluhan utama.
Penelitian dari Universitas Ngudi Waluyo ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya tujuan ketiga tentang kesehatan dan kesejahteraan. Selain itu, isu kesehatan mental remaja kini masuk dalam prioritas Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) Indonesia.
Para peneliti menilai bahwa penanganan FoMO tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gadget atau media sosial. Pendekatan yang lebih efektif justru harus dimulai dari penguatan hubungan sosial remaja di dunia nyata.
Sekolah dinilai memiliki peran penting dalam membangun lingkungan sosial yang sehat melalui kegiatan kelompok, konseling teman sebaya, serta program interaksi sosial yang positif. Orang tua juga perlu lebih memperhatikan kualitas komunikasi dengan anak agar remaja tidak mencari seluruh kebutuhan emosionalnya di media sosial.
Selain itu, penelitian ini membuka peluang kajian lanjutan mengenai hubungan FoMO dengan pola asuh orang tua, kecanduan media sosial, kualitas tidur, hingga gejala depresi pada remaja.
Profil Penulis
Puji Lestari merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Ngudi Waluyo yang fokus pada bidang kesehatan mental remaja dan psikologi sosial. Penelitian ini juga melibatkan Liyanovitasari dan Suwanti sebagai kolaborator akademik dari universitas yang sama.
0 Komentar