Pengungkapan Status HIV Ternyata Dapat Mengubah Kepercayaan dan Keintiman Pasangan Serodiskordan
Pengungkapan status HIV masih menjadi tantangan besar bagi pasangan serodiskordan, yaitu hubungan ketika satu pasangan hidup dengan HIV sementara pasangan lainnya negatif atau belum mengetahui status HIV-nya. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Lawrence Adhowhoarie Oboma dari Federal University Otuoke bersama Victor Effiong Ben dari University of Uyo mengungkap bahwa keterbukaan mengenai status HIV dapat memengaruhi tingkat kepercayaan dan keintiman seksual dalam hubungan pasangan di Nigeria.
Riset yang dipublikasikan pada 2026 di jurnal International Journal of Natural and Health Sciences ini dilakukan di Northern Senatorial District, Cross River State, Nigeria. Penelitian tersebut penting karena Nigeria masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus HIV tertinggi di dunia, dan banyak penularan baru terjadi dalam hubungan jangka panjang antar pasangan.
Penelitian ini menyoroti bagaimana keputusan untuk mengungkapkan status HIV bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis, komunikasi, rasa aman, dan keberlangsungan hubungan pasangan.
Para peneliti melibatkan 244 orang dengan HIV yang berada dalam hubungan serodiskordan selama minimal tiga bulan. Responden direkrut menggunakan teknik purposive dan snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui aplikasi Open Data Kit (ODK) untuk mempermudah proses survei lapangan.
Mayoritas responden merupakan perempuan, yakni 61,9 persen, sedangkan laki-laki berjumlah 38,1 persen. Usia responden berkisar antara 19 hingga 54 tahun.
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah masih rendahnya tingkat keterbukaan status HIV kepada pasangan. Hanya 44,3 persen responden yang mengaku telah memberitahukan status HIV mereka kepada pasangan, sedangkan 55,7 persen lainnya memilih tidak mengungkapkannya.
Peneliti menjelaskan bahwa keputusan untuk membuka status HIV sering kali dipengaruhi oleh rasa takut terhadap stigma, penolakan, diskriminasi, hingga kemungkinan kekerasan dalam hubungan.
“Pengungkapan status HIV dapat membawa dampak positif maupun negatif terhadap hubungan pasangan,” tulis Oboma dan Ben dalam penelitian mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami penurunan kualitas hubungan setelah menghadapi persoalan HIV dalam relasi mereka.
Pada hubungan sebelumnya, sebanyak 59,4 persen responden mengaku mengalami penurunan tingkat komitmen pasangan. Angka yang sama juga muncul pada aspek kepercayaan. Sementara itu, 65,2 persen responden melaporkan penurunan keintiman seksual.
Dalam hubungan saat ini, tantangan tersebut masih terlihat. Sebanyak 50,9 persen responden mengaku komitmen pasangan menurun, sedangkan 50 persen lainnya melaporkan berkurangnya keintiman seksual.
Namun, penelitian menemukan hasil yang lebih kompleks ketika dianalisis menggunakan regresi logistik multinomial.
Peneliti menemukan bahwa pengungkapan status HIV ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan komitmen maupun komunikasi pasangan. Akan tetapi, keterbukaan status HIV memiliki dampak signifikan terhadap kepercayaan dan keintiman seksual.
Hasil statistik menunjukkan bahwa individu yang mengungkapkan status HIV memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami peningkatan rasa percaya dalam hubungan. Selain itu, peluang meningkatnya keintiman seksual juga menurun setelah pengungkapan status dilakukan.
Menurut peneliti, kondisi ini menunjukkan bahwa keterbukaan status HIV masih sering menimbulkan kecemasan dalam hubungan, terutama terkait ketakutan penularan, stigma sosial, dan ketidakpastian masa depan pasangan.
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak semua hubungan mengalami dampak negatif. Sebagian pasangan justru mampu mempertahankan komunikasi yang baik dan saling mendukung setelah status HIV diketahui.
Penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya di berbagai negara Afrika Sub-Sahara yang menunjukkan bahwa pasangan serodiskordan menghadapi tekanan emosional yang berat. Tantangan tersebut meliputi ketakutan kehilangan pasangan, tekanan sosial, hingga perubahan pola hubungan seksual.
Selain aspek sosial, penelitian ini juga penting bagi upaya pencegahan HIV secara global. Organisasi kesehatan internasional selama ini menilai pengungkapan status HIV sebagai salah satu strategi utama untuk menekan penularan virus, meningkatkan kepatuhan terapi antiretroviral, serta mendorong tes HIV sukarela bagi pasangan.
Oboma dan Ben menilai bahwa dukungan psikososial menjadi faktor penting agar pengungkapan status HIV tidak berujung pada konflik hubungan.
Mereka merekomendasikan agar layanan kesehatan dan organisasi pendamping orang dengan HIV menyediakan konseling pasangan secara khusus bagi pasangan serodiskordan. Konseling tersebut perlu difokuskan pada pembangunan komunikasi sehat, rasa percaya, dukungan emosional, dan pemahaman bersama mengenai HIV.
Peneliti juga menekankan pentingnya edukasi publik untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS. Menurut mereka, stigma sosial masih menjadi hambatan utama yang membuat banyak orang takut membuka status kesehatannya kepada pasangan.
Secara lebih luas, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi sosial, dan pembuat kebijakan dalam merancang program pendampingan HIV yang lebih manusiawi dan berbasis hubungan keluarga.
Di tengah kemajuan pengobatan HIV modern, penelitian ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal medis, tetapi juga bagaimana pasangan mampu mempertahankan rasa percaya dan kedekatan emosional setelah mengetahui status HIV satu sama lain.
Profil Penulis
Lawrence Adhowhoarie Oboma merupakan peneliti dari Federal University Otuoke yang memiliki fokus kajian pada isu kesehatan masyarakat, hubungan sosial, dan HIV/AIDS.
Victor Effiong Ben berasal dari University of Uyo dengan bidang keahlian kesehatan masyarakat dan dinamika sosial masyarakat Afrika.
0 Komentar