Penelitian ini ditulis oleh Helena Magdalena, M.Psi., Psikolog, bersama Ika Sari Dewi, M.Psi., Psikolog, dosen dan praktisi psikologi pendidikan dari Universitas Sumatera Utara. Studi ini menyoroti satu aspek penting kesiapan sekolah yang sering luput dari perhatian, yaitu daya tahan anak untuk duduk dan fokus selama kegiatan belajar terstruktur.
Kemampuan duduk dalam durasi tertentu bukan sekadar soal disiplin, tetapi berkaitan langsung dengan kesiapan fisik, perilaku, dan perhatian anak dalam mengikuti pembelajaran di sekolah dasar. Anak yang belum mampu duduk cukup lama berisiko mengalami kesulitan mengikuti instruksi, menyelesaikan tugas, dan beradaptasi dengan aturan kelas.
Tantangan Anak Menjelang Masuk Sekolah Dasar
Kesiapan sekolah dasar mencakup banyak aspek, mulai dari kemampuan kognitif hingga sosial-emosional. Namun, menurut kerangka UNICEF dan WHO, kesiapan perilaku—termasuk kemampuan duduk dan memperhatikan—merupakan fondasi penting agar anak dapat belajar secara optimal di kelas.
Dalam penelitian ini, subjek adalah seorang anak berusia 6 tahun 7 bulan yang secara kognitif dan sosial dinilai siap masuk sekolah dasar. Anak tersebut mampu mengenal huruf dan angka, mengikuti aturan, serta berinteraksi dengan teman sebaya. Namun, guru penitipan anak melaporkan adanya masalah serius pada ketahanan duduk.
Anak hanya mampu duduk selama 3–5 menit ketika mengerjakan tugas membaca dan menulis di meja. Ia sering berpindah posisi, berdiri, atau memilih mengerjakan tugas di lantai. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa anak akan kesulitan mengikuti tuntutan pembelajaran di sekolah dasar yang menuntut duduk lebih lama dan fokus berkelanjutan.
Pendekatan Perilaku yang Sederhana dan Terukur
Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menerapkan pendekatan modifikasi perilaku yang menggabungkan dua teknik utama: shaping dan token economy.
Shaping adalah teknik membentuk perilaku secara bertahap. Anak tidak langsung dituntut duduk lama, tetapi diberikan target durasi yang meningkat perlahan sesuai kemampuannya. Setiap keberhasilan kecil diperkuat dengan penguatan positif.
Sementara itu, token economy menggunakan sistem stiker bintang sebagai hadiah simbolik. Setiap kali anak berhasil duduk sesuai target waktu, ia memperoleh stiker yang nantinya bisa ditukar dengan hadiah yang disepakati bersama orang tua, seperti waktu bermain tambahan atau mainan kecil.
Pendekatan ini dipilih karena anak lebih termotivasi oleh aktivitas bermain dibandingkan tugas akademik, sehingga penguatan eksternal menjadi kunci untuk membangun perilaku belajar yang lebih adaptif.
Desain Penelitian dan Proses Intervensi
Penelitian menggunakan desain single-subject A–B–A’, yang terdiri dari tiga fase: baseline, intervensi, dan tindak lanjut. Pada fase awal, peneliti mengukur durasi duduk anak tanpa perlakuan khusus. Hasilnya menunjukkan durasi duduk hanya 3–5 menit.
Fase intervensi berlangsung selama lima sesi, di mana anak mengerjakan tugas pra-akademik seperti membaca suku kata, menyusun kata, dan melengkapi huruf sambil duduk di meja. Setiap peningkatan durasi duduk langsung diberi penguatan berupa stiker.
Pada fase tindak lanjut yang dilakukan satu minggu setelah intervensi berakhir, peneliti kembali mengukur kemampuan duduk anak tanpa pemberian token.
Hasil Nyata dalam Waktu Singkat
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang konsisten. Selama fase intervensi, durasi duduk anak meningkat secara bertahap hingga mencapai 10 menit. Anak juga tampak lebih tenang, jarang meninggalkan kursi, dan lebih terlibat dalam tugas belajar.
Pada fase tindak lanjut, meskipun durasi duduk sedikit menurun, anak tetap mampu duduk selama 7–8 menit, jauh lebih baik dibandingkan kondisi awal. Ini menandakan bahwa sebagian besar perubahan perilaku berhasil dipertahankan meski tanpa hadiah langsung.
Menurut Helena Magdalena, temuan ini memperlihatkan bahwa penguatan yang tepat dapat membantu anak mengembangkan kebiasaan belajar yang penting. “Perilaku duduk bukan bawaan, tetapi keterampilan yang bisa dilatih secara sistematis,” tulis peneliti dalam artikelnya.
Dampak bagi Pendidikan Anak Usia Dini
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan dan pengasuhan anak. Guru PAUD, psikolog, dan orang tua dapat menerapkan strategi sederhana ini untuk membantu anak yang sulit fokus atau tidak betah duduk.
Pendekatan shaping dan token economy juga relatif mudah diterapkan, tidak memerlukan alat mahal, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak. Strategi ini dinilai relevan untuk mendukung transisi anak dari lingkungan bermain ke pembelajaran formal di sekolah dasar.
Peneliti merekomendasikan agar pendekatan serupa diuji pada lebih banyak anak dan dalam jangka waktu yang lebih panjang, termasuk di lingkungan sekolah formal, untuk melihat dampak jangka panjangnya.
0 Komentar