Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Cirebon - Dompet Digital Bikin Boros? Studi Ungkap Kemudahan E-Wallet Picu Belaja Impulsif Gen Z di Cirebon. Penelitian yang dilakukan oleh Nailah Hayatunnasha dan Nurhana Dhea Parlina dari Universitas Swadaya Gunung Jati dari Universitas Swadaya Gunung Jati dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Management Analytics (AJMA) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa fitur-fitur praktis
dalam dompet digital (e-wallet) menjadi faktor utama yang mendorong perilaku
konsumtif di kalangan Generasi Z di Kota Cirebon.
Penelitian yang dilakukan oleh Nailah Hayatunnasha dan Nurhana Dhea Parlina dari Universitas Swadaya Gunung Jati dari Universitas Swadaya Gunung Jati menyroti bahwa bagaimana kecepatan transaksi digital seringkali melampaui kemampuan kontrol diri remaja dan dewasa muda.
Praktis Namun Berisiko: Fenomena E-Wallet di Tengah Gen Z
Penelitian yang dilakukan oleh Nailah Hayatunnasha dan Nurhana Dhea Parlina dari Universitas Swadaya Gunung Jati dari Universitas Swadaya Gunung Jati menyroti bahwa bagaimana kecepatan transaksi digital seringkali melampaui kemampuan kontrol diri remaja dan dewasa muda.
Praktis Namun Berisiko: Fenomena E-Wallet di Tengah Gen Z
Transformasi sistem pembayaran
dari tunai ke digital telah mengubah lanskap ekonomi Indonesia secara drastis.
Dompet digital kini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan harian yang
menawarkan berbagai kenyamanan mulai dari pembayaran via QRIS, transfer instan,
hingga beragam promo menarik seperti cashback dan diskon. Bagi Generasi Z yang dikenal sangat adaptif
terhadap teknologi, kehadiran e-wallet adalah solusi efisiensi. Namun,
efisiensi ini membawa konsekuensi psikologis yang tidak terduga. Penelitian ini
menemukan bahwa semakin mudah sebuah sistem pembayaran digunakan, semakin
tinggi pula kecenderungan seseorang untuk melakukan pembelian impulsif atau
belanja tanpa rencana. Di Kota Cirebon, fenomena ini terlihat jelas pada
kelompok usia 17 hingga 28 tahun yang menjadi pengguna aktif layanan keuangan
digital.
Metodologi: Membedah Kebiasaan Belanja Digital
Untuk mendapatkan gambaran yang akurat, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 246 responden Generasi Z di Kota Cirebon. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring pada bulan November hingga Desember 2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antara kemudahan penggunaan aplikasi dan tingkat literasi keuangan terhadap perilaku belanja. Peneliti menggunakan indikator dari Technology Acceptance Model (TAM) untuk mengukur sejauh mana persepsi kemudahan teknologi mempengaruhi tindakan nyata pengguna.
Temuan Utama: Literasi Saja Tidak Cukup
Metodologi: Membedah Kebiasaan Belanja Digital
Untuk mendapatkan gambaran yang akurat, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 246 responden Generasi Z di Kota Cirebon. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring pada bulan November hingga Desember 2025. Analisis dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antara kemudahan penggunaan aplikasi dan tingkat literasi keuangan terhadap perilaku belanja. Peneliti menggunakan indikator dari Technology Acceptance Model (TAM) untuk mengukur sejauh mana persepsi kemudahan teknologi mempengaruhi tindakan nyata pengguna.
Temuan Utama: Literasi Saja Tidak Cukup
Hasil
penelitian ini memberikan kejutan pada aspek literasi keuangan. Berikut adalah
poin-poin utama temuan riset tersebut:
- Kemudahan Penggunaan Berdampak Signifikan: Fitur pengisian saldo (top-up) yang cepat dan akses QRIS yang praktis terbukti memiliki efek positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif. Artinya, hambatan transaksi yang hilang membuat pengguna lebih mudah mengeluarkan uang.
