Budidaya Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) Berbasis Kearifan Lokal di Desa Catubouw Kabupaten Pegunungan Arfak Indonesia

Budidaya Nanas Kearifan Lokal di Pegunungan Arfak Dinilai Berkelanjutan, Tapi Terkendala Akses Pasar
Budidaya nanas di Kampung Catubouw, Kabupaten Pegunungan Arfak, masih dijalankan dengan cara tradisional yang diwariskan turun-temurun dan terbukti ramah lingkungan. Temuan ini diungkap oleh Amestina Matualage bersama Yolanda Holle dan Wellem Warsibor Wondiwoy dari Papua University dalam penelitian yang terbit pada 2026. Studi tersebut menunjukkan bahwa sistem pertanian berbasis kearifan lokal mampu menjaga kualitas nanas secara alami, tetapi petani masih menghadapi hambatan besar pada infrastruktur dan pemasaran. Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa praktik pertanian tradisional masyarakat adat tidak hanya menjaga budaya lokal, tetapi juga berpotensi mendukung pertanian berkelanjutan di tengah meningkatnya perhatian terhadap pangan ramah lingkungan. Nanas dari Catubouw dikenal memiliki rasa manis alami yang khas, meski dibudidayakan tanpa pupuk kimia dan tanpa teknologi modern.

Pertanian adat masih bertahan di Papua Barat
Kawasan Pegunungan Arfak dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih kuat mempertahankan sistem pertanian adat. Di Catubouw, lahan nanas dikelola di tanah ulayat milik keluarga. Setiap proses budidaya, mulai dari membuka lahan hingga panen, dilakukan oleh anggota keluarga inti secara gotong royong. Menurut para peneliti, sistem ini mencerminkan hubungan erat antara kegiatan ekonomi dan nilai sosial masyarakat setempat. Tanah bukan sekadar aset produksi, tetapi juga bagian dari identitas adat yang diwariskan antar generasi.

Survei langsung pada 20 petani
Penelitian dilakukan pada Oktober–November 2025 di Kampung Catubouw. Tim peneliti menggunakan metode survei deskriptif dengan observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sebanyak 20 petani dipilih sebagai responden berdasarkan rekomendasi tokoh masyarakat dan petani lain yang dianggap memahami praktik budidaya nanas setempat. Pendekatan ini digunakan untuk menggali pengalaman langsung petani dalam menjalankan sistem pertanian tradisional.

Teknik “tikam kayu” tanpa pupuk kimia
Salah satu temuan paling menonjol adalah penggunaan teknik tanam tradisional yang dikenal masyarakat sebagai “tikam kayu”. Dalam teknik ini, petani cukup menusukkan tongkat kayu ke tanah untuk membuat lubang tanam, lalu menanam bibit nanas dari mahkota buah atau tunas anakan. Metode ini dilakukan tanpa:
-pengolahan tanah intensif,
-bedengan,
-pupuk kimia,
-sistem irigasi buatan.
Perawatan tanaman hanya mengandalkan penyiangan manual dan pengendalian hama alami. Sistem ini membuat biaya produksi sangat rendah dan menjaga kondisi tanah tetap alami.

Hasil panen manis alami, tetapi harga rendah
Meski menggunakan metode sederhana, nanas yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi. Peneliti mencatat rasa buah lebih manis secara alami dibanding banyak nanas komersial dari daerah lain. Hal ini diduga karena kombinasi tanah pegunungan, iklim sejuk, dan praktik budidaya tanpa bahan kimia. Namun, keunggulan kualitas ini belum berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Hasil panen umumnya dijual ke pasar di Manokwari, tetapi biaya transportasi yang tinggi membuat harga jual di tingkat petani tetap rendah. Sebagian panen bahkan hanya dikonsumsi untuk kebutuhan rumah tangga karena sulitnya distribusi ke pasar yang lebih luas.

Bukan masalah produksi, tetapi distribusi
Penelitian ini menegaskan bahwa tantangan utama bukan pada kemampuan petani menghasilkan nanas, melainkan pada akses jalan dan rantai distribusi. Beberapa kendala utama yang ditemukan:
-akses transportasi terbatas dari kampung ke kota,
-biaya angkut hasil panen tinggi,
-pasar penjualan masih sempit,
-belum ada industri pengolahan berbasis nanas di tingkat lokal.
Dengan kondisi tersebut, potensi ekonomi nanas Catubouw belum berkembang maksimal meski produknya memiliki keunggulan rasa dan kualitas.

Penting bagi pertanian berkelanjutan
Studi ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal masyarakat adat dapat menjadi model pertanian berkelanjutan yang relevan di masa depan. Sistem yang digunakan petani Catubouw memenuhi tiga aspek penting:
-ekologis, karena minim bahan kimia dan menjaga kesuburan tanah;
-sosial, karena melibatkan keluarga dan komunitas adat;
-ekonomi, karena memiliki komoditas bernilai jual tinggi.
Amestina Matualage dari Papua University menilai pendekatan terbaik bukan mengganti sistem tradisional dengan teknologi modern sepenuhnya, melainkan menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi sederhana seperti pengolahan pascapanen, pengemasan, dan akses pasar digital.

Implikasi bagi pemerintah dan pelaku usaha
Hasil penelitian ini memiliki dampak langsung bagi kebijakan pertanian dan pembangunan desa di Papua Barat. Bagi pemerintah daerah, hasil studi dapat menjadi dasar untuk:
-memperbaiki jalan menuju sentra produksi,
-membuka akses pasar antarwilayah,
-mendukung industri olahan nanas lokal,
-memperkuat program pertanian berbasis masyarakat adat.
Bagi dunia usaha, nanas Catubouw berpotensi dikembangkan sebagai produk premium khas Papua dengan branding pertanian organik dan budaya lokal. Jika dikelola lebih baik, komoditas ini dapat masuk ke pasar wisata, hotel, dan industri pangan sehat yang kini terus berkembang.

Profil penulis
Amestina Matualage, S.P., M.P. adalah akademisi dari Papua University dengan fokus kajian pada pertanian lokal, agribisnis, dan pengembangan sistem pertanian berkelanjutan di kawasan Papua.
Yolanda Holle merupakan peneliti bidang sosial pertanian dan masyarakat adat, sedangkan Wellem Warsibor Wondiwoy menekuni kajian agronomi tropis dan pengelolaan sumber daya pertanian di wilayah pegunungan.

Sumber penelitian
Judul artikel: Pineapple (Ananas comosus (L.) Merr.) Cultivation Based on Local Wisdom in Catubouw Village, Arfak Mountains Regency, Indonesia
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research, Vol. 4 No. 3 (2026)

Posting Komentar

0 Komentar