Sawah dan Ternak Jadi Sumber Utama Emisi Metana Pertanian Indonesia

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Padang - Emisi metana dari sektor pertanian Indonesia selama lebih dari lima dekade didominasi oleh budidaya padi dan peternakan, meski berbagai kebijakan iklim telah diterapkan sejak 2008. Temuan ini diungkap oleh Mega Amelia Putri dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh bersama tim peneliti Universitas Andalas dalam riset jangka panjang yang menganalisis emisi metana pertanian Indonesia periode 1970–2022. Studi ini penting karena metana merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat dan berperan besar dalam percepatan perubahan iklim, terutama di negara agraris tropis seperti Indonesia.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics tersebut menunjukkan bahwa sawah padi berkontribusi paling besar terhadap total emisi metana pertanian. Setiap kenaikan 1 persen emisi metana dari lahan padi berkaitan dengan peningkatan sekitar 0,72 persen emisi metana pertanian nasional. Sumber besar lainnya berasal dari fermentasi enterik pada ternak ruminansia, seperti sapi dan kerbau, yang menyumbang sekitar 0,22 persen dari setiap kenaikan 1 persen emisi metana ternak.

Mengapa Metana Pertanian Penting?

Metana memiliki daya pemanasan global hingga 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek. Meski jumlahnya di atmosfer lebih sedikit, dampaknya terhadap kenaikan suhu bumi sangat signifikan. Di Indonesia, pertanian menjadi salah satu penyumbang metana terbesar karena sistem persawahan yang tergenang air dan pola peternakan rakyat yang masih konvensional.

Sawah padi yang digenangi air menciptakan kondisi tanpa oksigen di dalam tanah. Lingkungan ini ideal bagi mikroorganisme penghasil metana. Sementara itu, proses pencernaan alami ternak ruminansia menghasilkan gas metana yang dilepaskan ke udara, terutama pada sistem peternakan skala kecil dengan kualitas pakan rendah.

Metode Analisis Jangka Panjang

Berbeda dari studi sebelumnya yang umumnya bersifat statis atau berbasis potret sesaat, penelitian ini menggunakan data tahunan selama 53 tahun dari FAOSTAT, basis data resmi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Para peneliti menerapkan pendekatan ekonometrika dinamis untuk melihat pola jangka pendek dan jangka panjang secara lebih akurat.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti memisahkan dampak masing-masing sumber emisi—padi, ternak, dan pengelolaan kotoran ternak—serta menguji perubahan struktural setelah Indonesia mulai menerapkan kebijakan iklim nasional, seperti REDD+ dan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) pasca-2008.

Hasilnya menunjukkan bahwa kebijakan iklim tersebut sempat menekan emisi metana dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, tren emisi tetap meningkat, menandakan bahwa upaya mitigasi belum cukup kuat untuk mengimbangi pertumbuhan aktivitas pertanian.

Temuan Utama Penelitian

Beberapa temuan kunci dari studi ini antara lain:

  • Sawah padi adalah penyumbang utama emisi metana pertanian, jauh melampaui sumber lain.
  • Fermentasi enterik ternak menjadi sumber kedua terbesar, terutama pada sistem peternakan tradisional.
  • Pengelolaan kotoran ternak juga berkontribusi signifikan, meski skalanya lebih kecil.
  • Kebijakan iklim pasca-2008 efektif dalam jangka pendek, tetapi belum mampu mengubah tren emisi jangka panjang secara permanen.

Menurut Mega Amelia Putri, hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan mitigasi perlu lebih terarah dan konsisten. “Pengurangan emisi metana tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan makro. Diperlukan intervensi langsung di tingkat petani dan peternak,” jelasnya.

Dampak bagi Kebijakan dan Masyarakat

Temuan ini memiliki implikasi besar bagi kebijakan publik, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan. Di sektor pertanian padi, teknik seperti alternate wetting and drying (AWD)—mengeringkan sawah secara berkala—terbukti mampu menurunkan emisi metana tanpa menurunkan hasil panen. Sementara di sektor peternakan, perbaikan kualitas pakan dan manajemen ternak dapat menekan produksi metana sekaligus meningkatkan produktivitas.

Bagi pembuat kebijakan, riset ini menegaskan pentingnya menyelaraskan target penurunan emisi dengan insentif ekonomi bagi petani. Skema kredit karbon, subsidi teknologi ramah lingkungan, serta penguatan penyuluhan pertanian dinilai krusial agar strategi mitigasi benar-benar diterapkan di lapangan.

Lebih luas lagi, pengalaman Indonesia dapat menjadi rujukan bagi negara agraris lain di Asia Tenggara dan Selatan yang menghadapi tantangan serupa antara produksi pangan dan komitmen iklim.

Profil Penulis

Mega Amelia Putri, S.P., M.Sc.
Dosen dan peneliti di Departemen Agribisnis, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Sumatera Barat. Bidang keahlian meliputi ekonomi pertanian, keberlanjutan sistem pangan, dan kebijakan perubahan iklim.

Syafruddin Karimi, Ph.D., Endrizal Ridwan, Ph.D., dan Fajri Muharja, M.Ec.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas, dengan kepakaran di bidang ekonomi pembangunan, ekonomi lingkungan, dan analisis kebijakan publik.

Sumber Penelitian

Putri, M. A., Karimi, S., Ridwan, E., & Muharja, F. (2026). Mitigating Agricultural Methane Emissions through Policy Reform: Long-Run Evidence from Indonesia’s Climate-Aligned Transition. Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics, Vol. 5 No. 1.

Posting Komentar

0 Komentar