- Literasi Keuangan Tidak Berdaya: Secara mengejutkan, pemahaman keuangan yang dimiliki responden tidak cukup kuat untuk menekan perilaku boros. Pengetahuan tentang cara mengelola uang ternyata kalah bersaing dengan stimulus digital dan promosi yang masif.
- Variabel Lain yang Berperan: Gabungan antara kemudahan e-wallet dan literasi keuangan hanya mempengaruhi sekitar 24,8% perilaku konsumtif. Sisanya, sebesar 75,2%, dipengaruhi oleh faktor luar seperti kontrol diri, gaya hidup, dan gempuran iklan digital.
- Kerentanan Usia: Mayoritas responden berada di rentang usia 17-22 tahun, masa di mana pola konsumsi masih dalam tahap pembentukan dan kondisi finansial belum stabil, sehingga mereka lebih rentan terhadap godaan belanja spontan.
Implikasi bagi Masyarakat dan Pembuat Kebijakan
Studi ini memberikan sinyal peringatan bagi berbagai pihak. Bagi masyarakat, khususnya Generasi Z, riset ini menekankan pentingnya kesadaran akan potensi perilaku konsumtif dengan cara mulai menerapkan batasan belanja harian secara ketat di aplikasi mereka. Bagi penyedia layanan e-wallet, terdapat tanggung jawab moral untuk tidak hanya menyediakan fitur pembayaran, tetapi juga fitur kontrol pengeluaran yang lebih edukatif bagi pengguna. Sementara itu, bagi institusi pendidikan dan regulator, program literasi keuangan perlu dirombak agar tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada pembentukan karakter, pengendalian diri, dan praktik nyata dalam menghadapi ekosistem digital yang serba cepat. Tanpa adanya keseimbangan antara kemudahan teknologi dan kematangan perilaku, kemajuan finansial ini dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan keuangan pribadi bagi generasi masa depan.
Profil Peneliti
Studi ini memberikan sinyal peringatan bagi berbagai pihak. Bagi masyarakat, khususnya Generasi Z, riset ini menekankan pentingnya kesadaran akan potensi perilaku konsumtif dengan cara mulai menerapkan batasan belanja harian secara ketat di aplikasi mereka. Bagi penyedia layanan e-wallet, terdapat tanggung jawab moral untuk tidak hanya menyediakan fitur pembayaran, tetapi juga fitur kontrol pengeluaran yang lebih edukatif bagi pengguna. Sementara itu, bagi institusi pendidikan dan regulator, program literasi keuangan perlu dirombak agar tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada pembentukan karakter, pengendalian diri, dan praktik nyata dalam menghadapi ekosistem digital yang serba cepat. Tanpa adanya keseimbangan antara kemudahan teknologi dan kematangan perilaku, kemajuan finansial ini dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan keuangan pribadi bagi generasi masa depan.
Profil Peneliti
Nailah Hayatunnasha adalah peneliti dari Program
Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Swadaya Gunung Jati
(UGJ) Cirebon. Ia memiliki fokus kajian pada perilaku konsumen dan perkembangan
teknologi finansial (fintech) di lingkungan perkotaan.
Nurhana Dhea Parlina merupakan staf pengajar dan
peneliti di Universitas Swadaya Gunung Jati yang aktif melakukan riset terkait
manajemen pemasaran dan analisis data ekonomi makro maupun mikro.
Sumber Penelitian
Nailah Hayatunnasha, Nurhana Dhea Parlina (2026). The Influence of E-Wallet Usability and Financial Literacy
on Generation Z's Consumption Behavior in Cirebon City. Asian Journal of Management Analytics (AJMA) Volume & Tahun: Vol. 5,
No. 2, 2026 Hal: 295-308
DOI: https://doi.org/10.55927/ajma.v5i2.16452
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajma

0 Komentar