Manado- Lonjakan tajam kasus hipertensi dan diabetes melitus terjadi di Tomohon City sepanjang 2023 hingga 2024. Studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi mencatat peningkatan lebih dari 80 persen hanya dalam satu tahun, dengan pola sebaran yang semakin mengkhawatirkan karena mulai menyerang kelompok usia muda.
Penelitian ini ditulis oleh Ivonny Melinda Sapulete, Margareth Rosalinda Sapulete, Frelly Valentino Kuhon, Jeini Ester Nelwan, dan Oksfriani Jufri Sumampouw, dan dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS), Volume 4 Nomor 1. Studi tersebut menganalisis data resmi Dinas Kesehatan Kota Tomohon untuk memetakan tren dan distribusi penyakit tidak menular (PTM), khususnya hipertensi dan diabetes melitus.
Hasilnya menunjukkan satu kesimpulan penting: Tomohon sedang menghadapi peningkatan besar penyakit kronis yang berpotensi membebani sistem kesehatan daerah dalam jangka panjang.
Hampir Seluruh Kasus PTM Didominasi Dua Penyakit
Dari total 20.029 kasus penyakit tidak menular yang tercatat pada 2024, hipertensi menjadi penyakit paling dominan dengan 16.665 kasus (83,21 persen). Diabetes melitus berada di posisi kedua dengan 2.780 kasus (13,88 persen). Jika digabungkan, kedua penyakit ini menyumbang 97,09 persen dari seluruh kasus PTM di Kota Tomohon.
Sebaliknya, penyakit tidak menular lain seperti gangguan jantung, stroke, obesitas, hingga kanker tercatat dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Para peneliti menilai rendahnya temuan kanker kemungkinan besar berkaitan dengan keterbatasan cakupan skrining, bukan semata-mata karena angka kejadian yang rendah.
Dominasi hipertensi dan diabetes memperlihatkan kuatnya pengaruh faktor gaya hidup perkotaan, seperti konsumsi makanan tinggi garam dan gula, kurangnya aktivitas fisik, serta tekanan psikososial yang meningkat.
Lonjakan Lebih dari 80 Persen dalam Satu Tahun
Perbandingan data 2023 dan 2024 menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan. Kasus hipertensi meningkat dari 9.047 kasus pada 2023 menjadi 16.665 kasus pada 2024, atau naik 84,2 persen. Sementara itu, diabetes melitus melonjak dari 1.517 menjadi 2.780 kasus, setara kenaikan 83,26 persen.
Kenaikan setajam ini jauh melampaui pertumbuhan penduduk alami. Menurut para peneliti, lonjakan tersebut dapat mencerminkan kombinasi antara peningkatan faktor risiko di masyarakat dan semakin agresifnya kegiatan deteksi dini oleh fasilitas kesehatan.
Namun demikian, peningkatan yang terjadi dalam waktu sangat singkat ini tetap menjadi sinyal kuat bahwa upaya pencegahan penyakit tidak menular belum berjalan optimal.
Lansia Paling Terdampak, Remaja Mulai Terkena
Analisis berdasarkan kelompok usia menunjukkan pola yang semakin mengkhawatirkan. Kelompok usia di atas 60 tahun mencatat lonjakan tertinggi untuk kedua penyakit. Kasus hipertensi pada kelompok ini meningkat 128,8 persen, sementara diabetes melonjak 125,8 persen. Hampir satu dari dua lansia di Tomohon kini hidup dengan hipertensi.
Yang lebih mengkhawatirkan, peningkatan juga mulai terlihat pada kelompok usia muda. Pada remaja usia 15–17 tahun, kasus hipertensi meningkat 109 persen hanya dalam satu tahun. Di kelompok usia 18–29 tahun, ratusan kasus hipertensi dan peningkatan diabetes mulai muncul pada usia yang seharusnya berada dalam kondisi kesehatan optimal.
Para peneliti menilai temuan ini sebagai peringatan dini terjadinya pergeseran usia awal munculnya penyakit tidak menular. Jika tren ini berlanjut, beban penyakit kronis akan semakin berat karena menyerang penduduk pada usia produktif.
Ancaman Serius bagi Kesehatan dan Produktivitas
Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak bergejala, tetapi meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Diabetes melitus juga membawa risiko komplikasi jangka panjang yang memerlukan biaya pengobatan tinggi dan menurunkan kualitas hidup.
Lonjakan kasus di Tomohon bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi. Beban biaya kesehatan, penurunan produktivitas tenaga kerja, serta meningkatnya kebutuhan layanan jangka panjang berpotensi menekan sistem kesehatan daerah jika tidak ditangani sejak dini.
Arah Kebijakan dan Pencegahan
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menekankan pentingnya perubahan strategi pengendalian penyakit tidak menular. Pencegahan tidak bisa lagi hanya difokuskan pada usia lanjut, tetapi harus dimulai sejak remaja dan dewasa muda.
Skrining dini pada kelompok usia 30–39 tahun dinilai sebagai jendela emas pencegahan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut. Sementara itu, layanan pengelolaan penyakit kronis bagi lansia perlu diperkuat dan diintegrasikan dengan program kesehatan usia lanjut.
Kampanye gaya hidup sehat juga perlu disesuaikan dengan karakteristik tiap kelompok usia, agar pesan kesehatan lebih efektif dan berdampak jangka panjang.
Profil Singkat Penulis
Penelitian ini ditulis oleh Ivonny Melinda Sapulete, Margareth Rosalinda Sapulete, Frelly Valentino Kuhon, Jeini Ester Nelwan, dan Oksfriani Jufri Sumampouw,Kelimanya merupakan dosen dan peneliti di bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Sam Ratulangi, dengan keahlian pada epidemiologi, penyakit tidak menular, dan promosi kesehatan.
Sumber Penelitian
- Sapulete IM, Sapulete MR, Kuhon FV, Nelwan JE, Sumampouw OJ.
- Analysis of Trends and Distribution of Hypertension and Diabetes Mellitus Patients in Tomohon City 2023–2024.
- International Journal of Natural and Health Sciences (IJNHS), Vol. 4 No. 1, 2026, hlm. 51–60.
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijnhs.v4i1.171
- Link jurnal: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijnhs
0 Komentar