Belanja kesehatan dan pengurangan kemiskinan terbukti menjadi faktor paling menentukan dalam peningkatan pembangunan manusia di Indonesia Barat. Penelitian terbaru yang dilakukan Dirmansyah Darwin, La Ode Muhammad Iksan Yusuf, dan Andi Nur Wahyuningsih dari Universitas Negeri Makassar menunjukkan bahwa investasi di sektor kesehatan memberikan dampak positif signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sementara tingkat kemiskinan justru menjadi penghambat utama peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) tahun 2026 ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi pembangunan manusia di wilayah Indonesia Barat selama periode 2017–2024. Fokus penelitian mencakup pengaruh pertumbuhan ekonomi, belanja pendidikan, belanja kesehatan, dan kemiskinan terhadap kualitas pembangunan manusia di berbagai provinsi kawasan tersebut.
Temuan penelitian menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap ketimpangan pembangunan antarwilayah di Indonesia. Meski Indonesia Barat dikenal sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional, penelitian menunjukkan bahwa capaian pembangunan manusia di setiap provinsi masih sangat berbeda. Perbedaan tersebut terlihat dalam akses pendidikan, kualitas layanan kesehatan, tingkat kesejahteraan, hingga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Menurut Dirmansyah Darwin dan tim peneliti, pembangunan manusia tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga dari kualitas hidup masyarakat yang mencakup kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Karena itu, Indeks Pembangunan Manusia atau IPM menjadi indikator penting untuk melihat efektivitas kebijakan sosial dan ekonomi pemerintah daerah.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model regresi linear berganda untuk menganalisis hubungan antara variabel ekonomi dan pembangunan manusia di Indonesia Barat. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), laporan pertumbuhan ekonomi daerah, serta data anggaran pendidikan dan kesehatan dari pemerintah pusat maupun daerah. Penelitian mencakup wilayah Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan Barat selama rentang waktu 2017 hingga 2024.
Tim peneliti menganalisis pengaruh empat variabel utama terhadap IPM, yaitu pertumbuhan ekonomi, belanja pendidikan, belanja kesehatan, dan tingkat kemiskinan. Analisis dilakukan menggunakan uji statistik seperti uji t, uji F, dan koefisien determinasi untuk melihat seberapa besar kontribusi masing-masing variabel terhadap pembangunan manusia di kawasan Indonesia Barat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua faktor ekonomi berpengaruh langsung terhadap peningkatan pembangunan manusia.
Pertumbuhan ekonomi misalnya, justru ditemukan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan IPM. Nilai koefisien pertumbuhan ekonomi tercatat negatif sebesar -0,111 dengan tingkat signifikansi 0,595. Artinya, peningkatan pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah belum otomatis meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara merata.
Menurut penelitian, kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu disertai pemerataan pendapatan dan akses terhadap layanan dasar. Dalam beberapa daerah, pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati kelompok tertentu sehingga manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah.
Belanja pendidikan juga ditemukan belum memberikan dampak signifikan terhadap pembangunan manusia. Koefisien belanja pendidikan tercatat negatif sebesar -59,790 dengan tingkat signifikansi 0,304. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan anggaran pendidikan belum tentu menghasilkan peningkatan kualitas pendidikan apabila distribusi dana, efektivitas penggunaan anggaran, dan kualitas layanan pendidikan masih rendah.
Tim peneliti menilai bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan besarnya anggaran, tetapi juga bergantung pada kualitas guru, pemerataan akses pendidikan, fasilitas belajar, serta pengelolaan dana pendidikan secara efisien. Beberapa daerah di Indonesia Barat masih menghadapi kesenjangan pendidikan antarkabupaten dan kota yang memengaruhi kualitas pembangunan manusia secara keseluruhan.
Berbeda dengan dua variabel sebelumnya, belanja kesehatan justru menjadi faktor paling berpengaruh terhadap peningkatan IPM.
Penelitian menemukan bahwa belanja kesehatan memiliki koefisien positif sebesar 125,003 dengan tingkat signifikansi 0,047. Artinya, peningkatan investasi pemerintah di sektor kesehatan secara langsung mampu meningkatkan kualitas pembangunan manusia di Indonesia Barat.
Menurut penelitian, belanja kesehatan berkontribusi terhadap peningkatan harapan hidup, akses layanan kesehatan, kualitas gizi masyarakat, dan kemampuan masyarakat menjalani kehidupan yang lebih produktif. Daerah dengan alokasi belanja kesehatan lebih tinggi cenderung memiliki capaian pembangunan manusia yang lebih baik dibanding wilayah dengan layanan kesehatan terbatas.
Kemiskinan juga terbukti menjadi faktor yang sangat memengaruhi pembangunan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki koefisien negatif sebesar -0,358 dengan tingkat signifikansi 0,014. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat kemiskinan suatu daerah, semakin rendah pula kualitas pembangunan manusianya.
Penelitian menjelaskan bahwa kemiskinan membatasi akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan standar hidup layak. Masyarakat miskin cenderung mengalami kesulitan memperoleh pendidikan berkualitas, layanan medis memadai, maupun kesempatan ekonomi yang lebih baik. Akibatnya, pembangunan manusia menjadi terhambat dalam jangka panjang.
Dalam analisis keseluruhan model, penelitian menunjukkan bahwa kombinasi variabel pertumbuhan ekonomi, belanja pendidikan, belanja kesehatan, dan kemiskinan secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap IPM. Nilai uji F sebesar 3,064 dengan tingkat signifikansi 0,018 menunjukkan bahwa model penelitian cukup relevan untuk menjelaskan hubungan antara faktor ekonomi dan pembangunan manusia di Indonesia Barat.
Namun, penelitian juga menemukan bahwa kontribusi keempat variabel tersebut terhadap variasi IPM hanya sebesar 7,3 persen. Sisanya dipengaruhi faktor lain seperti kualitas pendidikan, distribusi pendapatan, infrastruktur, budaya sosial, hingga efektivitas kebijakan pemerintah daerah.
Menurut Dirmansyah Darwin dan tim peneliti, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia membutuhkan pendekatan yang lebih luas dibanding sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Investasi sosial, terutama di bidang kesehatan dan pengurangan kemiskinan, dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara nyata.
Penelitian juga memperkuat pandangan global bahwa pembangunan manusia harus menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pusat kebijakan pembangunan. Dalam konteks Indonesia Barat yang memiliki ketimpangan pembangunan cukup besar, kebijakan sosial yang tepat sasaran menjadi sangat penting untuk mengurangi kesenjangan kualitas hidup antarwilayah.
Bagi pemerintah daerah dan pembuat kebijakan nasional, hasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan dan program pengentasan kemiskinan harus menjadi prioritas utama pembangunan. Tanpa perbaikan di dua sektor tersebut, pertumbuhan ekonomi belum tentu mampu menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Profil Penulis
Dirmansyah Darwin merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Makassar, Indonesia, yang memiliki fokus penelitian pada pembangunan manusia, ekonomi regional, kebijakan fiskal, dan kesejahteraan sosial. Penelitian ini dilakukan bersama La Ode Muhammad Iksan Yusuf dan Andi Nur Wahyuningsih dari Universitas Negeri Makassar. Tim peneliti banyak mengkaji hubungan antara pertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah, kemiskinan, dan kualitas hidup masyarakat di Indonesia.
Sumber Penelitian
Dirmansyah Darwin, La Ode Muhammad Iksan Yusuf, & Andi Nur Wahyuningsih. “Determinants of Human Development in Western Indonesia from Economic, Poverty, and Fiscal Perspectives.” International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 4, 2026, halaman 347–356. DOI: https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i4.246

0 Komentar