Badai Kritik di TikTok: Mengapa Sistem Pembayaran COD E-Commerce Kebanjiran Sentimen Negatif Publik

Ilustrasi by AI

MALANG — Penggunaan sistem pembayaran Cash on Delivery atau COD di berbagai platform e-commerce kini berada di tengah pusaran kritik tajam netizen social media. Sebuah studi ilmiah populer berbasis teknologi pemrosesan bahasa alami yang dirilis pada tahun 2026 oleh peneliti Ahmad Tibrizi Soni Wicaksono, Sudarmiatin, dan Heri Pratikto dari Universitas Negeri Malang mengungkap realitas mengejutkan di balik fitur belanja bayar di tempat ini. Berdasarkan analisis mendalam terhadap ribuan interaksi digital di platform TikTok, riset ini membongkar bahwa sistem pembayaran COD dinilai gagal memfasilitasi transaksi yang aman dan justru memicu gelombang frustrasi massal di kalangan masyarakat.

Sebagai salah satu pilar utama dalam ekosistem belanja daring, metode COD awalnya dihadirkan sebagai inovasi inklusif bagi konsumen yang belum terjangkau sistem perbankan digital atau mengalami krisis kepercayaan terhadap transaksi non-tunai. Melalui opsi bayar saat barang sampai, pembeli mendapatkan kontrol langsung untuk memastikan paket telah mendarat dengan selamat sebelum uang berpindah tangan. Namun, seiring berjalannya waktu, kemudahan ini memicu tantangan operasional yang masif dan gesekan sosial yang nyata di lapangan, mulai dari kerugian finansial para pelaku usaha akibat pembatalan sepihak hingga beban kerja kurir yang mendadak rangkap jabatan sebagai kasir penagih uang.

Untuk memetakan pandangan riil masyarakat, tim peneliti dari Universitas Negeri Malang mengumpulkan data digital secara masif menggunakan teknik penambangan teks terhadap 12 konten video populer di TikTok yang khusus mengulas dinamika transaksi COD sepanjang periode tahun 2025 hingga 2026. Melalui pendekatan kuantitatif analitis, sebanyak 1.023 komentar otentik netizen diekstraksi dan disaring menggunakan algoritma Natural Language Processing atau pemrosesan bahasa alami. Seluruh teks obrolan dibersihkan dari kata penghubung yang tidak memiliki makna substantif, lalu dipetakan secara statistik untuk mendeteksi frekuensi kemunculan kata kunci utama serta arah kecenderungan emosi publik.

Hasil pemetaan kata kunci digital menunjukkan bahwa obrolan publik berpusat kuat pada istilah utama seperti COD, paket, barang, bayar, uang, dan retur. Hal ini menandakan bahwa perbincangan netizen memang fokus pada aspek fundamental transaksi fisik. Lebih mengkhawatirkan lagi, visualisasi percakapan tersebut didominasi oleh kata-kata bernuansa kelam seperti rugi, rumit, masalah, sulit, ditipu, palsu, takut, kejam, sedih, dan tolak. Istilah-istilah ini mencerminkan tingginya frekuensi insiden buruk yang dialami pengguna, kemunculan barang palsu dari oknum penjual nakal, serta konflik interpersonal yang traumatis antara kurir ekspedisi dan pihak pembeli saat paket dibuka.

Kondisi tersebut dipertegas oleh angka skor sentimen akhir yang menunjukkan ketimpangan yang sangat ekstrem. Percakapan publik mengenai sistem pembayaran COD di platform e-commerce secara mutlak didominasi oleh sentimen negatif yang mencapai angka 86,37 persen atau sebanyak 336 riwayat pernyataan tertulis. Di sisi lain, akumulasi respons positif hanya mampu menyentuh angka 13,63 persen atau 53 kemunculan saja. Angka penurunan tingkat kepuasan yang berada di atas 80 persen ini menjadi sinyal merah kuat bahwa masyarakat menganggap fitur COD tidak lagi memberikan kenyamanan, melainkan menjadi sumber masalah baru dalam ekosistem perdagangan digital.

Dampak dari temuan ilmiah ini menegaskan perlunya langkah perbaikan struktural yang radikal dari para pengelola platform e-commerce raksasa. Degradasi kepercayaan konsumen yang terjadi secara permanen ini menuntut perusahaan teknologi untuk segera memperkuat protokol keamanan operasional COD atau bahkan menghapusnya demi menjaga reputasi ekosistem digital. Regulasi ketat harus diterapkan demi melindungi kurir logistik dari sasaran kemarahan salah sasaran, serta pemberian sanksi tegas bagi penjual yang mengirimkan barang palsu maupun pembeli nakal yang sengaja melakukan pemesanan fiktif demi memutus rantai gesekan sosial di tengah masyarakat.

Sumber Penelitian: TikTok User Sentiments: Uncovering Perceptions of Cash on Delivery Method in E-Commerce, East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026. DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i5.126 URL: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar