Pemberdayaan Lingkungan yang Bersih dan Sehat melalui Bank Sampah Kampung Bugel Salam RT 02/RW 02

Ilustrasi by AI

Bekasi, Jawa Barat— Pemberdayaan Lingkungan yang Bersih dan Sehat melalui Bank Sampah Kampung Bugel Salam RT 02/RW 02. Penelitian ini dilakukan oleh Supini, Abdul Aziiz Maulana, Aa Setiawan, Euis Sri Mulyani, Muhammad Rofi, Mulyanni Hasbiyah, Nasrulloh Muhammad Noor Suryadi Putra, Nurmalasari, Nining Khirunnisa, Nimas Safitri, Pranowo, dan Setia Azmulkhoer dari Universitas Panca Sakti Bekasi, dan dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) pada tahun 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Supini, Abdul Aziiz Maulana, Aa Setiawan, Euis Sri Mulyani, Muhammad Rofi, Mulyanni Hasbiyah, Nasrulloh Muhammad Noor Suryadi Putra, Nurmalasari, Nining Khirunnisa, Nimas Safitri, Pranowo, dan Setia Azmulkhoer mengungkapkan bahwa pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas melalui bank sampah mampu meningkatkan literasi lingkungan, mendorong perubahan perilaku, serta membuka peluang ekonomi lokal melalui pengelolaan sampah yang lebih sistematis.

Sampah rumah tangga sebagai tantangan lingkungan perkotaan

Permasalahan sampah rumah tangga masih menjadi isu utama di wilayah padat penduduk, termasuk di Kampung Bugel Salam. Sebelum program berjalan, sebagian besar warga belum terbiasa melakukan pemilahan sampah, sementara praktik membuang atau membakar sampah secara langsung masih umum dilakukan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.

Tim peneliti dari Universitas Panca Sakti Bekasi menilai bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknis seperti penyediaan fasilitas. Perubahan perilaku masyarakat dan penguatan partisipasi komunitas menjadi faktor kunci keberhasilan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Bank sampah kemudian dipilih sebagai strategi karena mampu menggabungkan aspek edukasi lingkungan, partisipasi sosial, dan manfaat ekonomi dalam satu sistem berbasis masyarakat.

Pendekatan partisipatif: masyarakat sebagai aktor utama

Program Bank Sampah “Hegar Hijau” dirancang dengan pendekatan community-based empowerment yang menempatkan warga sebagai pelaku utama. Masyarakat terlibat sejak tahap awal melalui survei kebutuhan, diskusi kelompok, hingga pembentukan struktur organisasi bank sampah.

Kegiatan utama yang dilakukan meliputi:

  1. Sosialisasi pentingnya kebersihan lingkungan dan nilai ekonomi sampah.
  2. Pelatihan pemilahan sampah organik dan anorganik.
  3. Pembentukan pengurus bank sampah serta pembagian tugas operasional.
  4. Simulasi sistem tabungan berbasis berat sampah.
  5. Pendampingan dan evaluasi rutin untuk menjaga keberlanjutan program.

Perubahan nyata: dari kesadaran hingga manfaat ekonomi

Penelitian menemukan beberapa perubahan signifikan setelah program berjalan yaitu sebagai berikut:

1.      Terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai jenis sampah dan dampaknya terhadap lingkungan. Edukasi praktis membuat warga lebih memahami pentingnya pemilahan sejak dari rumah tangga.

2.      Tingkat partisipasi warga meningkat. Masyarakat mulai rutin menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah, terlibat dalam kegiatan penimbangan, serta mengikuti sistem pencatatan tabungan sampah.

3.      Muncul manfaat ekonomi meskipun masih dalam skala kecil. Sampah yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat dijual kepada pengepul, memberikan tambahan penghasilan bagi warga sekaligus memperkenalkan konsep ekonomi sirkular.

Selain itu, program ini juga berdampak pada peningkatan kebersihan lingkungan. Volume sampah yang dibuang langsung ke lingkungan berkurang, sehingga membantu menekan potensi pencemaran tanah, air, dan udara.

Tantangan perubahan kebiasaan masyarakat

Meski menunjukkan hasil positif, penelitian juga mencatat sejumlah tantangan. Kebiasaan lama masyarakat yang sulit berubah menjadi hambatan utama dalam menjaga konsistensi pemilahan sampah. Tidak semua warga dapat berpartisipasi secara rutin karena keterbatasan waktu dan aktivitas sehari-hari.

Tim peneliti menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan serta dukungan dari pemerintah desa dan pemangku kepentingan lainnya. Penguatan kelembagaan bank sampah dan peningkatan kapasitas manajemen komunitas dinilai menjadi faktor penting agar program dapat bertahan dalam jangka panjang.

Implikasi bagi kebijakan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat

Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi pengelolaan lingkungan di tingkat lokal. Bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai solusi teknis pengurangan sampah, tetapi juga sebagai sarana pembangunan sosial yang memperkuat solidaritas warga dan meningkatkan kemandirian komunitas.

Peneliti merekomendasikan beberapa langkah strategis, antara lain:

  1. Itegrasi edukasi lingkungan dalam kegiatan rutin masyarakat.
  2. Penyusunan regulasi desa terkait pemilahan sampah.
  3.  Pengembangan sistem insentif bagi warga aktif.
  4. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, NGO, dan sektor swasta melalui program CSR.
  5.   Digitalisasi pencatatan bank sampah untuk meningkatkan transparansi.

Profil penulis

     Supini, Abdul Aziiz Maulana, Aan Setiawan, Euis Sri Mulyani, Muhammad Rofi, Mulyanni Hasbiyah, Nasrulloh Muhammad Noor Suryadi Putra, Nurmalasari, Nining Khirunnisa, Nimas Safitri, Pranowo, dan Setia Azmulkhoer – Universitas Panca Sakti Bekasi 

Sumber penelitian

Supini, Maulana, A. A., Setiawan, A., Mulyani, E. S., Rofi, M., Hasbiyah, M., Putra, N. M. N. S., Nurmalasari, Khirunnisa, N., Safitri, N., Pranowo, & Azmulkhoer, S. (2026).

Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, hlm. 25–36.

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i1.117

URL Resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/jpmf

Posting Komentar

0 Komentar