TONDANO — Kehadiran bangsa Eropa di nusantara tidak hanya membawa pengaruh budaya baru, tetapi juga memicu praktik kolonialisme yang menindas masyarakat lokal
Minahasa sejak lama dikenal sebagai daerah subur dengan hasil bumi yang melimpah seperti cengkih, kopi, dan padi. Potensi agraris yang besar ini menarik perhatian bangsa barat, terutama Belanda, untuk menguasai jalurnya perdagangan. Melalui sistem tanam paksa dan monopoli perdagangan beras, pihak kolonial memeras keringat penduduk setempat. Penindasan yang merendahkan martabat ini memicu kemarahan kolektif dan melahirkan gerakan resistensi dari komunitas lokal yang menolak tunduk pada otoritas asing.
Guna merekonstruksi peristiwa masa lalu tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Yogyakarta menerapkan metode penelitian sejarah kualitatif yang memadukan sumber primer dan sekunder
Hasil kajian ilmiah ini menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat Minahasa berakar kuat pada tujuh nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Nilai pertama adalah Maesa-esa’an yang menekankan persatuan erat antarwarga. Kedua, Mangenang-genangan yang menumbuhkan kepedulian sosial dan ikatan emosional. Ketiga, Masawang-sawangan berupa aksi saling menolong dalam kedukaan maupun kegembiraan. Keempat, Matombo-tombolan yang berarti sikap saling mendukung serta menguatkan posisi sesama warga.
Nilai kelima adalah Mapalus, sebuah sistem gotong royong berputar yang sangat efektif diaplikasikan dalam pengelolaan lahan pertanian. Keenam, Malinga-lingaan yang mengutamakan tradisi saling mendengarkan nasihat demi menjaga keharmonisan kelompok. Terakhir adalah Maleo-leosan yang bermakna kasih sayang tulus sebagai fondasi moral tertinggi dari seluruh interaksi sosial masyarakat Minahasa. Ketujuh pilar budaya inilah yang mentransformasikan komunitas sipil menjadi barisan pejuang yang solid dan tak kenal takut di medan laga.
Puncak konfrontasi bersenjata meletus di wilayah Tondano ketika pemuda setempat menolak kebijakan perekrutan militer paksa oleh pemerintah kolonial Belanda. Perang besar yang berkecamuk ini menyisakan kisah pilu sekaligus heroik, di mana wilayah pemukiman Tou Dano dibakar habis oleh musuh. Nama Moraya sendiri memiliki arti yang sangat mendalam, yaitu "bau darah" atau "genangan darah". Istilah ini menjadi monumen linguistik yang menggambarkan pengorbanan luar biasa para pejuang, baik pria maupun wanita, yang gugur demi membela kehormatan bangsa hingga tetes darah terakhir.
Pada abad ke-21 ini, Pemerintah Kabupaten Minahasa melakukan revitalisasi kawasan bekas medan perang tersebut menjadi situs wisata sejarah. Dalam proses penggalian, ditemukan pilar kayu cempaka raksasa dan fragmen kuburan batu waruga asli. Kompleks Benteng Moraya modern kini dilengkapi dengan dua belas pilar relief yang mengukir sejarah peperangan, gedung amfiteater budaya, serta ukiran nama-nama marga atau fam Minahasa pada dinding kompleks untuk menjaga memori kolektif generasi muda agar tidak hilang digerus arus modernisasi.
Nedia Lestari Sihombing
Universitas Negeri Yogyakarta
Rhoma Dwi Aria
Universitas Negeri Yogyakarta
Sumber Penelitian / Research Source
Judul Artikel: Behind the Word Moraya: Heroic Actions Against Colonialism
Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)Tahun Publikasi: 2026
DOI:
URL Resmi:
0 Komentar