Studi ini menjadi penting karena dunia pendidikan global saat ini menghadapi krisis kesejahteraan emosional siswa. Tidak sedikit anak mengalami kecemasan belajar, tekanan akademik, hingga kehilangan motivasi selama proses pendidikan berlangsung. Dalam konteks sekolah dasar, kondisi tersebut dinilai sangat berpengaruh karena masa anak-anak merupakan periode penting perkembangan otak dan emosi.
Menurut Nursalim, kebahagiaan belajar bukan lagi sekadar pelengkap dalam pendidikan, melainkan fondasi utama untuk menciptakan proses belajar yang efektif, sehat, dan manusiawi. Dari perspektif neurosains pendidikan, emosi positif terbukti membantu otak bekerja lebih optimal, terutama pada bagian prefrontal cortex yang berperan dalam perhatian, memori, dan pengambilan keputusan.
Penelitian ini mengkaji berbagai publikasi ilmiah internasional dan nasional yang terbit antara 2022 hingga 2026. Data dikumpulkan dari basis data akademik seperti Scopus, ERIC, ScienceDirect, Google Scholar, dan SINTA. Seluruh artikel dianalisis menggunakan pendekatan thematic content analysis untuk menemukan pola utama terkait kebahagiaan belajar siswa sekolah dasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan belajar dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu kesejahteraan emosional siswa, hubungan positif antara guru dan siswa, iklim kelas yang mendukung, serta pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
Dalam salah satu temuan penting, penelitian menyebutkan bahwa pengalaman belajar yang positif mampu meningkatkan motivasi, perhatian, dan keterlibatan kognitif siswa. Sebaliknya, tekanan akademik dan lingkungan belajar yang kaku dapat menghambat perkembangan emosional dan kemampuan belajar anak.
Penelitian juga menyoroti bagaimana emosi memengaruhi kerja otak anak secara langsung. Ketika siswa merasa aman, nyaman, dan dihargai di kelas, otak akan memproduksi dopamin dan serotonin yang membantu meningkatkan motivasi dan daya ingat. Sebaliknya, stres berlebihan dapat mengganggu fungsi otak yang berkaitan dengan konsentrasi dan pengendalian emosi.
Temuan ini memperkuat teori neurosains pendidikan yang menjelaskan bahwa kondisi emosional siswa sangat menentukan kesiapan otak untuk belajar. Anak-anak usia sekolah dasar dinilai sangat rentan terhadap tekanan emosional karena perkembangan neurologis mereka masih berlangsung sangat cepat.
Selain faktor biologis dan emosional, penelitian juga menemukan pengaruh besar budaya pendidikan terhadap kebahagiaan belajar siswa. Di banyak sekolah, keberhasilan anak masih diukur terutama melalui nilai, ranking, dan capaian akademik formal. Akibatnya, siswa sering menghadapi tekanan dari lingkungan sekolah maupun keluarga sejak usia dini.
Menurut studi tersebut, sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada ujian dapat menciptakan kecemasan belajar dan menurunkan minat siswa terhadap proses pembelajaran. Beberapa penelitian internasional yang dianalisis bahkan menunjukkan bahwa budaya kompetisi akademik yang berlebihan dapat mengurangi rasa nyaman dan kebahagiaan anak di sekolah.
Penelitian ini juga mengutip laporan OECD dan UNESCO yang menunjukkan meningkatnya kecemasan belajar serta menurunnya rasa aman siswa di sekolah-sekolah dunia pascapandemi COVID-19. Di Indonesia, kondisi tersebut dinilai semakin relevan karena implementasi Kurikulum Merdeka sebenarnya mendorong pembelajaran yang lebih fleksibel, inklusif, dan berpusat pada siswa. Namun dalam praktiknya, banyak sekolah masih didominasi budaya akademik yang menekankan hasil dibanding proses belajar.
Dalam analisis literatur, peneliti menemukan bahwa hubungan guru dan siswa menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam menciptakan kebahagiaan belajar. Guru yang membangun komunikasi positif, mendukung partisipasi aktif siswa, dan menciptakan suasana kelas inklusif terbukti membantu meningkatkan keterlibatan emosional dan akademik siswa.
Lingkungan kelas yang mendukung juga dinilai mampu meningkatkan rasa aman dan percaya diri anak. Siswa menjadi lebih aktif berdiskusi, berani bertanya, dan lebih nyaman mengekspresikan pendapat selama proses pembelajaran berlangsung.
Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan emosional siswa secara menyeluruh. Dari perspektif neurosains pendidikan, pengalaman belajar yang menyenangkan akan membantu memperkuat koneksi saraf dan neuroplastisitas otak yang penting dalam pembentukan memori jangka panjang.
Menurut Nursalim, sekolah perlu mulai membangun pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan ramah anak. Guru didorong menggunakan metode pembelajaran kolaboratif, interaktif, dan berpusat pada siswa agar anak tidak hanya memahami materi, tetapi juga menikmati proses belajar.
Penelitian juga merekomendasikan agar pemerintah dan pemangku kebijakan mulai memasukkan indikator kesejahteraan emosional dalam sistem evaluasi pendidikan nasional. Selama ini, keberhasilan pendidikan masih terlalu fokus pada capaian akademik dan tes standar, sementara aspek kesehatan mental siswa sering terabaikan.
Selain itu, sekolah disarankan memperkuat program social-emotional learning atau pembelajaran sosial emosional untuk membantu siswa mengelola emosi, membangun empati, dan menciptakan hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah.
Meski memberikan temuan yang cukup komprehensif, penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Sebagian besar studi yang dianalisis berasal dari konteks internasional, sementara penelitian mengenai kebahagiaan belajar siswa sekolah dasar di Indonesia masih relatif terbatas. Karena itu, peneliti mendorong adanya penelitian lapangan yang lebih mendalam di sekolah-sekolah Indonesia untuk memperoleh gambaran yang lebih kontekstual.
Ke depan, penelitian tentang kebahagiaan belajar diperkirakan akan semakin penting seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan kualitas pendidikan yang lebih berkelanjutan.
Profil Penulis
Nursalim merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Makassar yang memiliki fokus kajian pada neurosains pendidikan, kesejahteraan emosional siswa, pendidikan dasar, dan pembelajaran berbasis perkembangan otak anak.
Sumber Penelitian
Artikel ilmiah berjudul Evaluation of Elementary School Students’ Learning Happiness: A Systematic Literature Review from the Perspective of Educational Neuroscience dipublikasikan dalam International Journal of Education and Psychological Science Volume 4 Nomor 3 tahun 2026.
0 Komentar