Penelitian yang dipublikasikan di Formosa Journal of Science and Technology (Vol. 5 No. 2, 2026) ini menunjukkan perubahan sikap warga secara signifikan setelah mendapatkan edukasi disertai pembagian leaflet. Intervensi sederhana di tingkat desa ini dinilai efektif memperkuat pemahaman masyarakat tentang cara mengelola obat secara aman di rumah.
Masalah Lama di Tingkat Rumah Tangga
Obat adalah produk kesehatan yang hampir selalu tersedia di rumah. Namun, banyak keluarga menyimpan obat tanpa memperhatikan suhu, paparan cahaya, atau tanggal kedaluwarsa. Tidak sedikit pula obat sisa terapi yang dibuang begitu saja ke tempat sampah atau saluran air.
Praktik tersebut berisiko menurunkan kualitas obat, memicu kesalahan penggunaan, menyebabkan keracunan tidak sengaja, hingga mencemari lingkungan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) sebelumnya juga menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan obat di rumah masih rendah, terutama di wilayah pedesaan.
Dalam konteks ini, sikap menjadi kunci. Sikap yang positif terhadap penyimpanan dan pembuangan obat akan mendorong perilaku yang lebih aman. Karena itu, intervensi edukatif menjadi strategi yang relevan.
Melibatkan 111 Warga Desa
Tim peneliti melibatkan 111 responden yang merupakan warga Desa Gading Rejo Utara dan menyimpan obat di rumah. Responden dipilih menggunakan teknik quota sampling dan seluruhnya mengikuti rangkaian penelitian hingga selesai.
Karakteristik responden didominasi perempuan (93,7 persen), sebagian besar berusia 36–45 tahun (32,4 persen), dan mayoritas berpendidikan SMA (59,5 persen). Sekitar 70,3 persen berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Profil ini penting karena ibu rumah tangga umumnya berperan sebagai pengelola kesehatan keluarga, termasuk dalam penyimpanan dan penggunaan obat sehari-hari.
Penelitian menggunakan desain pretest–posttest satu kelompok. Artinya, sikap warga diukur sebelum edukasi dan diukur kembali setelah edukasi diberikan. Intervensi berupa penyuluhan kesehatan tentang cara penyimpanan dan pembuangan obat yang benar, disertai pembagian leaflet sebagai media penguat informasi.
Sikap warga diukur menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis secara statistik dengan uji Wilcoxon untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah intervensi.
Hasil: Lonjakan Sikap Positif
Sebelum edukasi diberikan, hanya 14,4 persen responden yang memiliki sikap baik terkait penyimpanan obat. Sebanyak 51,4 persen berada pada kategori cukup, dan 34,2 persen tergolong kurang.
Setelah intervensi:
- 86,5 persen responden memiliki sikap baik terkait penyimpanan obat
- Tidak ada lagi responden dalam kategori sikap kurang
- Sisanya 13,5 persen berada pada kategori cukup
Pada aspek pembuangan obat, kondisi awal bahkan lebih memprihatinkan. Sebanyak 53,2 persen responden memiliki sikap kurang, dan hanya 1,8 persen yang tergolong baik.
Setelah edukasi dan pembagian leaflet:
- 44,1 persen responden memiliki sikap baik
- 36,9 persen cukup
- Persentase sikap kurang turun menjadi 18,9 persen
Uji statistik menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) baik pada aspek penyimpanan maupun pembuangan obat. Angka ini menandakan perubahan sikap yang sangat signifikan secara statistik setelah intervensi dilakukan.
Ageng Hasna Fauziyah dari Poltekkes Kemenkes menegaskan bahwa edukasi yang terstruktur dan didukung media cetak sederhana dapat memperkuat internalisasi informasi di masyarakat. Leaflet memungkinkan warga membaca ulang informasi di rumah dan membagikannya kepada anggota keluarga lain.
Mengapa Leaflet Efektif?
Leaflet dipilih karena sederhana, mudah dipahami, dan dapat dipelajari berulang kali. Media ini juga relatif murah dan mudah direplikasi di berbagai wilayah.
Dalam konteks desa dengan latar belakang pendidikan yang beragam, pendekatan visual dan bahasa yang ringkas membantu memperjelas pesan. Warga tidak hanya mendengar penjelasan saat penyuluhan, tetapi juga memiliki pegangan tertulis yang bisa disimpan.
Hasil penelitian ini memperkuat peran tenaga farmasi dalam promosi kesehatan. Edukasi tentang obat tidak berhenti di apotek atau fasilitas kesehatan, tetapi perlu menjangkau rumah tangga sebagai titik akhir penggunaan obat.
Dampak bagi Kesehatan dan Lingkungan
Penyimpanan obat yang benar menjaga stabilitas zat aktif sehingga efektivitas terapi tetap terjamin. Obat yang disimpan sembarangan berisiko rusak dan menimbulkan kegagalan pengobatan.
Sementara itu, pembuangan obat yang tepat mencegah pencemaran tanah dan air serta mengurangi risiko penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kesadaran ini penting di tengah meningkatnya perhatian terhadap limbah farmasi rumah tangga.
Meski demikian, peneliti mencatat bahwa perubahan sikap pada aspek pembuangan obat masih lebih rendah dibanding penyimpanan. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi berulang dan program berkelanjutan agar kesadaran masyarakat semakin kuat.
Penelitian ini merekomendasikan kerja sama antara fasilitas pelayanan kesehatan, institusi pendidikan kesehatan, dan pemerintah daerah untuk menjalankan edukasi rutin mengenai pengelolaan obat rumah tangga. Leaflet dapat dijadikan bagian dari strategi promosi kesehatan yang aplikatif dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Ratih Ratnamaya adalah dosen dan peneliti di Departemen Farmasi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan, dengan fokus pada promosi kesehatan dan farmasi komunitas.
Ageng Hasna Fauziyah, S.Farm., M.Farm., merupakan akademisi dan praktisi farmasi komunitas di Poltekkes Kemenkes yang aktif dalam penelitian edukasi penggunaan obat rasional.
Pudji Rahayu adalah dosen Departemen Farmasi Poltekkes Kemenkes yang menaruh perhatian pada pengelolaan obat dan kesehatan masyarakat berbasis komunitas.
Sumber Penelitian
Ratnamaya, R., Fauziyah, A. H., & Rahayu, P. (2026). “The Influence of Education and Leaflet Media on Community Attitudes Regarding the Storage and Disposal of Drugs in North Gading Rejo Village.” Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 2, hlm. 405–412.
URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i2.11
Penelitian ini menegaskan bahwa intervensi edukasi sederhana di tingkat desa dapat menghasilkan perubahan nyata dalam sikap masyarakat terhadap pengelolaan obat. Di tengah tantangan kesehatan dan lingkungan, langkah kecil seperti membagikan leaflet ternyata mampu membawa dampak besar bagi keselamatan keluarga dan keberlanjutan lingkungan.
0 Komentar