Purwokerto- Nilai perusahaan properti dan real estate di Indonesia ternyata lebih banyak ditentukan oleh cara perusahaan mengelola utang dan modal, bukan oleh besarnya laba atau ukuran aset. Temuan ini diungkapkan oleh Anindya Mustikasari Az Zahra bersama tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR).
Penelitian tersebut menganalisis kinerja 73 perusahaan properti dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020–2024, masa yang ditandai oleh tekanan pandemi Covid-19 dan proses pemulihan ekonomi. Hasilnya penting karena memberikan gambaran baru bagi investor, manajemen perusahaan, dan pembuat kebijakan tentang faktor apa yang benar-benar memengaruhi nilai perusahaan di sektor properti.
Properti Masih Berjuang Pulih Pascapandemi
Sektor properti Indonesia mengalami guncangan besar sejak 2020. Pembatasan aktivitas ekonomi, penurunan daya beli masyarakat, serta tertundanya proyek pembangunan menyebabkan pertumbuhan sektor ini berfluktuasi tajam. Nilai perusahaan properti pun ikut tertekan, tercermin dari pergerakan harga saham yang belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi.
Dalam kondisi seperti ini, investor menjadi lebih selektif. Mereka tidak hanya melihat laba perusahaan, tetapi juga menilai risiko dan prospek jangka panjang. Nilai perusahaan—yang umumnya tercermin dari rasio pasar seperti Price to Book Value—menjadi indikator penting untuk membaca kepercayaan pasar.
Apa yang Dianalisis Peneliti?
Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto menelaah tiga faktor utama yang selama ini diyakini memengaruhi nilai perusahaan, yaitu:
- Profitabilitas, yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari asetnya
- Ukuran perusahaan, yang dilihat dari total aset yang dimiliki
- Struktur modal, yakni perbandingan antara utang dan modal sendiri dalam membiayai operasional perusahaan
Data yang digunakan berasal dari laporan keuangan tahunan perusahaan selama lima tahun. Setelah melalui proses seleksi dan pembersihan data, terkumpul 184 observasi yang dianalisis menggunakan regresi statistik.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat apakah masing-masing faktor benar-benar berpengaruh terhadap nilai perusahaan, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Temuan Utama: Utang Lebih Berpengaruh daripada Laba
Hasil analisis menunjukkan pola yang cukup mengejutkan. Profitabilitas dan ukuran perusahaan ternyata tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan properti dan real estate. Sebaliknya, struktur modal justru terbukti berpengaruh positif dan signifikan.
Secara ringkas, temuan utama penelitian ini adalah:
Menurut Ika Yustina Rahmawati, dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto sekaligus penulis korespondensi penelitian ini, struktur modal menjadi sinyal penting bagi pasar. Komposisi utang yang dikelola secara tepat mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan pembiayaan tanpa meningkatkan risiko berlebihan.
Mengapa Struktur Modal Sangat Penting?
Dalam sektor properti, penggunaan utang merupakan hal yang lazim karena proyek berskala besar membutuhkan modal jangka panjang. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa yang dinilai investor bukan sekadar besar kecilnya utang, melainkan bagaimana utang tersebut dikelola.
Struktur modal yang sehat memberi sinyal bahwa perusahaan mampu memenuhi kewajiban keuangannya, mengelola risiko, dan memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham. Sebaliknya, perusahaan dengan aset besar tetapi struktur pembiayaan yang tidak seimbang justru dapat dipersepsikan berisiko.
Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa nilai perusahaan tidak hanya dibentuk oleh kinerja laba jangka pendek, tetapi oleh keputusan strategis dalam pendanaan.
Dampak bagi Investor dan Manajemen Perusahaan
Temuan ini membawa implikasi praktis yang cukup luas. Bagi investor, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa menilai saham properti tidak cukup hanya melihat laba atau skala perusahaan. Analisis struktur modal, khususnya rasio utang terhadap ekuitas, menjadi kunci dalam menilai kualitas dan prospek perusahaan.
Sementara itu, bagi manajemen perusahaan properti, penelitian ini menegaskan pentingnya kebijakan pendanaan yang hati-hati. Pengambilan utang harus disesuaikan dengan kemampuan arus kas dan prospek proyek, agar dapat meningkatkan nilai perusahaan tanpa memicu risiko gagal bayar.
Ruang untuk Penelitian Lanjutan
Peneliti juga mencatat bahwa ketiga variabel yang dianalisis baru menjelaskan sebagian kecil variasi nilai perusahaan. Artinya, masih banyak faktor lain yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar, seperti kebijakan dividen, pertumbuhan perusahaan, tata kelola, dan risiko bisnis.
Ke depan, riset lanjutan dengan variabel yang lebih beragam diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang penentu nilai perusahaan di sektor properti Indonesia.

0 Komentar