Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Yogyakarta - Industri fashion Indonesia semakin dipengaruhi oleh kekuatan digital dan kreativitas produk. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Faizul Akbar Surbakti dan Albari dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia, yang dipublikasikan pada 2026, mengungkap bahwa pemasaran melalui media sosial dan inovasi produk terbukti meningkatkan minat beli konsumen, terutama melalui peran penting citra merek. Temuan ini menjadi relevan di tengah pesatnya pertumbuhan industri fashion digital di Indonesia.

Penelitian ini menyoroti bagaimana perilaku konsumen fashion kini tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh identitas diri dan gaya hidup. Dengan penetrasi digital yang tinggi, kategori fashion menjadi yang paling dominan dalam belanja online di Indonesia. Dalam konteks ini, strategi pemasaran digital dan inovasi produk menjadi kunci persaingan antar merek, baik lokal maupun global.

Latar Belakang: Persaingan Ketat dan Perubahan Perilaku Konsumen

Industri fashion mengalami transformasi besar akibat perubahan tren global dan perkembangan teknologi. Konsumen kini lebih aktif di media sosial seperti Instagram dan TikTok, yang menjadi sumber utama informasi sekaligus inspirasi gaya.

Di sisi lain, inovasi produk menjadi faktor penting agar merek tetap relevan. Produk dengan desain baru, kualitas lebih baik, dan nilai tambah yang sesuai tren terbukti lebih menarik perhatian konsumen. Tanpa inovasi berkelanjutan, konsumen cenderung beralih ke merek lain yang lebih adaptif.

Citra merek (brand image) kemudian menjadi penghubung utama antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen. Persepsi positif terhadap merek mampu meningkatkan kepercayaan dan mendorong minat beli.

Metodologi: Survei terhadap 374 Konsumen Fashion

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 374 responden konsumen fashion di Indonesia berusia 17–40 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dengan skala Likert.

Analisis dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS). Model penelitian mengacu pada teori Stimulus–Organism–Response (SOR), di mana:

  • Media sosial dan inovasi produk sebagai stimulus
  • Citra merek sebagai proses psikologis (organism)
  • Minat beli sebagai respons

Temuan Utama: Semua Faktor Saling Terhubung

Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan antar variabel. Berikut poin utama temuan:

  • Media sosial → Citra merek (positif dan signifikan)
  • Media sosial → Minat beli (positif dan signifikan)
  • Inovasi produk → Citra merek (paling kuat pengaruhnya)
  • Inovasi produk → Minat beli (signifikan)
  • Citra merek → Minat beli (signifikan)
  • Citra merek memediasi pengaruh media sosial dan inovasi produk terhadap minat beli

Data pada tabel hasil (halaman 13) menunjukkan bahwa seluruh hipotesis diterima dengan nilai signifikansi tinggi, menegaskan bahwa strategi digital dan inovasi tidak bekerja secara terpisah, melainkan saling memperkuat.

Selain itu, analisis deskriptif (halaman 6–7) menunjukkan bahwa responden cenderung “setuju hingga sangat setuju” terhadap peran media sosial, inovasi produk, dan citra merek dalam memengaruhi keputusan mereka.

Peran Kunci Citra Merek sebagai Penghubung

Salah satu temuan paling penting adalah peran citra merek sebagai mediator. Media sosial dan inovasi produk tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga membentuk persepsi konsumen terlebih dahulu sebelum akhirnya memengaruhi keputusan pembelian.

Dengan kata lain, konsumen tidak langsung membeli karena melihat iklan atau produk baru, tetapi karena mereka membangun kepercayaan dan persepsi positif terhadap merek tersebut.

Implikasi: Panduan Strategi bagi Industri Fashion

Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi praktis:

1. Optimalkan media sosial sebagai alat komunikasi, bukan sekadar promosi
Konten yang interaktif dan relevan mampu membangun hubungan emosional dengan konsumen.
2. Fokus pada inovasi produk yang nyata dan berkelanjutan
Inovasi desain, kualitas, dan fungsi menjadi faktor pembeda utama di pasar.
3. Bangun citra merek yang kuat dan konsisten
Persepsi positif konsumen menjadi kunci dalam mendorong minat beli.
4. Integrasikan strategi digital dan pengembangan produk
Kedua aspek ini harus berjalan seiring untuk hasil maksimal.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa inovasi produk memiliki pengaruh paling besar dalam membentuk citra merek dan minat beli, sehingga menjadi prioritas strategis bagi pelaku industri.

Profil Penulis

Muhammad Faizul Akbar Surbakti
Mahasiswa/peneliti di Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia. Fokus pada bidang pemasaran digital dan perilaku konsumen.

Albari
Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia, dengan keahlian di bidang manajemen pemasaran dan perilaku konsumen.

Sumber Penelitian

Surbakti, Muhammad Faizul Akbar & Albari. (2026). The Effect of Social Media Marketing and Product Innovation on Purchase Intention in the Fashion Industry with Brand Image as a Mediating Variable.
Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 4, hlm. 1165–1184.