Alat Ukur Baru Siap Uji Pengetahuan Keberlanjutan Calon Guru Sains di Indonesia

Ilustrasi by AI

MAKASSAR — Empat peneliti dari Universitas Negeri Makassar, Zulqifli Alqadri, Yulianti Yusal, Musawwir Usman, dan Amalia Rahmadani, berhasil mengembangkan instrumen penilaian baru untuk mengukur pengetahuan keberlanjutan berbasis masalah energi bagi calon guru sains. Langkah ini menjadi sangat penting karena kesiapan calon guru dalam menguasai isu lingkungan, ekonomi, dan sosial akan menentukan kualitas edukasi generasi masa depan menghadapi krisis iklim global. Uji coba awal instrumen ini dilakukan pada tahun 2026 melibatkan mahasiswa pendidikan sains untuk memastikan akurasi dan fungsi setiap butir soal.

Selama ini, penilaian kurikulum keberlanjutan di tingkat perguruan tinggi sering kali belum berimbang. Mahasiswa kedokteran, teknik, maupun sains umumnya lebih memahami isu keberlanjutan sebatas pada tema lingkungan saja, seperti polusi atau kerusakan alam. Padahal, konsep keberlanjutan yang sesungguhnya menuntut pemahaman yang terintegrasi dengan dampak ekonomi dan keadilan sosial. Masalah energi, mulai dari penggunaan bahan bakar fosil hingga transisi energi terbarukan, menjadi ruang ideal untuk menguji sejauh mana calon pendidik mampu melihat titik temu antara ketiga dimensi tersebut secara utuh.

Pengembangan alat ukur ini menggunakan desain penelitian instrumen dengan tahap uji coba empiris awal guna mengevaluasi kualitas psikometrisnya. Sebanyak 32 mahasiswa program studi Pendidikan Sains dilibatkan sebagai responden dalam satu kali sesi pengujian. Data jawaban yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif untuk melihat tingkat kesulitan soal, daya pembeda butir soal, serta estimasi reliabilitas konsistensi internal dengan menggunakan Formula Kuder-Richardson 20.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa performa rata-rata mahasiswa berada pada kategori moderat, dengan capaian nilai rata-rata sebesar 10,75 dari total nilai maksimal 15 poin. Skor sebagian besar mahasiswa berkumpul di rentang angka 9 hingga 12. Evaluasi mendalam pada tiap butir soal memperlihatkan adanya variasi tingkat kesulitan. Lima butir soal teridentifikasi masuk dalam kategori terlalu mudah karena mampu dijawab benar oleh hampir seluruh responden, sementara sepuluh butir soal lainnya bekerja dengan baik pada tingkat kesulitan sedang. Nilai reliabilitas awal tercatat sebesar 0,31, yang menandakan instrumen ini masih memerlukan revisi kalimat dan perbaikan opsi pengecoh sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas.

Temuan paling menarik dari analisis kategori soal menunjukkan adanya kesenjangan pola pikir mahasiswa. Responden mencatat persentase kebenaran yang tinggi pada soal-soal spesifik per domain, yaitu dimensi ekonomi sebesar 83,33 persen, dimensi lingkungan sebesar 81,25 persen, dan dimensi sosial sebesar 76,04 persen. Namun, ketika dihadapkan pada soal-soal integratif yang menuntut mereka menghubungkan dua atau tiga dimensi sekaligus dalam konteks energi nyata, persentase jawaban benar merosot hingga menjadi 58,85 persen. Hal ini membuktikan bahwa calon guru sains masih terbiasa berpikir secara terkotak-kotak dan kesulitan melakukan penalaran sistemis terhadap trade-off atau timbal balik kebijakan energi.

Dampak dari penelitian ini sangat krusial bagi masa depan arah pendidikan guru di Indonesia. Penurunan performa pada soal integratif menjadi sinyal kuat bagi pengelola program studi sains untuk segera membenahi metode perkuliahan. Calon guru tidak boleh hanya dicekoki teori sains murni, tetapi harus dilatih menganalisis isu sosio-saintifik nyata, seperti dampak sosial ekonomi dari penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara bagi masyarakat lokal. Instrumen yang dikembangkan ini berpotensi besar menjadi alat diagnostik awal bagi dosen untuk memetakan kelemahan berpikir sistem siswa sebelum mereka lulus dan mengajar di sekolah.

Profil Penulis: Zulqifli Alqadri adalah peneliti di Universitas Negeri Makassar. Yulianti Yusal adalah peneliti di Universitas Negeri Makassar. Musawwir Usman adalah peneliti di Universitas Negeri Makassar. Amalia Rahmadani adalah peneliti di Universitas Negeri Makassar.

Sumber Penelitian: Assessment of Sustainability Knowledge on Energy Issues: Development and Validation of an Instrument for Pre-Service Science Teachers, East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026. DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i5.97 URL: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar