Padang – Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Fani Marirah Nasution dan Rino dari Universitas Negeri Padang pada 2026 mengungkap bagaimana gaya kepemimpinan dan beban kerja memengaruhi perilaku sukarela pegawai di lingkungan sektor publik. Studi ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya bergantung pada tugas formal pegawai, tetapi juga pada kemauan mereka untuk berkontribusi lebih dari yang diwajibkan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini dilakukan di KPP Pratama Padang Dua, salah satu unit Direktorat Jenderal Pajak. Hasilnya menyoroti bahwa kepemimpinan transformasional dan dukungan organisasi memiliki peran besar dalam membentuk perilaku kerja ekstra atau Organizational Citizenship Behavior (OCB), yang berkontribusi langsung pada efektivitas organisasi.
Latar belakang penelitian ini berangkat dari tantangan reformasi perpajakan di Indonesia yang menuntut peningkatan kinerja, transparansi, dan adaptasi digital. Kondisi ini menambah tekanan kerja pegawai, sementara di sisi lain organisasi membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat. Penurunan skor kinerja organisasi di KPP Pratama Padang Dua dari 108,23% pada 2024 menjadi 92,44% pada 2025 menjadi indikasi bahwa ada masalah dalam dinamika internal, terutama terkait perilaku kerja pegawai.
Dalam konteks tersebut, perilaku OCB menjadi krusial. Perilaku ini mencakup tindakan sukarela seperti membantu rekan kerja, berbagi pengetahuan, dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi. Namun, penelitian menemukan bahwa tingkat OCB di lokasi studi masih belum optimal, terlihat dari rendahnya partisipasi dan kecenderungan ketidakpuasan terhadap kondisi kerja.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan seluruh 97 pegawai sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan metode statistik berbasis model struktural. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan kompleks antara kepemimpinan, beban kerja, motivasi psikologis, dan dukungan organisasi secara menyeluruh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku OCB. Pemimpin yang mampu menginspirasi, memberikan visi, dan memperhatikan kebutuhan individu terbukti mampu mendorong pegawai untuk bekerja lebih dari sekadar kewajiban formal. Selain itu, kepemimpinan juga meningkatkan psychological empowerment, yaitu rasa percaya diri, makna kerja, dan otonomi pegawai dalam menjalankan tugas.
Menariknya, beban kerja juga ditemukan memiliki pengaruh positif terhadap OCB, meskipun efeknya lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, beban kerja tidak selalu menjadi tekanan negatif, tetapi bisa menjadi tantangan yang memotivasi pegawai untuk berkontribusi lebih. Namun, beban kerja tidak secara signifikan meningkatkan pemberdayaan psikologis, sehingga pengaruhnya lebih bersifat situasional dibanding motivasional.
Faktor paling kuat dalam mendorong OCB justru adalah pemberdayaan psikologis. Pegawai yang merasa memiliki kontrol, kompetensi, dan makna dalam pekerjaannya cenderung lebih proaktif dan bersedia membantu organisasi secara sukarela. Dalam hal ini, pemberdayaan menjadi jembatan penting yang menghubungkan kepemimpinan dengan perilaku kerja positif.
Penelitian ini juga menemukan peran penting dukungan organisasi. Ketika pegawai merasa dihargai dan didukung oleh organisasi, mereka lebih mampu mengubah tekanan kerja menjadi tantangan yang produktif. Dukungan ini memperkuat pengaruh beban kerja terhadap perilaku positif, terutama melalui peningkatan pemberdayaan psikologis.
Namun demikian, dukungan organisasi tidak memperkuat pengaruh kepemimpinan terhadap OCB. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan psikologis pegawai, sehingga tambahan dukungan organisasi tidak memberikan efek signifikan dalam konteks tersebut.
Secara praktis, temuan ini memberikan pesan jelas bagi organisasi publik dan swasta. Kepemimpinan yang inspiratif perlu menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sumber daya manusia. Selain itu, organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang memberdayakan pegawai dan memberikan dukungan yang memadai agar beban kerja tidak berubah menjadi tekanan negatif.
Fani Marirah Nasution dari Universitas Negeri Padang menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh sistem dan target, tetapi juga oleh kualitas interaksi antara pemimpin dan pegawai. Rino dari Universitas Negeri Padang menambahkan bahwa pendekatan yang menggabungkan kepemimpinan, motivasi psikologis, dan dukungan organisasi dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kinerja jangka panjang.
Penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa perilaku kerja sukarela bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi kepemimpinan yang tepat, kondisi kerja yang menantang, dan dukungan organisasi yang kuat.
0 Komentar