Kupang- Program Desa Mandiri Anggur Merah
Dorong Potensi Ekonomi Lokal di Timor Tengah Utara. Penelitian dilakukan oleh Yohanes
Made Supadi, Thomas Ola Langoday, dan Markus Asa dari Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi Oemathonis Kupang. Hasil studi dipublikasikan dalam Indonesian
Journal of Business Analytics (IJBA) Vol. 6 No. 1 (Februari 2026).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yohanes Made Supadi, Thomas Ola Langoday, dan Markus Asa dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Oemathonis Kupang menunjukkan bahwa Program Desa Mandiri Anggur Merah di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, memiliki potensi besar dalam mengembangkan sektor ekonomi desa, meskipun masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan keuangan usaha masyarakat.
Program Anggur Merah untuk Mendorong
Kemandirian Ekonomi Desa
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara
Timur meluncurkan Program Desa Mandiri Anggur Merah sebagai kebijakan
afirmatif untuk memperkuat ekonomi desa melalui pengembangan usaha produktif
masyarakat.
Program ini bertujuan untuk:
- mengurangi
kemiskinan di wilayah pedesaan
- meningkatkan
kapasitas ekonomi masyarakat desa
- memperkuat
pengelolaan dana bergulir untuk usaha mikro
- mendorong
masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi desa
Di Kabupaten Timor Tengah Utara, program ini telah mendorong munculnya berbagai usaha mikro di sektor pertanian, peternakan, perdagangan, dan jasa. Namun hasilnya belum merata. Beberapa kelompok usaha berkembang pesat, sementara yang lain mengalami stagnasi bahkan gagal berkembang.
Pertanian dan Peternakan Menjadi
Sektor Unggulan
Untuk mengidentifikasi sektor ekonomi
yang paling potensial, penelitian menggunakan dua metode analisis ekonomi
regional, yaitu Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis.
Hasil analisis menunjukkan bahwa
sektor pertanian menjadi sektor paling dominan di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Beberapa subsektor dengan keunggulan lokal meliputi:
- tanaman
pangan
- peternakan
- kehutanan
- industri
pengolahan
- konstruksi
- restoran
dan jasa hiburan
Tabel analisis pada halaman 112 jurnal
menunjukkan bahwa nilai Location Quotient (LQ) sektor pertanian mencapai
lebih dari 1, yang berarti sektor tersebut memiliki tingkat spesialisasi
lebih tinggi dibanding wilayah referensi.
Sektor peternakan, misalnya, memiliki nilai LQ sekitar 1,80, sementara subsektor kehutanan bahkan mencapai lebih dari 3, menunjukkan potensi keunggulan regional yang sangat kuat.
Analisis Daya Saing Menunjukkan
Potensi Pertumbuhan
Selain spesialisasi sektor, penelitian
juga menganalisis daya saing ekonomi menggunakan Shift Share Analysis.
Hasil analisis pada halaman 114 jurnal
menunjukkan bahwa beberapa sektor memiliki keunggulan kompetitif, di antaranya:
- sektor
pertanian
- sektor
industri pengolahan
- sektor
konstruksi
Sektor pertanian bahkan menunjukkan kombinasi antara spesialisasi dan keunggulan kompetitif, yang berarti sektor ini tidak hanya dominan secara lokal tetapi juga memiliki potensi pertumbuhan yang lebih cepat dibanding wilayah lain.
Temuan ini menegaskan bahwa pertanian dan peternakan dapat menjadi motor utama pembangunan ekonomi desa di wilayah tersebut.
Pengembangan Komoditas Unggulan
Berbasis Klaster
Penelitian juga mengusulkan pendekatan
pengembangan komoditas unggulan berbasis klaster industri desa.
Sebagai contoh, pengembangan sektor
peternakan dapat dilakukan melalui sistem multi-klaster yang mencakup:
- klaster
produksi pakan ternak
- klaster
pembibitan ternak
- klaster
penggemukan ternak
- klaster
pengolahan produk ternak
- klaster
pemasaran dan kemitraan
- klaster
lembaga keuangan mikro
- klaster
kontrol kualitas dan pusat pembibitan
Model klaster ini diharapkan mampu
meningkatkan nilai tambah produk serta memperkuat integrasi antara kegiatan
produksi, pengolahan, dan pemasaran.
Pendekatan serupa juga dapat
diterapkan pada sektor:
- perkebunan
(kopi, kakao, vanili, jambu mete)
- tanaman
pangan (jagung, kacang-kacangan, sayuran)
- perikanan
dan produk laut
Dengan pendekatan klaster, kegiatan ekonomi desa dapat berkembang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Tantangan Besar pada Pengelolaan
Keuangan Usaha
Meski memiliki potensi ekonomi yang
besar, penelitian menemukan bahwa banyak kelompok usaha penerima dana program
belum menerapkan manajemen keuangan yang baik.
Beberapa masalah yang ditemukan antara
lain:
- tidak
adanya pencatatan keuangan usaha
- pencampuran
keuangan usaha dan rumah tangga
- rendahnya
literasi keuangan pelaku usaha
- ketergantungan
pada dana bantuan pemerintah
Sebagian besar kelompok usaha bahkan
tidak memiliki informasi yang jelas mengenai biaya produksi maupun keuntungan
usaha yang mereka jalankan.
16197-IJBA-Artikel.2
Kondisi ini berpotensi menghambat keberlanjutan usaha mikro yang dibentuk melalui program pemberdayaan desa.
Model Akuntansi Double-Entry untuk
Usaha Desa
Sebagai solusi, penelitian ini
merekomendasikan penerapan model pembukuan akuntansi double-entry bagi
kelompok usaha desa.
Model ini memungkinkan pelaku usaha
untuk mencatat transaksi secara lebih sistematis melalui:
- jurnal
penerimaan kas
- jurnal
pengeluaran kas
- buku
penjualan
- buku
pembelian
- buku
persediaan
- laporan
laba rugi dan neraca usaha
Diagram proses akuntansi pada halaman
122 jurnal menggambarkan alur pencatatan mulai dari transaksi hingga penyusunan
laporan keuangan.
16197-IJBA-Artikel.2
Dengan sistem ini, pelaku usaha desa dapat memperoleh informasi keuangan yang lebih akurat untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa
Kabupaten Timor Tengah Utara memiliki potensi ekonomi desa yang kuat, terutama
pada sektor pertanian dan peternakan.
Namun keberhasilan program
pemberdayaan desa seperti Desa Mandiri Anggur Merah tidak hanya
bergantung pada potensi ekonomi lokal, tetapi juga pada kemampuan masyarakat
dalam mengelola usaha secara profesional.
Integrasi antara analisis keunggulan sektor ekonomi dan sistem manajemen keuangan mikro yang baik menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan usaha desa serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara jangka panjang.
Profil Penulis
- Yohanes Made Supadi- School of Economics Oemathonis, Department of Accounting, Kupang, Indonesia
- Thomas Ola Langoday- School of Economics Oemathonis, Department of Accounting, Kupang, Indonesia
- Markus Asa - School of Economics Oemathonis, Department of Accounting, Kupang, Indonesia
Sumber Penelitian
Supadi, Y. M., Langoday, T. O., &
Asa, M. (2026).Study of Business Advantages and Financial Management Models
in the Anggur Merah Self-Reliant Village Program in North Central Timor
Regency, East Nusa Tenggara.
Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6 No. 1, 107–126.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i1.16197
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijba

0 Komentar