JAKARTA — Investasi Asing Langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) selama ini dielu-elukan sebagai mesin utama pendorong ekonomi negara berkembang. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa kucuran modal internasional tersebut tidak serta-merta meningkatkan daya saing nasional secara otomatis. Efektivitas investasi asing sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kapasitas adaptasi negara penerima modal.
Temuan tersebut diungkapkan dalam studi multidimensi yang dilakukan oleh Irna Kumala, Heru Subiyantoro, dan Jooner Rambe dari Universitas Borobudur serta Universitas Indraprasta PGRI. Riset yang dirilis pada tahun 2026 ini menganalisis data panel dari 24 negara berkembang sepanjang periode 2007 hingga 2023. Para peneliti membagi sampel ke dalam dua kelompok besar untuk melihat efek perbedaan struktur ekonomi, yaitu 11 negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle-income) dan 13 negara berpendapatan menengah ke bawah (lower-middle-income).
Secara historis, banyak negara berlomba-lomba memberikan insentif demi menarik minat investor asing. Harapannya, perusahaan multinasional tidak hanya membawa dana segar, tetapi juga mentransfer teknologi canggih, pengetahuan manajerial, dan membuka akses ke rantai pasok global. Tantangannya, alih teknologi dan peningkatan produktivitas domestik sering kali tidak terjadi jika industri lokal di negara penerima belum siap menyerap inovasi tersebut.
Untuk menguji fenomena ini, tim peneliti menggunakan metode kuantitatif dinamis Arellano-Bond Generalized Method of Moments (GMM). Pendekatan ini dipilih agar mampu melihat hubungan timbal balik yang kompleks antara masuknya investasi dan akumulasi daya saing dari tahun ke tahun tanpa bias teknis.
Hasil analisis data menunjukkan adanya ketimpangan dampak yang signifikan antara kedua kelompok negara tersebut. Di negara-negara berpendapatan menengah ke atas seperti China, Malaysia, Thailand, dan Turkiye, investasi asing terbukti memiliki dampak positif yang sangat kuat dan signifikan dalam mendongkrak daya saing nasional. Sebaliknya, di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah seperti Indonesia, India, Filipina, dan Vietnam, efek investasi asing terhadap daya saing ditemukan bermakna positif namun jauh lebih lemah dan kurang stabil.
Perbedaan hasil ini memperkuat teori ekonomi bahwa manfaat investasi asing bersifat kondisional. Negara berpendapatan menengah ke atas umumnya telah memiliki jaringan infrastruktur yang kokoh, kualitas institusi hukum yang stabil, tenaga kerja yang lebih terampil, serta ekosistem industri domestik yang mapan. Kondisi ideal inilah yang membuat perusahaan lokal mampu menyerap ilmu, meniru standar kerja internasional, dan berintegrasi dengan rantai nilai global.
Sementara itu, di negara berpendapatan menengah ke bawah, transfer pengetahuan dari investasi asing sering kali terhambat oleh keterbatasan kualitas SDM, pasar keuangan yang dangkal, dan lemahnya keterkaitan antara investor asing dengan pemasok lokal. Akibatnya, keuntungan dari masuknya modal asing cenderung berputar di sektor tertentu saja tanpa memberikan efek domino yang luas bagi perekonomian nasional.
Riset ini membawa implikasi penting bagi arah kebijakan publik dan strategi regulasi ekonomi. Pemerintah di negara berkembang disarankan untuk mengubah fokus kebijakan, tidak lagi sekadar mengejar kuantitas atau nilai nominal investasi yang masuk. Fokus utama harus dialihkan pada peningkatan kualitas dan penguatan keterikatan investasi asing dengan sektor riil domestik. Bagi negara seperti Indonesia, prioritas pembangunan harus diarahkan pada reformasi kelembagaan, peningkatan mutu pendidikan pekerja, serta pengembangan kapasitas vendor lokal agar mampu menjadi mitra strategis korporasi global.
Profil Penulis
Irna Kumala: Universitas Indraprasta PGRI / Universitas Borobudur.Heru Subiyantoro: Universitas Borobudur.
Jooner Rambe: Universitas Borobudur.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Does Foreign Direct Investment Improve National Competitiveness? Dynamic Panel Evidence from Upper- and Lower-Middle-Income Countries
Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)
Tahun Publikasi: 2026
DOI:
0 Komentar