Edukasi Kesehatan Tingkatkan Pengetahuan Ibu tentang Imunisasi Dasar di Banjarmasin

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Banjarmasin- Kurangnya pemahaman ibu mengenai imunisasi dasar masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian terbaru yang dilakukan Theresia Jamini dari Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin menunjukkan bahwa edukasi kesehatan sederhana melalui penyuluhan dan leaflet mampu meningkatkan pengetahuan ibu secara signifikan tentang imunisasi dasar bayi. Penelitian ini dipublikasikan tahun 2026 dalam jurnal Asian Journal of Healthcare Analytics.

Studi dilakukan di Puskesmas Basirih, Kalimantan Selatan, pada 30 ibu yang memiliki bayi. Hasil penelitian menunjukkan perubahan besar setelah para ibu menerima edukasi kesehatan mengenai manfaat, jadwal, dan efek samping imunisasi dasar. Temuan ini menjadi penting karena rendahnya cakupan imunisasi masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Imunisasi dasar merupakan langkah penting untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit menular berbahaya seperti hepatitis B, tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak, hingga rubella. Namun, masih banyak orang tua yang belum memahami manfaat imunisasi secara menyeluruh.

Dalam artikelnya, Theresia Jamini menjelaskan bahwa rendahnya pengetahuan ibu sebagian besar dipengaruhi oleh keterbatasan informasi dan minimnya fasilitas edukasi kesehatan. Banyak ibu khawatir anaknya mengalami demam, rewel, atau menangis setelah imunisasi sehingga memilih menghentikan imunisasi sebelum lengkap.

Data Puskesmas Basirih menunjukkan adanya penurunan jumlah bayi yang menerima imunisasi dari tahun 2021 ke 2022. Pada 2021, rata-rata cakupan imunisasi bayi mencapai 66,66 persen, sedangkan pada 2022 turun menjadi 42,85 persen. Penurunan ini memperlihatkan masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya imunisasi lengkap.

Penelitian dilakukan menggunakan metode pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Para responden terlebih dahulu diminta mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan sebelum edukasi diberikan. Setelah itu, peneliti melakukan penyuluhan kesehatan menggunakan media leaflet dan sesi konseling sederhana. Selanjutnya, ibu-ibu kembali mengisi kuesioner yang sama untuk melihat perubahan pemahaman mereka.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang sangat jelas.

Sebelum mendapatkan edukasi kesehatan:

  • Tidak ada ibu yang memiliki tingkat pengetahuan baik
  • Hanya 13,3 persen yang memiliki pengetahuan cukup
  • Sebanyak 86,7 persen berada pada kategori pengetahuan rendah

Namun setelah edukasi kesehatan diberikan:

  • 53,3 persen ibu memiliki pengetahuan baik
  • 46,7 persen memiliki pengetahuan cukup
  • Tidak ada lagi ibu dengan pengetahuan rendah

Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi 0,000 atau jauh di bawah batas 0,05. Artinya, edukasi kesehatan memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan pengetahuan ibu mengenai imunisasi dasar.

Penelitian juga menemukan bahwa faktor usia, pendidikan, dan pekerjaan memengaruhi tingkat pemahaman ibu. Mayoritas responden berusia 26–35 tahun dan sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Dari sisi pendidikan, lulusan SMP menjadi kelompok terbanyak.

Menurut Theresia Jamini, ibu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung lebih mudah menerima informasi kesehatan. Namun, pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal. Penyuluhan kesehatan, seminar, media sosial, dan akses internet juga dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat.

Penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi kesehatan yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat. Leaflet dan penyuluhan langsung terbukti membantu ibu memahami:

  • Manfaat imunisasi,
  • Jadwal imunisasi,
  • Jenis-jenis vaksin,
  • Efek samping pasca imunisasi,
  • Hingga kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Selain meningkatkan pengetahuan, edukasi kesehatan juga berpotensi meningkatkan cakupan imunisasi bayi di daerah dengan tingkat partisipasi rendah. Hal ini penting karena imunisasi lengkap merupakan salah satu cara paling efektif mencegah kematian bayi dan balita akibat penyakit menular.

Temuan penelitian ini memperkuat berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan memiliki dampak besar terhadap perilaku kesehatan masyarakat. Dengan pendekatan komunikasi yang tepat, tenaga kesehatan dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan ketakutan orang tua terhadap imunisasi.

Theresia Jamini juga merekomendasikan agar puskesmas dan tenaga kesehatan lebih aktif mengadakan penyuluhan rutin kepada masyarakat, khususnya ibu yang memiliki bayi. Menurutnya, metode edukasi dapat terus dikembangkan, termasuk melalui video edukasi dan media digital agar informasi lebih mudah diterima masyarakat.

Bagi pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk memperkuat program promosi kesehatan, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Edukasi yang konsisten dinilai dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mencegah penyebaran penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin.

Profil Penulis

Theresia Jamini merupakan akademisi dari Institut Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin. Fokus kajiannya meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan masyarakat, dan peningkatan pengetahuan ibu terkait kesehatan anak serta imunisasi dasar.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Effects of Providing Health Education About Basic Immunization on The Level of Mothers' Knowledge at Basirih Public Health Centre, South Kalimantan

Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics, Vol. 5 No. 1 Tahun 2026

DOI: https://doi.org/10.55927/ajha.v5i1.16277

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajha



Posting Komentar

0 Komentar