Penelitian ini penting di tengah meningkatnya tekanan degradasi lahan pertanian di Indonesia. Di banyak daerah, petani kecil—yang mengelola lahan kurang dari dua hektare—berada di posisi paling rentan. Mereka dituntut menjaga produktivitas sekaligus menghadapi perubahan iklim, namun memiliki sumber daya ekonomi yang terbatas. Temuan riset ini membantu menjelaskan mengapa sebagian petani cepat beradaptasi, sementara yang lain memilih bertahan dengan cara lama.
Dilema Petani Kecil di Tengah Tekanan Lingkungan
Kerusakan lahan pertanian akibat erosi, penurunan kesuburan tanah, dan praktik budidaya yang tidak ramah lingkungan menjadi persoalan global. Di Indonesia, khususnya Jawa Timur, intensifikasi pertanian yang tidak diimbangi konservasi lahan mempercepat degradasi tanah. Pemerintah telah mendorong berbagai program pertanian berkelanjutan, tetapi tingkat adopsinya di tingkat petani kecil masih bervariasi.
Menurut Markus Patiung, variasi ini tidak bisa dilepaskan dari cara petani memandang risiko dan manfaat secara ekonomi. “Petani kecil harus memastikan kebutuhan hidup harian terpenuhi. Praktik berkelanjutan akan dipertimbangkan jika tidak mengancam pendapatan mereka dalam jangka pendek,” tulisnya dalam analisis penelitian.
Cara Penelitian Dilakukan
Studi ini menggunakan pendekatan mixed methods, menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Survei terstruktur dilakukan terhadap 60 petani kecil di Kabupaten Malang yang terdiri dari petani adopter dan non-adopter praktik pengelolaan lahan berkelanjutan. Data ini kemudian diperdalam melalui wawancara mendalam dengan lima informan kunci, termasuk petani, penyuluh pertanian, dan ketua kelompok tani.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti tidak hanya melihat angka statistik, tetapi juga memahami alasan di balik keputusan petani. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengukur pengaruh faktor ekonomi, sementara wawancara menggambarkan bagaimana petani menimbang untung dan rugi dalam kehidupan nyata.
Temuan Utama: Petani Bertindak Rasional
Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani kecil bertindak sebagai pengambil keputusan ekonomi yang rasional. Ada empat temuan utama yang menonjol:
Pertama, pendapatan petani berperan besar. Petani dengan pendapatan lebih tinggi memiliki peluang 2,32 kali lebih besar untuk mengadopsi praktik pengelolaan lahan berkelanjutan dibandingkan petani berpendapatan rendah. Pendapatan berfungsi sebagai “penyangga risiko” yang membuat petani lebih berani mencoba cara baru.
Kedua, biaya adopsi menjadi penghambat serius. Semakin tinggi biaya awal yang harus dikeluarkan, semakin kecil kemungkinan petani beralih ke praktik berkelanjutan. Kenaikan biaya adopsi secara signifikan menurunkan peluang adopsi hingga lebih dari separuh. Bagi banyak petani kecil, biaya tambahan di awal dianggap terlalu berisiko.
Ketiga, akses informasi mendorong keberanian petani. Petani yang memiliki akses lebih baik terhadap penyuluhan dan informasi pertanian memiliki peluang lebih dari dua kali lipat untuk mengadopsi praktik berkelanjutan. Informasi membantu petani memahami perhitungan ekonomi, bukan sekadar mengikuti tren.
Keempat, persepsi risiko menahan keputusan. Ketakutan terhadap gagal panen atau pendapatan yang tidak stabil membuat banyak petani menunda adopsi. Persepsi risiko yang tinggi menurunkan peluang adopsi secara signifikan, terutama pada petani dengan modal terbatas.
Suara Petani dari Lapangan
Wawancara mendalam memperkuat temuan statistik. Petani yang telah mengadopsi praktik berkelanjutan menyebut stabilitas pendapatan sebagai kunci keberanian mereka. “Kalau ekonomi agak aman, kita berani coba cara baru. Kalau gagal, masih bisa bertahan,” ujar salah satu petani adopter.
Sebaliknya, petani non-adopter mengaku tertarik tetapi memilih menunggu. “Saya sebenarnya ingin mencoba, tapi kondisi sekarang belum memungkinkan. Takut kalau hasil turun,” kata seorang petani yang masih bertahan dengan cara konvensional.
Penyuluh pertanian yang diwawancarai juga mengakui pola ini. Petani dengan kondisi ekonomi lebih stabil cenderung lebih cepat menerima inovasi, sementara petani dengan pendapatan pas-pasan bersikap sangat hati-hati.
Implikasi bagi Kebijakan Publik
Temuan ini membawa pesan penting bagi perancang kebijakan pertanian. Program pertanian berkelanjutan tidak cukup hanya menekankan manfaat lingkungan. Tanpa insentif ekonomi yang jelas, adopsi akan berjalan lambat.
Penelitian ini menyarankan beberapa langkah strategis:
- Mengurangi biaya awal adopsi melalui subsidi, bantuan sarana produksi, atau skema kredit lunak.
- Memperkuat sistem penyuluhan dan informasi, agar petani memahami manfaat ekonomi jangka panjang.
- Menyediakan perlindungan risiko, seperti asuransi pertanian, untuk mengurangi ketakutan akan gagal panen.
Dengan pendekatan ini, praktik berkelanjutan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi yang masuk akal bagi petani kecil.
Profil Singkat Penulis Markus Patiung, S.P., M.Sc. Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Bidang keahlian meliputi ekonomi pertanian, perilaku ekonomi petani, dan pertanian berkelanjutan.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Economic Behavior of Smallholder Farmers in Adopting Sustainable Land Management Practices
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Tahun: 2026
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 1, halaman 53–64
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.381
URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst
0 Komentar