Kemampuan mengelola keuangan terbukti menjadi faktor paling menentukan dalam membentuk pola pikir kewirausahaan mahasiswa. Temuan ini diungkap oleh Agung Edy Wibowo, Asman Abnur, dan Hendra Syaiful dari Batam Tourism Polytechnic dalam riset yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Applied Educational Research. Studi ini penting karena menantang anggapan lama bahwa motivasi internal dan rasa percaya diri sudah cukup untuk melahirkan jiwa wirausaha di kalangan mahasiswa.
Riset tersebut mengulas bagaimana motivasi intrinsik, kepercayaan diri (self-efficacy), dan literasi keuangan saling berinteraksi dalam membentuk entrepreneurial mindset mahasiswa. Hasilnya menunjukkan pesan yang tegas: tanpa literasi keuangan yang memadai, motivasi dan rasa percaya diri belum tentu berujung pada pola pikir kewirausahaan yang kuat.
Tantangan Membangun Jiwa Wirausaha Mahasiswa
Di tengah persaingan ekonomi global dan ketidakpastian pasar kerja, perguruan tinggi didorong untuk tidak hanya mencetak lulusan pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Pola pikir kewirausahaan menjadi bekal penting, bukan hanya bagi calon pengusaha, tetapi juga bagi lulusan yang ingin adaptif, inovatif, dan tahan terhadap perubahan.
Namun, banyak program pendidikan kewirausahaan masih berfokus pada aspek psikologis, seperti membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri. Menurut para peneliti, pendekatan ini belum tentu efektif jika tidak disertai kemampuan praktis, terutama dalam memahami dan mengelola keuangan.
Cara Penelitian Dilakukan
Tim peneliti melibatkan 81 mahasiswa strata satu yang telah menempuh mata kuliah pengantar akuntansi, manajemen keuangan, atau kewirausahaan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik untuk melihat hubungan antarvariabel secara menyeluruh.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menilai bukan hanya pengaruh langsung masing-masing faktor, tetapi juga bagaimana literasi keuangan berperan sebagai penguat atau pelemah hubungan antara motivasi, kepercayaan diri, dan pola pikir kewirausahaan.
Temuan Utama: Literasi Keuangan Paling Berpengaruh
Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:
- Literasi keuangan memiliki pengaruh sangat kuat dan positif terhadap pola pikir kewirausahaan mahasiswa. Mahasiswa yang memahami pengelolaan keuangan, arus kas, risiko, dan perencanaan finansial cenderung lebih realistis dan strategis dalam memandang peluang usaha.
- Motivasi intrinsik tidak berpengaruh langsung secara signifikan. Semangat dan minat internal saja belum cukup untuk membentuk cara berpikir wirausaha tanpa dukungan kemampuan finansial.
- Kepercayaan diri juga tidak berpengaruh langsung. Rasa yakin pada kemampuan diri tidak otomatis membuat mahasiswa berpikir dan bertindak layaknya wirausahawan.
- Literasi keuangan memperkuat pengaruh motivasi intrinsik. Mahasiswa yang termotivasi secara internal akan lebih mudah mengembangkan pola pikir kewirausahaan jika dibekali pemahaman keuangan yang baik.
- Literasi keuangan tidak memperkuat pengaruh kepercayaan diri. Artinya, percaya diri tanpa pengalaman dan pengetahuan praktis tetap belum cukup.
Secara keseluruhan, model penelitian ini mampu menjelaskan 93,8 persen variasi pola pikir kewirausahaan mahasiswa—angka yang tergolong sangat tinggi dalam penelitian sosial.
Mengapa Literasi Keuangan Sangat Menentukan?
Menurut Agung Edy Wibowo, literasi keuangan berperan sebagai “jembatan” antara niat dan tindakan. Mahasiswa yang memahami keuangan mampu menilai kelayakan ide bisnis, menghitung risiko, dan mengambil keputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi.
“Motivasi dan rasa percaya diri itu penting, tetapi tanpa kemampuan membaca angka dan mengelola uang, mahasiswa sulit mengubah ide menjadi tindakan wirausaha yang nyata,” tulis para peneliti dalam pembahasannya.
Temuan ini sejalan dengan pendekatan effectuation dalam kewirausahaan, yang menekankan pengambilan keputusan berdasarkan sumber daya yang dimiliki saat ini, bukan sekadar rencana ideal di masa depan. Dalam konteks ini, literasi keuangan menjadi sumber daya kognitif utama.
Dampak bagi Pendidikan Tinggi dan Kebijakan
Hasil penelitian ini membawa implikasi langsung bagi dunia pendidikan. Program kewirausahaan di perguruan tinggi dinilai perlu bergeser dari pendekatan motivasional semata menuju pendidikan berbasis kompetensi, khususnya kompetensi keuangan terapan.
Kurikulum kewirausahaan disarankan untuk:
- Mengintegrasikan literasi keuangan secara sistematis
- Menggunakan studi kasus keuangan nyata
- Menerapkan simulasi pengambilan keputusan bisnis
- Mengaitkan motivasi mahasiswa dengan perhitungan risiko dan peluang yang konkret
Bagi pembuat kebijakan pendidikan, temuan ini memperkuat urgensi menjadikan literasi keuangan sebagai keterampilan inti (core life skill) di pendidikan tinggi, sejalan dengan agenda penguatan kewirausahaan nasional.
Relevan untuk Dunia Usaha dan Masyarakat
Di luar kampus, penelitian ini juga relevan bagi dunia usaha dan masyarakat luas. Banyak usaha rintisan gagal bukan karena kurangnya semangat, melainkan karena lemahnya pengelolaan keuangan. Membekali generasi muda dengan literasi keuangan sejak dini dapat meningkatkan keberlanjutan usaha dan ketahanan ekonomi.
Sumber Penelitian
Wibowo, A. E., Abnur, A., & Syaiful, H. (2026). Determining the Effect of Intrinsic Motivation and Self-Efficacy on Entrepreneurial Mind-set with Financial Literacy as a Moderating Variable. International Journal of Applied Educational Research, Vol. 4 No. 1, 1–18.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i1.189

0 Komentar