Yogyakarta – Penelitian terbaru dari Universitas Gadjah Mada mengungkap bahwa masa depan industri kopi global tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji kopi atau teknologi pertanian, tetapi juga oleh pola komunikasi antara petani, penyuluh, dan pelaku bisnis kopi. Kajian ini dilakukan oleh Agustinus Dicky Prastomo, Hermin Indah Wahyuni, dan Muhamad Sulhan dari Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Universitas Gadjah Mada dan dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research.
Penelitian tersebut menyoroti bagaimana perubahan iklim, tekanan pasar global, hingga transformasi digital membuat ekosistem kopi dunia semakin kompleks. Dalam situasi itu, komunikasi menjadi faktor utama yang menentukan apakah sistem kopi dapat bertahan, berkembang, atau justru mengalami stagnasi.
Indonesia dipilih sebagai salah satu konteks penting dalam penelitian karena merupakan produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Data yang dikutip peneliti menunjukkan Indonesia menyumbang lebih dari 9 persen produksi kopi dunia dengan rata-rata produksi sekitar 700 ribu ton per tahun. Ekspor kopi Indonesia juga mencapai ratusan ribu ton setiap tahun dengan tujuan utama negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Jepang, China, hingga Malaysia.
Penelitian ini mengulas perkembangan komunikasi dalam ekosistem kopi global selama satu dekade terakhir, mulai 2014 hingga 2024. Tim peneliti menelusuri ribuan artikel ilmiah internasional terkait kopi berkelanjutan, perubahan iklim, teknologi pertanian, budaya kopi, hingga hubungan bisnis kopi global. Dari sekitar 1.000 artikel yang dianalisis, hanya 11 artikel yang dianggap paling relevan untuk menjelaskan dinamika komunikasi dalam industri kopi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik, perbedaan kepentingan, hingga ketidakpahaman antaraktor justru menjadi bagian alami dari perkembangan ekosistem kopi. Petani kopi, penyuluh pertanian, dan pelaku bisnis sering memiliki tujuan berbeda. Petani berharap harga stabil dan dukungan nyata di lapangan, sementara pelaku bisnis menuntut kualitas dan pasokan yang konsisten. Di sisi lain, penyuluh pertanian berusaha mendorong praktik budidaya yang lebih modern dan berkelanjutan.
Menurut penelitian ini, komunikasi tidak lagi dipahami sekadar proses penyampaian pesan. Peneliti menggunakan perspektif teori autopoiesis dari sosiolog Niklas Luhmann yang melihat komunikasi sebagai proses pembentukan pemahaman bersama melalui informasi, ekspresi, dan respons yang terus berkembang.
Agustinus Dicky Prastomo dan tim peneliti menemukan bahwa hubungan antaraktor dalam industri kopi sebenarnya dipenuhi “double contingency” atau ketidakpastian dua arah. Setiap pihak memiliki harapan masing-masing terhadap pihak lain. Petani berharap dukungan pasar dan harga yang adil, sementara pelaku bisnis berharap kualitas kopi meningkat. Ketika komunikasi gagal menjembatani harapan tersebut, muncul konflik, ketidakpercayaan, dan hambatan transformasi industri.
Penelitian ini juga menemukan bahwa banyak komunitas petani kopi mulai membangun jalur komunikasi mandiri di luar sistem formal pemerintah atau industri. Beberapa komunitas lebih memilih mempertahankan pertanian campuran dan kearifan lokal dibanding mengikuti pola industri kopi modern secara penuh. Fenomena ini ditemukan dalam sejumlah studi kasus di Indonesia, Malawi, Vietnam, Australia, hingga Belanda.
Peneliti menilai pendekatan komunikasi yang terlalu menekan petani justru dapat memicu penolakan. Sebaliknya, komunikasi yang menghargai perbedaan dan kondisi lokal dinilai lebih efektif menciptakan keberlanjutan jangka panjang.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa perubahan dalam industri kopi global semakin dipengaruhi oleh teknologi digital dan media sosial. Platform digital membuat petani lebih mudah memperoleh informasi pasar, teknik budidaya, hingga peluang ekspor. Namun, transformasi digital juga memunculkan tantangan baru seperti kesenjangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, dan ketimpangan informasi antara negara maju dan negara berkembang.
Hermin Indah Wahyuni dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa komunikasi yang sehat dalam ekosistem kopi harus dibangun melalui rasa saling percaya, kolaborasi, dan keterbukaan terhadap perbedaan pandangan. Menurutnya, keberlanjutan industri kopi tidak hanya bergantung pada produksi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga pada kemampuan setiap sistem untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan sosial.
Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan industri kopi Indonesia. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas petani, hingga lembaga pendidikan dinilai perlu membangun pola komunikasi yang lebih partisipatif dan tidak hanya berorientasi pada keuntungan pasar. Pendekatan tersebut dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan produksi kopi sekaligus melindungi komunitas petani dari tekanan ekonomi dan perubahan iklim.
Selain itu, penelitian ini membuka peluang lahirnya model komunikasi baru dalam sektor pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Peneliti menilai komunikasi yang baik dapat membantu menciptakan inovasi, memperkuat ketahanan petani, dan mempercepat transformasi industri kopi berkelanjutan di tingkat global.
Profil Penulis:
0 Komentar