Strategi Pengembangan Bisnis Berkelanjutan Berdasarkan Triple Bottom Line dan Resource-Based View di PT Permodalan Nasional Madani Mekaar Unit Kedaton

Ilustrasi by AI 

Strategi Bisnis Berkelanjutan PNM Mekaar Kedaton Perkuat Daya Saing dan Dampak Sosial

Strategi bisnis berkelanjutan di PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar Kedaton menjadi fokus penelitian yang dilakukan Hatni Resmi Sari dari Perbanas Institute Jakarta dan dipublikasikan tahun 2026 di Internasional Journal of Integrative Sciences. Studi ini menganalisis bagaimana pendekatan Triple Bottom Line (TBL) dan Resource-Based View (RBV) dapat memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan dampak sosial dan lingkungan pada lembaga pembiayaan ultra mikro. Temuan ini penting karena sektor mikrofinansial memegang peran strategis dalam pemberdayaan perempuan prasejahtera dan penguatan ekonomi nasional.

PNM melalui program Mekaar dikenal sebagai lembaga pembiayaan yang menyasar perempuan pelaku usaha ultra mikro. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan kinerja masih cenderung berorientasi pada aspek ekonomi. Dimensi sosial dan lingkungan belum sepenuhnya terintegrasi dalam indikator strategis dan pengukuran kinerja.

Latar Belakang: Tantangan Keberlanjutan di Sektor Mikrofinansial

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto Indonesia dan menyerap hampir seluruh tenaga kerja nasional. Di sisi lain, banyak pelaku usaha ultra mikro masih menghadapi keterbatasan literasi keuangan, akses teknologi, dan praktik bisnis ramah lingkungan.

Di tengah perkembangan teknologi finansial dan meningkatnya persaingan, lembaga seperti PNM dituntut tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga membangun model bisnis yang berkelanjutan. Konsep Triple Bottom Line menekankan keseimbangan antara keuntungan (profit), dampak sosial (people), dan tanggung jawab lingkungan (planet). Sementara Resource-Based View menyoroti pentingnya keunggulan internal sebagai sumber daya strategis yang sulit ditiru.

Metodologi Penelitian

Penelitian dilakukan pada Unit Mekaar Kedaton dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.

Sumber data utama berasal dari:

  • Kepala Unit Mekaar Kedaton
  • Senior Account Officer

Teknik pengumpulan data meliputi:

  • Wawancara mendalam
  • Observasi langsung
  • Dokumentasi
  • Diskusi kelompok terarah

Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis strategi menggunakan pendekatan SWOT, IFE–EFE, serta matriks IE dan TOWS untuk memetakan posisi kompetitif unit usaha.

Temuan Utama: Kekuatan Internal dan Kelemahan Strategis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Unit Mekaar Kedaton memiliki sejumlah keunggulan internal yang signifikan.

Kekuatan utama meliputi:

  • Kompetensi sumber daya manusia dalam pendampingan nasabah
  • Modal sosial dan kedekatan dengan kelompok nasabah
  • Dukungan institusional dari PNM
  • Reputasi positif dalam pemberdayaan ekonomi perempuan

Sumber daya tersebut dinilai bernilai tinggi dan sulit ditiru, sehingga menjadi keunggulan strategis jangka panjang sesuai perspektif Resource-Based View.

Namun, penelitian juga mengidentifikasi beberapa kelemahan:

  • Literasi keuangan nasabah masih rendah
  • Digitalisasi layanan belum optimal
  • Belum tersedia indikator formal untuk mengukur dampak sosial dan lingkungan
  • Kapasitas inovasi pembiayaan hijau masih terbatas

Skor Internal Factor Evaluation (IFE) sebesar 2,98 menunjukkan kondisi internal relatif kuat. Sementara skor External Factor Evaluation (EFE) sebesar 2,75 mengindikasikan respons yang cukup baik terhadap peluang eksternal, seperti dukungan pemerintah terhadap UMKM dan tren digitalisasi keuangan.

Berdasarkan matriks IE, Unit Mekaar Kedaton berada pada posisi “hold and maintain” atau bertahan dan memelihara. Posisi ini menuntut penguatan kemampuan internal sambil memanfaatkan peluang eksternal secara selektif.

Implikasi dan Dampak Strategis

Penelitian ini merekomendasikan integrasi sistematis antara prinsip Triple Bottom Line dan kekuatan internal berbasis Resource-Based View.

Langkah strategis yang disarankan antara lain:

  • Mengembangkan indikator kinerja keberlanjutan yang terukur
  • Memperluas program literasi keuangan bagi nasabah
  • Meningkatkan digitalisasi layanan pembiayaan dan pendampingan
  • Menginisiasi pembiayaan mikro berbasis lingkungan (green microfinance)
  • Membangun kemitraan dengan pemerintah daerah dan komunitas UMKM

Hatni Resmi Sari dari Perbanas Institute Jakarta menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi strategi inti untuk menjaga daya saing. Ia menyampaikan bahwa kekuatan internal seperti kompetensi pendampingan dan modal sosial harus diintegrasikan dengan pengukuran dampak sosial dan lingkungan yang terstruktur agar manfaat ekonomi dapat berjalan seimbang dengan pemberdayaan masyarakat.

Bagi pembuat kebijakan, temuan ini menegaskan pentingnya dukungan regulasi yang mendorong pengukuran dampak sosial dan lingkungan di sektor mikrofinansial. Bagi manajemen lembaga keuangan, penelitian ini menjadi panduan praktis dalam menyusun model bisnis yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan kredit, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang.

Sementara bagi pelaku usaha ultra mikro, peningkatan literasi keuangan dan akses terhadap pembiayaan yang bertanggung jawab dapat memperkuat ketahanan usaha di tengah ketidakpastian ekonomi.

Profil Penulis

Hatni Resmi Sari, S.E., M.M. Perbanas Institute Jakarta

Sumber Penelitian

Hatni Resmi Sari. (2026).
“Sustainable Business Development Strategy Based on the Triple Bottom Line and Resource-Based View at PT Permodalan Nasional Madani Mekaar Kedaton Unit.”
Internasional Journal of Integrative Sciences (IJIS), Vol. 5 No. 2, 397–410.

Posting Komentar

0 Komentar