Riset tersebut dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Education and Psychological Science Volume 4 Nomor 3 tahun 2026. Penelitian dilakukan terhadap 23 siswa kelas V dengan fokus pada peningkatan kemampuan memahami isi bacaan melalui pendekatan belajar yang lebih aktif dan sistematis.
Sebelum metode diterapkan, nilai rata-rata membaca pemahaman siswa hanya mencapai 64,52. Angka itu masih berada di bawah standar ketuntasan pembelajaran sekolah yang ditetapkan sebesar 72. Dari total 23 siswa, hanya sembilan siswa atau sekitar 39 persen yang dinyatakan tuntas. Sementara itu, 14 siswa lainnya masih mengalami kesulitan memahami isi teks bacaan.
Peneliti menemukan bahwa proses belajar sebelumnya masih didominasi metode satu arah. Guru lebih banyak menjelaskan materi tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam proses memahami bacaan. Akibatnya, siswa kurang terbiasa menyusun pertanyaan, membuat rangkuman, atau menghubungkan isi bacaan dengan pemahaman mereka sendiri.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti menerapkan metode PQRST yang merupakan singkatan dari Preview, Question, Read, Summarize, dan Test. Metode ini dirancang agar siswa tidak hanya membaca teks secara pasif, tetapi juga aktif menelaah, bertanya, merangkum, dan menguji pemahaman mereka sendiri.
Dalam tahap Preview, siswa diminta meninjau isi bacaan terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran umum teks. Pada tahap Question, siswa menyusun pertanyaan terkait isi bacaan. Setelah itu mereka memasuki tahap Read dengan membaca secara aktif untuk menemukan jawaban. Tahap berikutnya adalah Summarize, yaitu membuat rangkuman dari informasi penting yang ditemukan. Terakhir, pada tahap Test, siswa menguji kembali pemahaman mereka terhadap bacaan yang telah dipelajari.
Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas atau PTK yang dilakukan dalam dua siklus pembelajaran. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas guru dan siswa, tes hasil belajar, serta dokumentasi kegiatan pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan yang cukup besar setelah metode PQRST diterapkan. Pada siklus pertama, proses pembelajaran mulai menunjukkan peningkatan meskipun masih ditemukan beberapa kendala, seperti keterlibatan siswa yang belum merata dan pengelolaan kelas yang belum optimal.
Namun, setelah dilakukan perbaikan pada siklus kedua, suasana belajar menjadi lebih aktif dan kondusif. Siswa terlihat lebih berani bertanya, aktif berdiskusi, serta lebih mudah memahami isi bacaan. Aktivitas guru dan siswa juga mengalami peningkatan hingga masuk kategori “baik”.
Penelitian mencatat bahwa hasil belajar siswa meningkat dari kategori “cukup” pada siklus pertama menjadi kategori “baik” pada siklus kedua. Secara keseluruhan, metode PQRST dinilai berhasil meningkatkan proses pembelajaran sekaligus kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V.
Menurut tim peneliti dari Makassar State University, metode ini membuat siswa lebih terlibat secara langsung dalam proses belajar. Siswa tidak lagi sekadar membaca teks, tetapi juga belajar memahami ide utama, menyusun pertanyaan kritis, hingga menyimpulkan informasi penting dari bacaan.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis sejak usia sekolah dasar. Dalam praktiknya, siswa menjadi lebih aktif membangun pemahaman sendiri dibanding hanya menerima penjelasan guru secara pasif.
Selain meningkatkan kemampuan membaca, metode PQRST juga dinilai mampu meningkatkan minat belajar siswa. Tahapan belajar yang sistematis membuat siswa lebih fokus dan mudah memahami isi teks. Model pembelajaran seperti ini dinilai penting diterapkan di sekolah dasar karena kemampuan membaca pemahaman menjadi fondasi utama dalam hampir semua mata pelajaran.
Hasil penelitian Musfirah dan tim turut memperkuat sejumlah penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa metode PQRST efektif meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar membaca. Metode ini juga dianggap relevan diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar karena mendorong siswa berpikir lebih aktif dan mandiri.
Bagi dunia pendidikan, temuan ini memberikan gambaran bahwa kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh materi ajar, tetapi juga metode yang digunakan guru di kelas. Strategi pembelajaran yang interaktif terbukti dapat membantu siswa memahami materi lebih baik dibanding metode ceramah konvensional.
Sekolah juga dinilai perlu memberikan dukungan terhadap penerapan metode pembelajaran inovatif seperti PQRST. Dukungan tersebut dapat berupa pelatihan guru, penyediaan bahan ajar yang sesuai, hingga pengembangan suasana belajar yang lebih partisipatif.
Meski demikian, peneliti mengakui bahwa studi ini masih memiliki keterbatasan. Penelitian hanya dilakukan pada satu kelas dengan jumlah siswa terbatas sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh sekolah. Selain itu, penelitian hanya berlangsung dalam dua siklus sehingga belum menggambarkan dampak jangka panjang metode PQRST terhadap perkembangan kemampuan membaca siswa.
Ke depan, peneliti menyarankan agar studi serupa dilakukan pada jenjang sekolah dan materi pembelajaran yang berbeda. Penelitian lanjutan juga dapat mengembangkan penerapan metode PQRST untuk keterampilan bahasa lain seperti menulis atau berbicara.
Profil Penulis
- Musfirah — akademisi dan peneliti bidang pendidikan dasar dari Makassar State University.
- Nur Ilmi — dosen dan peneliti pendidikan bahasa serta pembelajaran sekolah dasar.
- Satriani Sennang — akademisi yang meneliti strategi pembelajaran dan pengembangan literasi siswa.
Sumber Penelitian
Artikel ilmiah berjudul Application of the PQRST Method to Improve the Reading Comprehension Ability of Class V Students of SD Negeri 3 Macorawalie, Sidrap Regency dipublikasikan dalam International Journal of Education and Psychological Science Volume 4 Nomor 3 tahun 2026.
0 Komentar