Strategi Bertahan Hidup dan Mengatasi Kesulitan dalam Tiga Tahun Pertama Pemberlakuan Harapan Baru di Kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Lagos


Ilustrasi by AI 

Nigeria - Perkembangan open access dan repositori institusi di perguruan tinggi Nigeria masih berjalan lambat. Studi terbaru yang ditulis Funom Blessing Chika dari University of Abuja dan Oberhiri Orumah Godwin dari Federal Polytechnic Ekowe menemukan bahwa hanya sekitar 10–15 persen universitas di Nigeria yang memiliki repositori institusi aktif hingga 2024. Penelitian ini dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Applied and Scientific Research dan menyoroti dampaknya terhadap visibilitas riset nasional di tingkat global.

Temuan ini penting karena Nigeria memiliki salah satu sistem pendidikan tinggi terbesar di Afrika. Ribuan artikel jurnal, tesis, dan laporan penelitian dihasilkan setiap tahun. Namun tanpa akses terbuka dan infrastruktur digital yang memadai, banyak karya ilmiah tersebut sulit ditemukan, jarang dikutip, dan kurang dikenal secara internasional.

Open Access dan Tantangan Visibilitas Riset

Secara global, gerakan open access (OA) mendorong akses gratis terhadap hasil penelitian. Repositori institusi (institutional repository/IR) menjadi salah satu jalur utama open access, memungkinkan universitas menyimpan dan menyebarkan karya ilmiah dosen dan mahasiswanya dalam format digital.

Di Nigeria, perkembangan IR dimulai pada akhir 2000-an, tetapi pertumbuhannya belum merata. Tidak adanya kebijakan nasional tentang open access membuat pengembangan repositori bergantung pada inisiatif masing-masing kampus, terutama melalui perpustakaan universitas.

Funom Blessing Chika dan Oberhiri Orumah Godwin menilai bahwa tanpa kerangka kebijakan yang kuat, repositori hanya menjadi proyek teknis, bukan strategi nasional peningkatan reputasi akademik.

Metodologi: Analisis Data Sekunder 2010–2025

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis data sekunder. Penulis tidak melakukan survei lapangan baru, melainkan mengompilasi data dari berbagai sumber, antara lain:

  • Direktori repositori seperti OpenDOAR dan ROAR
  • Dokumen kebijakan universitas
  • Artikel ilmiah tentang open access di Nigeria
  • Data resmi jumlah universitas dari National Universities Commission

Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk melihat tren pertumbuhan. Sementara itu, temuan kualitatif dikelompokkan berdasarkan tema seperti kebijakan, tantangan teknis, dan dampak terhadap sitasi.

Pendekatan ini memberikan gambaran longitudinal mengenai perkembangan repositori selama 15 tahun terakhir.

Temuan Utama: Infrastruktur Ada, Kebijakan Minim

Beberapa hasil kunci dari penelitian ini adalah:

  1. Tingkat Adopsi Rendah: Dari 202 universitas yang terakreditasi, hanya sekitar 21 yang memiliki repositori aktif. Artinya, tingkat adopsi nasional masih sekitar 10,4 persen.
  2. Ketimpangan Regional: Wilayah South-West Nigeria memiliki jumlah repositori terbanyak, disusul North-Central dan South-East. Perbedaan ini diduga berkaitan dengan kesiapan infrastruktur digital dan dukungan institusi.
  3. Dominasi Artikel dan Tesis
  4. Tidak Ada Mandat Nasional Open Access: Nigeria belum memiliki kebijakan nasional yang mewajibkan penyimpanan karya ilmiah secara terbuka. Di tingkat institusi, kebijakan formal juga sangat jarang.
  5. Kualitas Metadata Berpengaruh pada Sitasi: Penelitian yang dirujuk dalam studi ini menunjukkan bahwa repositori dengan metadata lengkap dan terstruktur memiliki tingkat sitasi lebih tinggi. Artinya, visibilitas bukan hanya soal unggah dokumen, tetapi juga soal pengelolaan data yang baik.

Hambatan Utama

Studi ini mengidentifikasi beberapa kendala besar:

  • Pasokan listrik dan internet yang tidak stabil
  • Keterbatasan tenaga ahli di bidang kurasi digital dan metadata
  • Minimnya alokasi anggaran khusus repositori
  • Rendahnya partisipasi dosen dalam mengunggah karya
  • Tidak adanya insentif atau kewajiban formal

Menurut Chika dan Godwin, kombinasi faktor ini membuat banyak repositori berjalan stagnan dan tidak berkembang optimal

Implikasi bagi Kebijakan Pendidikan Tinggi

Penelitian ini menyimpulkan bahwa repositori institusi di Nigeria telah tumbuh, tetapi belum menjadi sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Funom Blessing Chika dari University of Abuja menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup. Diperlukan kebijakan institusional yang jelas agar setiap karya ilmiah yang diterbitkan juga diarsipkan secara terbuka.

Relevansi Global

Temuan ini tidak hanya relevan bagi Nigeria. Banyak negara berkembang menghadapi tantangan serupa dalam membangun ekosistem open access. Tanpa kebijakan yang mendukung dan pendanaan berkelanjutan, repositori digital sulit berkembang menjadi infrastruktur strategis.

Repositori institusi seharusnya menjadi jembatan antara peneliti lokal dan komunitas ilmiah global. Jika dikelola dengan baik, sistem ini dapat memperkuat kolaborasi internasional dan meningkatkan kontribusi ilmiah dari kawasan Global South.

Profil Penulis

  • Funom Blessing Chika: Peneliti di University of Abuja, Nigeria. Bidang keahlian: kebijakan open access dan komunikasi ilmiah.
  • Oberhiri Orumah Godwin: Akademisi di Federal Polytechnic Ekowe, Bayelsa State, Nigeria. Fokus riset: visibilitas penelitian dan manajemen informasi.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar