Pencemaran Sungai di Padang Ubah Pola Hidup Warga, Studi Soroti Adaptasi Sosial di Berok Nipah

Ilustrasi by AI

Pencemaran sungai di kawasan perkotaan Padang dinilai telah mengubah pola perilaku masyarakat sekaligus memunculkan berbagai strategi adaptasi sosial di lingkungan permukiman padat. Temuan itu diungkap dalam penelitian Irwan Irwan, Anisa Putri, Fadhia Gina Putri, Yayank Jupita Sari, dan Froilan D Mobo. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Education and Life Sciences (IJELS) ini menyoroti kondisi Sungai Kalimati di Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, yang mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat limbah domestik dan industri kecil.

Penelitian mencatat sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan masyarakat kini mengalami pencemaran ringan hingga sedang dengan nilai Indeks Pencemaran mencapai 2,126 di beberapa segmen. Limbah rumah tangga, aktivitas pasar, dan industri kecil disebut menjadi penyumbang utama pencemaran, mencapai lebih dari 80 persen total limbah yang masuk ke aliran sungai.

Selain pencemaran organik, penelitian juga menemukan tingginya kandungan mikroplastik dan limbah tekstil di Sungai Batang Arau yang melintasi wilayah Padang Barat. Berdasarkan data pemantauan kualitas air tahun 2022, mikroplastik menjadi jenis pencemaran paling dominan dengan 144 temuan, diikuti limbah flamen sebanyak 125 kasus.

Pada halaman 5 penelitian juga ditampilkan tabel kualitas air Sungai Batang Arau yang menunjukkan hanya dua dari enam titik pengukuran memenuhi baku mutu air, sementara empat titik lainnya berada dalam kondisi tercemar dengan indeks pencemaran antara 1,1 hingga 1,65.

Menurut peneliti, kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan ekonomi. Warga Berok Nipah masih sangat bergantung pada sungai untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga pembuangan limbah rumah tangga. Keterbatasan akses air bersih, minimnya fasilitas pengelolaan sampah, dan kondisi ekonomi rendah membuat sungai tetap digunakan meski kualitas air terus menurun.

Penelitian menemukan beberapa pola perilaku utama masyarakat:

  • penggunaan sungai sebagai sumber air dan tempat pembuangan sampah,
  • rendahnya kesadaran lingkungan,
  • minimnya partisipasi warga dalam kegiatan kebersihan sungai,
  • serta pola hidup pragmatis akibat tekanan ekonomi.

Meski demikian, masyarakat juga mulai mengembangkan berbagai strategi adaptasi sosial untuk bertahan di tengah memburuknya kondisi lingkungan. Salah satu bentuk adaptasi yang muncul adalah kegiatan gotong royong membersihkan sungai secara berkala yang dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu.

Selain itu, warga mulai membangun rumah vertikal di bantaran sungai sebagai solusi keterbatasan lahan. Beberapa kelompok masyarakat juga mengembangkan urban farming dan kebun sayur vertikal untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah lingkungan yang semakin padat.

Upaya lain yang berkembang adalah pengelolaan limbah mandiri, seperti pembangunan septic tank sederhana dan edukasi lingkungan melalui sosialisasi kebersihan sungai. Walau masih terbatas, langkah tersebut dinilai mulai mendorong perubahan perilaku sebagian warga agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan di Kelurahan Berok Nipah. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman untuk memetakan hubungan antara perilaku masyarakat, pencemaran sungai, dan strategi adaptasi sosial yang berkembang.

Menurut para peneliti, kasus Berok Nipah menunjukkan bahwa pencemaran sungai bukan hanya persoalan teknis lingkungan, tetapi juga masalah sosial dan budaya perkotaan. Penanganannya memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan pembangunan sanitasi, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan limbah berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran lingkungan warga.

Temuan ini dinilai penting bagi pemerintah daerah dan pengelola kota di Indonesia, terutama dalam menghadapi persoalan pencemaran sungai di kawasan padat penduduk. Penelitian menekankan bahwa keberhasilan pemulihan lingkungan sungai sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat, dukungan infrastruktur sanitasi, dan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan.

Profil Penulis

  • Irwan Irwan -  Universitas PGRI Sumatera Barat
  • Anisa Putri-  Fadhia Gina Putri- Universitas PGRI Sumatera Barat
  • Yayank Jupita Sari -Universitas PGRI Sumatera Barat

Sumber Penelitian

Irwan, Putri, A., Putri, F.G., Sari, Y.J., & Mobo, F.D. (2026). Community Behavior Patterns and Social Adaptation Strategies Due to River Pollution in Berok Nipah Village, Padang Barat Subdistrict, Padang City. International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No. 4, 393–404.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i4.317

URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

Posting Komentar

0 Komentar