Buah merah (Pandanus conoideus Lamk.) merupakan tanaman endemik Papua yang selama ini dikenal luas sebagai bahan pangan dan obat tradisional. Kandungan antioksidannya tinggi, terutama beta-karoten dan tokoferol, yang berperan melindungi sel dari radikal bebas. Di sisi lain, minyak zaitun (Olea europaea L.) telah lama digunakan dalam produk perawatan kulit karena kemampuannya menjaga kelembapan dan elastisitas. Menggabungkan dua bahan ini dalam bentuk lip balm menjadi langkah strategis untuk menghadirkan produk perawatan bibir yang lebih aman dan ramah kulit.
Masalah bibir kering, pecah-pecah, dan menggelap semakin sering dialami masyarakat akibat paparan sinar matahari, polusi, serta penggunaan kosmetik berbahan sintetis dalam jangka panjang. Bibir tidak memiliki melanin sebagai pelindung alami, sehingga lebih rentan terhadap kerusakan. Kondisi ini mendorong para peneliti mencari alternatif lip balm berbahan alami yang dapat digunakan secara rutin dengan risiko efek samping minimal.
Penelitian ini dilakukan pada Mei 2025 di Laboratorium Teknologi Formulasi Farmasi Poltekkes Kemenkes Jayapura. Tim peneliti menyusun tiga formula lip balm berbeda dengan komposisi ekstrak buah merah dan minyak zaitun yang sama, tetapi dengan variasi kadar bahan pengemulsi, yaitu setil alkohol dan asam stearat. Variasi ini dirancang untuk melihat pengaruhnya terhadap tekstur dan kualitas fisik lip balm.
Proses pembuatan lip balm dilakukan dengan metode laboratorium sederhana yang mudah direplikasi. Bahan-bahan dilebur secara bertahap menggunakan pemanas air, kemudian dicampur hingga homogen dan dituangkan ke dalam wadah lip balm. Setelah mengeras pada suhu ruang, produk diuji kualitas fisiknya melalui sejumlah pengujian standar kosmetik.
Hasil uji menunjukkan bahwa ketiga formula memiliki karakteristik visual yang seragam. Warna lip balm cenderung jingga kemerahan dengan aroma khas cocoa butter, serta tekstur padat yang stabil. Dari sisi keamanan, nilai pH seluruh formula berada di angka 6, sesuai dengan rentang aman untuk bibir manusia dan tidak berpotensi menimbulkan iritasi.
Uji homogenitas juga memberikan hasil positif. Tidak ditemukan gumpalan atau ketidakteraturan dalam sediaan, menandakan bahwa bahan aktif tersebar merata. Dari sisi daya lekat, seluruh formula mampu menempel di permukaan bibir lebih dari 25 detik, jauh melampaui batas minimum yang disyaratkan, sehingga berpotensi memberikan efek perlindungan dan pelembapan lebih lama.
Uji stabilitas menggunakan metode freeze–thaw—yakni penyimpanan bergantian pada suhu dingin dan suhu ruang—menunjukkan bahwa lip balm tetap stabil. Tidak terjadi perubahan warna, aroma, maupun bentuk setelah beberapa siklus penyimpanan, menandakan produk cukup tangguh terhadap perubahan suhu.
Namun, penelitian ini juga mencatat satu tantangan utama. Daya sebar lip balm belum memenuhi kriteria ideal, yakni 3–5 sentimeter. Ketiga formula hanya mencapai daya sebar rata-rata di bawah angka tersebut. Menurut para peneliti, hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya kandungan bahan padat seperti lilin lebah dan cocoa butter yang membuat tekstur lip balm relatif keras.
Meski begitu, dari uji kesukaan atau hedonic test, formula ketiga (F3) menjadi yang paling disukai oleh panelis. Formula ini memiliki tekstur paling lembut dibandingkan dua formula lainnya, sehingga terasa lebih nyaman saat diaplikasikan. “Peningkatan kadar setil alkohol pada formula F3 berpengaruh pada kelembutan tekstur dan tingkat penerimaan konsumen,” tulis tim peneliti dari Poltekkes Kemenkes Jayapura dalam artikelnya.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi industri kosmetik lokal. Penggunaan buah merah Papua sebagai bahan aktif membuka peluang hilirisasi sumber daya hayati daerah menjadi produk bernilai tambah. Selain itu, lip balm berbahan alami ini berpotensi menjadi alternatif bagi konsumen yang sensitif terhadap bahan sintetis.
Bagi dunia pendidikan dan riset, studi ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan vokasi kesehatan mampu menghasilkan inovasi aplikatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Bagi pelaku usaha, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan produk lip balm alami berbasis kearifan lokal dengan sentuhan ilmiah yang teruji.
Tim peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan untuk memperbaiki daya sebar lip balm, misalnya dengan menyesuaikan komposisi bahan lemak. Uji keamanan jangka panjang dan penerimaan konsumen dalam skala lebih luas juga disarankan sebelum produk ini dikembangkan ke tahap komersial.
Profil Penulis
Salbilla Nurhaliza Linggi adalah mahasiswa dan peneliti bidang farmasi di Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Jayapura. Ia bekerja bersama Fitriah Ardiawijianti Iriani, S.Farm., M.Farm., dosen dan peneliti farmasi dengan keahlian formulasi sediaan kosmetik dan farmasi bahan alam. Dua penulis lainnya, Iyem Shahira dan Rahayu Samalo, juga merupakan akademisi di Poltekkes Kemenkes Jayapura yang fokus pada pengembangan sediaan farmasi dan kosmetik berbasis bahan alami.
Sumber Penelitian
Linggi, S.N., Iriani, F.A., Shahira, I., & Samalo, R. (2026). Formulation and Physical Quality Evaluation of Lip Balm Preparations Containing a Combination of Red Fruit (Pandanus conoideus Lamk.) Extract and Olive Oil (Olea europaea L.). Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5, No. 1, hlm. 177–188.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.400
URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst
0 Komentar