Penelitian tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi tidak selalu berarti membuka usaha ke luar negeri. Dalam konteks Gili Lampu, wisatawan asing justru datang langsung ke desa wisata dan menginap di homestay milik warga lokal. Fenomena ini dikenal sebagai inbound internationalization, yaitu proses ketika usaha kecil menjadi bagian dari pasar global tanpa meninggalkan wilayah asalnya.
Gili Lampu sendiri merupakan destinasi wisata bahari di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, yang terkenal dengan keindahan bawah laut dan wisata berbasis masyarakat. Kawasan ini memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan asing, tetapi sebelumnya menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan promosi digital, sumber daya manusia, dan kemampuan pengelolaan wisata internasional.
Tim peneliti melakukan studi kualitatif dengan pendekatan interpretatif selama Desember 2025 hingga Februari 2026. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap delapan pemilik homestay, observasi partisipatif selama dua bulan, serta dokumentasi dari platform digital dan aktivitas lapangan.
Hasil penelitian menemukan bahwa makna “menjadi internasional” bagi pelaku homestay tidak hanya soal keuntungan ekonomi. Ada tiga lapisan makna yang muncul dari pengalaman mereka, yaitu makna ekonomi, sosial, dan budaya.
Secara ekonomi, wisatawan asing dianggap memberikan pendapatan yang lebih stabil dibanding wisatawan lokal. Salah satu informan penelitian menyebut wisatawan mancanegara cenderung membayar tanpa banyak menawar harga. Bagi sebagian pelaku usaha, internasionalisasi menjadi strategi bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi daerah pesisir.
Dari sisi sosial, keberhasilan menerima tamu asing meningkatkan rasa percaya diri dan status sosial di lingkungan sekitar. Pemilik homestay merasa lebih dihargai oleh masyarakat karena mampu menghadirkan wisatawan dari berbagai negara ke desa mereka. Sementara itu, secara budaya, interaksi dengan tamu asing memperluas wawasan masyarakat lokal tentang dunia internasional, mulai dari makanan, kebiasaan, hingga gaya hidup wisatawan asing.
Penelitian ini juga menemukan bahwa platform digital memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, platform seperti Agoda dan Booking.com menjadi “pintu ajaib” yang membuka akses pasar global bagi UMKM kecil di desa terpencil. Melalui aplikasi digital, pemilik homestay dapat menerima reservasi wisatawan dari Eropa atau negara lain tanpa harus memiliki jaringan internasional besar.
Namun di sisi lain, platform digital juga menciptakan ketergantungan baru. Banyak pemilik homestay tidak memahami cara kerja algoritma platform. Ketika homestay mereka tiba-tiba tidak muncul di halaman utama pencarian, mereka merasa bingung dan cemas karena tidak tahu penyebabnya. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai algorithmic opacity atau “kegelapan algoritma”.
Sistem ulasan atau review wisatawan menjadi faktor yang sangat memengaruhi perubahan perilaku pelaku homestay. Komentar tamu tentang kebersihan, keramahan, hingga kemampuan bahasa Inggris mendorong pemilik homestay memperbaiki pelayanan mereka secara mandiri. Bahkan beberapa pemilik mulai belajar bahasa Inggris melalui YouTube setelah menerima ulasan tentang kesulitan komunikasi dengan tamu asing.
Penelitian ini juga menyoroti proses negosiasi budaya yang terjadi ketika nilai lokal bertemu dengan ekspektasi wisatawan internasional. Pelaku homestay berusaha menyesuaikan pelayanan tanpa kehilangan identitas budaya Sasak. Misalnya, makanan khas seperti ayam taliwang tetap disajikan, tetapi tingkat kepedasannya dikurangi agar sesuai dengan selera wisatawan asing.
Dalam praktik sehari-hari, keluarga pemilik homestay membedakan ruang “front stage” dan “back stage”. Area untuk tamu dibuat lebih nyaman dan sesuai standar internasional, sementara kehidupan keluarga tetap mempertahankan tradisi lokal. Strategi ini membantu masyarakat menjaga identitas budaya sekaligus memenuhi kebutuhan wisatawan global.
Meski begitu, beberapa konflik budaya tetap muncul. Salah satunya terkait perbedaan pandangan mengenai privasi dan cara berpakaian wisatawan asing yang terkadang bertentangan dengan norma masyarakat lokal yang religius. Penelitian menunjukkan bahwa konflik tersebut justru memunculkan kesadaran baru tentang pentingnya komunikasi budaya dan aturan bersama antara warga dan wisatawan.
Perubahan terbesar terjadi pada identitas diri para pelaku homestay. Banyak informan yang sebelumnya merasa sebagai “orang biasa” kini melihat diri mereka sebagai tuan rumah internasional dan duta budaya desa. Mereka menjadi lebih percaya diri berbicara dengan wisatawan asing, lebih terbuka terhadap dunia luar, dan mulai memikirkan masa depan pendidikan anak-anak mereka.
Beberapa pemilik homestay bahkan mulai menyadari bahwa budaya lokal merupakan aset yang bernilai tinggi. Tradisi memasak, menenun, hingga aktivitas melaut tidak lagi dipandang sekadar rutinitas harian, tetapi bagian dari pengalaman budaya yang dicari wisatawan mancanegara.
Meski membawa manfaat ekonomi dan sosial, internasionalisasi juga memunculkan perasaan ambivalen. Sebagian warga mengaku merindukan kehidupan desa yang lebih tenang sebelum banyak wisatawan datang. Ada pula kekhawatiran terhadap perubahan gaya hidup anak-anak yang mulai terpengaruh budaya global melalui interaksi dengan wisatawan asing dan media digital.
Penelitian ini menghasilkan model konseptual baru tentang proses internasionalisasi homestay di daerah wisata berbasis komunitas. Model tersebut terdiri dari tahap akses melalui platform digital, tahap negosiasi budaya, dan tahap transformasi identitas sosial masyarakat lokal.
Para peneliti merekomendasikan peningkatan literasi digital dan pemahaman algoritma bagi pelaku homestay agar mereka tidak sepenuhnya bergantung pada platform digital. Pemerintah daerah juga disarankan memperkuat pelatihan komunikasi lintas budaya, membentuk komunitas atau koperasi homestay, serta menyusun pedoman etika hubungan antara wisatawan dan masyarakat lokal.
Profil Penulis
Yuyun Kristianingsih merupakan peneliti dan mahasiswa dari Universitas Negeri Malang yang meneliti bidang internasionalisasi UMKM, pariwisata berbasis komunitas, dan transformasi digital di sektor homestay. Penelitian ini dilakukan bersama Prof. Sudarmiatin dan Heri Pratikto dari Universitas Negeri Malang yang memiliki fokus riset pada manajemen bisnis, kewirausahaan, dan pengembangan UMKM berbasis masyarakat.
Sumber Penelitian
Kristianingsih, Y., Sudarmiatin, & Pratikto, H. (2026). Becoming International without Leaving the Island: Inbound Internationalization of Homestay SMEs in Gili Lampu, Nusa Tenggara Barat. Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Vol. 5 No. 2, 427–446. DOI: https://doi.org/10.55927/ajabm.v5i2.39, URL: https://journalajabm.my.id/index.php/ajabm
0 Komentar