Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jakarta - Bahasa Jadi Senjata Geopolitik: Studi Ungkap Cara Negara Besar Membentuk Opini Dunia. Temuan yang dilakukan oleh Iskandarsyah Siregar dari Universitas Nasional dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Journal of Language Development and Linguistics (JLDL) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana Amerika Serikat, Rusia, China, dan Uni Eropa menggunakan bahasa untuk memengaruhi opini internasional sepanjang 2015–2025, serta mengapa strategi ini menentukan arah politik dunia.
Penelitian yang dilakukan oleh Iskandarsyah Siregar dari Universitas Nasional menyoroti bahwa bahwa pilihan kata dalam pidato resmi, siaran pers pemerintah, dan pemberitaan media bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari strategi terencana untuk membangun legitimasi, melemahkan lawan, dan memperkuat posisi politik suatu negara.
Penelitian yang dilakukan oleh Iskandarsyah Siregar dari Universitas Nasional menyoroti bahwa bahwa pilihan kata dalam pidato resmi, siaran pers pemerintah, dan pemberitaan media bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari strategi terencana untuk membangun legitimasi, melemahkan lawan, dan memperkuat posisi politik suatu negara.
Latar Belakang: Ketika Kata-Kata Menentukan Kekuasaan
Selama satu dekade terakhir, dunia menyaksikan meningkatnya ketegangan globalmulai dari konflik regional hingga rivalitas ekonomi antarnegara besar. Dalam situasi ini, narasi menjadi kunci. Negara tidak hanya berperang secara militer atau ekonomi, tetapi juga melalui bahasa. Penelitian menyoroti bahwa istilah seperti “demokrasi”, “kedaulatan”, atau “kerja sama” sering digunakan untuk membingkai kebijakan agar tampak sah dan diterima publik internasional. Sebaliknya, istilah tertentu juga dipakai untuk mendeligitimasi pihak lawan.
Metodologi: Analisis 250 Dokumen Global
Penelitian ini menganalisis 250 dokumen yang terdiri dari pidato resmi, siaran pers pemerintah, dan pemberitaan media internasional dari Amerika Serikat, Rusia, China, dan Uni Eropa.
Pendekatan yang digunakan menggabungkan:
- Analisis wacana kritis (untuk melihat relasi bahasa dan kekuasaan).
- Analisis semiotika (untuk memahami simbol dan makna).
- Analisis pragmatik (untuk membaca maksud tersembunyi dalam bahasa).
Dengan pendekatan ini, penelitian mampu mengungkap pola bahasa yang konsisten digunakan negara-negara besar dalam diplomasi global.
Temuan Utama: Empat Strategi Bahasa Dominan
Penelitian menemukan empat strategi linguistik utama yang digunakan dalam geopolitik global:
Framing (35%) – Strategi paling dominan
Digunakan untuk membentuk cara publik memahami suatu isu.
Digunakan untuk membentuk cara publik memahami suatu isu.
Amerika Serikat menjadi pengguna terbesar (45%).
Contoh: penggunaan kata “kebebasan” dan “demokrasi” untuk membenarkan intervensi militer.
Eufemisme (28%) – Menghaluskan realitas
Digunakan untuk mengurangi dampak negatif kebijakan kontroversial.
Eufemisme (28%) – Menghaluskan realitas
Digunakan untuk mengurangi dampak negatif kebijakan kontroversial.
China memimpin (40%) dengan istilah seperti “peaceful development” dan “win-win cooperation”.
AS juga menggunakan istilah seperti “democracy enforcement operations” вместо “intervensi militer”.
Delegitimisasi (22%) – Melemahkan lawan
Digunakan untuk membangun citra negatif terhadap pihak lain.
Uni Eropa (35%) активно menggunakan strategi ini, terutama dalam narasi Brexit.
Rusia (30%) menggunakan istilah “reunifikasi” untuk Crimea, berlawanan dengan istilah “aneksasi” dari Barat.
Metafora konseptual (15%) – Membangun narasi kuat
Meski paling sedikit, dampaknya besar.
AS mendominasi (50%) dengan metafora seperti “war on terrorism”.
Metafora ini menciptakan rasa urgensi global dan legitimasi kebijakan keamanan.
Dampak dan Implikasi: Dari Diplomasi hingga Kebijakan Publik
Temuan ini memiliki dampak luas di berbagai bidang:
Diplomasi Internasional
Negara dengan strategi bahasa yang kuat cenderung lebih berhasil membentuk opini global dan memenangkan dukungan internasional.
Media dan Informasi
Media berperan sebagai penguat strategi bahasa negara. Pilihan kata dalam berita dapat memperkuat bias geopolitik tertentu.
Pendidikan dan Akademik
Studi ini membuka perspektif baru bahwa linguistik bukan hanya ilmu bahasa, tetapi juga alat analisis kekuasaan global.
Kebijakan Publik
Pemerintah dapat memanfaatkan strategi bahasa untuk meningkatkan legitimasi kebijakan, baik di dalam maupun luar negeri.
Profil Penulis
Iskandarsyah Siregar adalah akademisi di Universitas Nasional yang memiliki keahlian di bidang linguistik politik, analisis wacana, dan hubungan internasional.
Sumber Penelitian
Siregar, Iskandarsyah. 2026. Linguistics as Geopolitical Strategy: Framing, Legitimacy, and Power in Global Discourse. Journal of Language Development and Linguistics (JLDL), Vol. 5 No. 1, hlm. 43–56.

0 Komentar