Guru Kimia Sulawesi Butuh Pelatihan Khusus Guna Integrasikan Kecerdasan Buatan Generatif di Kelas

Ilustrasi by AI

MAKASSAR — Dua peneliti dari Universitas Negeri Makassar, Faathir Almur dan Munawwarah, merilis hasil kajian mengenai pemetaan kebutuhan guru kimia tingkat Sekolah Menengah Atas dalam mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan generatif ke dalam proses pembelajaran. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menekankan bahwa para pendidik di lapangan membutuhkan program pengembangan profesi yang spesifik dan dukungan infrastruktur yang sistematis agar adopsi teknologi mutakhir tersebut dapat berjalan efektif di dalam kelas. Langkah ini dinilai mendesak untuk membantu guru menghadapi tantangan pengajaran sains modern di era transformasi digital.

Tantangan utama dalam pendidikan kimia terletak pada karakteristik materinya yang cenderung abstrak dan sulit diamati secara langsung oleh siswa, seperti struktur atom, interaksi molekul, dan mekanisme reaksi. Siswa dituntut untuk memahami tiga tingkat representasi sekaligus, yakni makroskopis, submikroskopis, dan simbolik. Kompleksitas ini sering kali menimbulkan beban kognitif yang tinggi bagi siswa sehingga memicu kesalahpahaman konsep. Integrasi AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot berpotensi besar menjadi alat bantu kognitif yang menyajikan visualisasi interaktif dan simulasi adaptif guna mempermudah pemahaman siswa.

Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei potong lintang untuk mengukur kesenjangan antara kondisi riil kecakapan guru saat ini dan kondisi ideal yang diharapkan. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui kuesioner terhadap 43 guru mata pelajaran kimia SMA di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang dipilih secara bertujuan. Untuk memprioritaskan kebutuhan pelatihan secara objektif, analisis data menggunakan Model Penilaian Kebutuhan Borich yang menghitung skor rata-rata kesenjangan berbobot antara tingkat kepentingan kompetensi dan tingkat kemahiran aktual yang dimiliki guru.

Hasil analisis data menunjukkan sepuluh prioritas kebutuhan utama guru kimia yang berpusat pada beberapa dimensi krusial. Urutan kebutuhan tertinggi ditempati oleh pembentukan komunitas belajar AI, diikuti oleh kebutuhan pelatihan etika penggunaan AI, kemampuan menyimulasikan reaksi kimia, ketersediaan program pelatihan resmi dari lembaga, serta pelatihan pemanfaatan dasar AI. Kebutuhan mendesak lainnya mencakup pelatihan integrasi AI dalam instruksi kelas, visualisasi konsep kimia, lokakarya praktis, kemampuan mengevaluasi kebenaran keluaran AI, hingga strategi mengontrol penggunaan teknologi oleh siswa agar terhindar dari plagiarisme.

Sebaliknya, penelitian ini menemukan bahwa tingkat kebutuhan untuk aspek literasi digital dasar, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru, dan pemahaman umum mengenai risiko plagiarisme berada pada urutan terbawah. Hal ini mengindikasikan bahwa para guru kimia di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sebenarnya telah memiliki modal literasi digital dan kesadaran etis yang cukup memadai, kemungkinan besar berkat pengalaman mengajar daring selama masa pandemi. Guru merasa sudah cukup mampu jika sekadar menggunakan AI untuk tugas-tugas sederhana seperti membuat bank soal kimia. Fokus intervensi ke depan harus digeser dari literasi dasar menuju pemanfaatan AI yang lebih kontekstual dan maju untuk konten sains.

Dampak dan implikasi dari temuan ini sangat penting bagi para pembuat kebijakan pendidikan dan kepala sekolah. Keberhasilan adopsi AI generatif di lingkungan sekolah tidak bisa bertumpu pada inisiatif personal guru semata, melainkan memerlukan ekosistem pendukung yang komprehensif. Dinas pendidikan dan lembaga terkait perlu merancang program pelatihan berkelanjutan yang berbasis komunitas praktisi, bukan sekadar seminar satu kali selesai. Selain itu, pihak sekolah wajib menyediakan infrastruktur penunjang yang memadai seperti akses internet yang stabil dan perangkat digital di laboratorium. Peran guru tetap tidak tergantikan sebagai validator kritis guna mengevaluasi kebenaran informasi yang dihasilkan oleh AI sebelum diajarkan kepada siswa.

Profil Penulis: Faathir Almur Universitas Negeri Makassar. Munawwarah adalah peneliti  Universitas Negeri Makassar.

Sumber Penelitian:

Mapping Teachers Need for Generative AI Integration in Chemistry Education: A Needs Assessment Study, East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i5.92

URL: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar