Kapal Borobudur Jadi Kunci Visual Identitas Maritim Sriwijaya, Ungkap Peneliti ISI Bali
Penelitian yang dipimpin Yosef Yulius bersama tim dari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali pada 2026 menemukan bahwa bentuk kapal pada relief Candi Borobudur dapat menjadi dasar kuat untuk membangun identitas visual maritim Sriwijaya. Studi ini penting karena selama ini representasi visual Sriwijaya sebagai kerajaan maritim besar di Asia Tenggara dinilai belum konsisten dalam praktik desain modern.
Sriwijaya dikenal sebagai kekuatan maritim utama pada abad ke-7 hingga ke-9, dengan jaringan perdagangan yang menghubungkan India, Tiongkok, dan Asia Tenggara. Namun, meski memiliki peran besar dalam sejarah, simbol visual yang merepresentasikan identitas maritim Sriwijaya masih belum terdefinisi secara jelas. Kondisi ini mendorong para peneliti dari ISI Bali untuk mengkaji ulang artefak visual sejarah sebagai dasar identitas yang lebih kuat dan autentik.
Tim yang terdiri dari Yosef Yulius, Anak Agung Gde Bagus Udayana, Alit Kumala Dewi, dan I Wayan Mudra menggunakan pendekatan analisis visual kualitatif. Mereka meneliti gambar garis (line drawing) kapal Borobudur yang dibuat oleh Conradus Leemans pada abad ke-19. Gambar ini menyederhanakan relief asli sehingga struktur kapal dapat dianalisis lebih jelas, termasuk bagian lambung, cadik (outrigger), tiang layar, dan bentuk layar.
Selain analisis visual, penelitian ini juga mengacu pada Prasasti Kedukan Bukit yang mencatat perjalanan besar Dapunta Hyang dengan ribuan pengikut pada tahun 682 Masehi. Prasasti ini menunjukkan bahwa teknologi pelayaran sudah berkembang dan menjadi bagian penting dalam ekspansi politik Sriwijaya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal Borobudur memiliki karakteristik teknologi maritim yang maju dan sesuai dengan kebutuhan pelayaran jarak jauh. Beberapa temuan utama meliputi:
- Struktur lambung memanjang yang mendukung kecepatan dan efisiensi perjalanan laut
- Sistem cadik (outrigger) yang menjaga keseimbangan kapal di laut terbuka
- Tiang dan layar tanja yang memanfaatkan angin muson untuk navigasi
- Sistem tali (rigging) yang menunjukkan kompleksitas teknologi pelayaran
- Dek kapal sebagai ruang aktivitas kru dalam perjalanan panjang
Temuan ini menunjukkan bahwa kapal Borobudur bukan sekadar ilustrasi artistik, melainkan representasi nyata teknologi maritim Nusantara. Yosef Yulius dari ISI Bali menjelaskan bahwa bentuk kapal ini memiliki “legitimasi simbolik” sebagai representasi budaya maritim yang sejalan dengan era Sriwijaya.
Lebih jauh, penelitian ini menempatkan kapal Borobudur sebagai simbol visual yang mencerminkan mobilitas, konektivitas, dan kekuatan maritim. Secara ikonografis, setiap bagian kapal mengandung makna: lambung melambangkan perjalanan dan ekspansi, cadik mencerminkan adaptasi terhadap lingkungan laut, sementara layar menunjukkan interaksi manusia dengan alam.
Pendekatan ikonografi yang digunakan dalam penelitian ini memungkinkan artefak visual dipahami sebagai sistem tanda yang menyimpan makna budaya. Dengan kata lain, kapal tidak hanya dilihat sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai simbol peradaban maritim yang kompleks.
Integrasi antara data sejarah dan artefak visual menjadi kekuatan utama penelitian ini. Prasasti Kedukan Bukit memberikan bukti tekstual tentang mobilitas maritim Sriwijaya, sementara relief Borobudur menyediakan representasi visualnya. Kombinasi keduanya menghasilkan pemahaman yang lebih utuh tentang identitas maritim kerajaan tersebut.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa kemampuan Sriwijaya dalam menguasai jalur laut menjadi faktor utama dalam membangun kekuatan politik dan ekonomi. Kapal berfungsi sebagai alat distribusi manusia, barang, dan ide, sekaligus sebagai simbol kekuasaan dan konektivitas antarwilayah.
Dalam konteks modern, temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia desain dan budaya. Kapal Borobudur dapat digunakan sebagai referensi visual dalam membangun identitas maritim Indonesia yang berbasis sejarah. Hal ini relevan untuk pengembangan branding budaya, pariwisata, hingga industri kreatif.
Menurut tim peneliti ISI Bali, transformasi bentuk kapal menjadi simbol visual modern dapat dilakukan tanpa kehilangan makna aslinya. Proses penyederhanaan bentuk tetap mempertahankan elemen penting seperti proporsi, arah gerak, dan keseimbangan visual. Dengan demikian, artefak sejarah dapat diadaptasi menjadi identitas visual yang komunikatif dan relevan.
Selain itu, penelitian ini membuka peluang pengembangan kurikulum desain berbasis kearifan lokal. Mahasiswa desain dapat memanfaatkan artefak sejarah sebagai sumber inspirasi, sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya estetis tetapi juga memiliki nilai budaya.
Dari sisi kebijakan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penguatan identitas nasional berbasis maritim. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki sejarah panjang dalam pelayaran, dan visualisasi identitas maritim yang kuat dapat memperkuat posisi tersebut di tingkat global.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya pelestarian artefak budaya sebagai sumber pengetahuan. Relief Borobudur tidak hanya bernilai historis, tetapi juga menyimpan informasi teknologi dan budaya yang relevan hingga saat ini.
Profil Penulis
Yosef Yulius, S.Ds., M.Ds., adalah akademisi dan peneliti desain komunikasi visual di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, dengan fokus pada kajian identitas visual dan simbol budaya. Ia bekerja bersama Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Sn., Alit Kumala Dewi, S.Sn., M.Sn., dan I Wayan Mudra, S.Sn., M.Sn., yang memiliki keahlian di bidang seni rupa, desain, dan kajian budaya visual.Sumber Penelitian
DOI : https://doi.org/10.55927/ijis.v5i4.21
URL : https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index
0 Komentar