Motivasi Akademik dan Kesejahteraan Psikologis
Motivasi akademik dikenal sebagai faktor kunci keberhasilan mahasiswa di perguruan tinggi. Mahasiswa dengan motivasi tinggi cenderung lebih aktif mengikuti perkuliahan, bertahan menghadapi tekanan akademik, dan mencapai prestasi belajar yang lebih baik. Namun, motivasi ini tidak berdiri sendiri.
Menurut pendekatan psikologi modern, motivasi akademik sangat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, yaitu kondisi ketika individu mampu menerima diri, memiliki tujuan hidup, menjalin relasi positif, dan merasa mampu mengelola lingkungannya. Dalam konteks mahasiswa, kesejahteraan psikologis sering terpengaruh oleh tuntutan akademik, jadwal padat, serta keterbatasan otonomi.
Lingkungan pendidikan yang sangat terstruktur memang dapat membentuk disiplin, tetapi juga berisiko menimbulkan kelelahan emosional dan penurunan motivasi belajar jika kebutuhan psikologis mahasiswa tidak terpenuhi.
Menguji Efektivitas Psychoedukasi
Berangkat dari kondisi tersebut, Wardah Nabilah Munayya dan Djudiyah merancang sebuah program psychoedukasi berbasis kesejahteraan psikologis. Program ini bertujuan membantu mahasiswa memahami aspek-aspek kesejahteraan diri sekaligus kaitannya dengan motivasi belajar.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuasi-eksperimen dengan desain pretest–posttest satu kelompok. Sebanyak 24 mahasiswa (14 perempuan dan 10 laki-laki) mengikuti satu sesi psychoedukasi selama 1 jam 50 menit. Sebelum dan sesudah sesi, peserta diminta mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat kesejahteraan psikologis dan motivasi akademik mereka.
Instrumen yang digunakan mengacu pada dua kerangka teori besar dalam psikologi:
- Model Psychological Well-Being dari Carol Ryff, yang mencakup penerimaan diri, hubungan positif, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi.
- Self-Determination Theory dari Deci dan Ryan, yang menekankan peran otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial dalam membentuk motivasi.
Hasil: Tidak Ada Perubahan Signifikan
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara skor sebelum dan sesudah psychoedukasi, baik pada kesejahteraan psikologis maupun motivasi akademik.
Rata-rata skor kesejahteraan psikologis mahasiswa sebelum kegiatan adalah 52,58, sementara setelah kegiatan sedikit menurun menjadi 52,08. Perubahan ini dinilai tidak bermakna secara statistik. Hal serupa terjadi pada motivasi akademik, dengan skor rata-rata 46,83 baik sebelum maupun sesudah intervensi.
Temuan ini menunjukkan bahwa satu sesi psychoedukasi berbasis ceramah belum mampu mengubah persepsi, pemahaman, maupun kondisi psikologis mahasiswa secara nyata. Bahkan, variasi jawaban peserta justru menjadi lebih beragam setelah kegiatan, menandakan tidak adanya keseragaman peningkatan pemahaman.
Mengapa Intervensi Singkat Kurang Efektif?
Menurut para peneliti, hasil ini tergolong wajar. Kesejahteraan psikologis dan motivasi akademik merupakan konstruk psikologis yang kompleks dan relatif stabil. Perubahan pada aspek ini umumnya membutuhkan proses jangka panjang, pengalaman langsung, serta keterlibatan aktif peserta.
“Intervensi singkat yang didominasi metode ceramah memiliki keterbatasan dalam menghasilkan perubahan psikologis yang mendalam,” tulis penulis dalam artikelnya. Mereka menegaskan bahwa perubahan signifikan biasanya muncul melalui program yang berkelanjutan, partisipatif, dan berbasis refleksi pengalaman.
Selain itu, waktu pelaksanaan psychoedukasi yang berdekatan dengan masa ujian diduga turut memengaruhi fokus dan kesiapan psikologis peserta.
Dampak bagi Dunia Pendidikan
Meski tidak menunjukkan peningkatan signifikan, penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi pengelola pendidikan tinggi. Program pengembangan mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan mental dan motivasi belajar, tidak dapat mengandalkan pendekatan instan.
Bagi kampus dan pembuat kebijakan pendidikan, hasil studi ini menegaskan perlunya:
- Program psychoedukasi yang berkelanjutan
- Metode yang lebih interaktif dan berbasis pengalaman
- Pendampingan atau mentoring jangka panjang
- Penyesuaian waktu intervensi dengan kondisi psikologis mahasiswa
Pendekatan semacam ini dinilai lebih realistis untuk membantu mahasiswa membangun kesejahteraan psikologis sekaligus motivasi akademik yang berkelanjutan.
0 Komentar