FORMOSA NEWS - Malang
Metaverse dan Augmented Reality Meningkatkan Kepercayaan Belanja Digital Konsumen Malang
Penggunaan metaverse dan augmented reality (AR) terbukti memperkuat kepercayaan, kenyamanan, dan keputusan belanja konsumen di Kota Malang. Temuan ini diungkap oleh Amindiah Safitri, dosen Program Studi Manajemen Bisnis Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Al-Qolam Malang, melalui riset yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences. Penelitian ini penting karena menunjukkan bagaimana teknologi imersif mulai membentuk perilaku belanja masyarakat perkotaan, khususnya generasi muda dan pelaku UMKM di daerah pendidikan seperti Malang.
Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah mengubah cara konsumen mengenal produk, membandingkan pilihan, hingga mengambil keputusan pembelian. Jika sebelumnya belanja online terbatas pada foto dan deskripsi produk, kini konsumen mulai berinteraksi langsung melalui visual tiga dimensi, simulasi produk, dan ruang virtual. Metaverse dan AR menjadi dua teknologi yang menonjol dalam perubahan ini karena mampu menghadirkan pengalaman belanja yang lebih nyata meskipun dilakukan secara daring.
Malang sebagai Laboratorium Belanja Digital
Kota Malang dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakter unik: populasi mahasiswa yang besar, tingkat adopsi teknologi digital yang relatif tinggi, serta ekosistem UMKM yang aktif. Kombinasi ini menjadikan Malang sebagai “laboratorium alami” untuk mengamati bagaimana teknologi baru memengaruhi perilaku konsumen.
Menurut Amindiah Safitri, konsumen di Malang—terutama generasi muda—cenderung terbuka terhadap pengalaman belanja baru yang interaktif. Namun, belum banyak kajian empiris yang secara spesifik membahas bagaimana metaverse dan AR memengaruhi tahapan keputusan pembelian, mulai dari rasa percaya hingga niat membeli. Kekosongan inilah yang coba diisi oleh penelitian ini.
Metodologi: Mendengar Langsung Pengalaman Konsumen
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi. Informan dipilih secara purposif, yakni konsumen berusia minimal 18 tahun yang pernah menggunakan platform belanja dengan fitur metaverse atau AR. Total terdapat 12 responden, terdiri dari mahasiswa, karyawan, dan pelaku usaha.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali pengalaman nyata konsumen: bagaimana mereka merasakan teknologi tersebut, apa yang membuat mereka percaya, dan faktor apa yang mendorong keputusan pembelian. Dengan kata lain, riset ini tidak sekadar menghitung angka, tetapi memahami cerita di balik perilaku belanja digital.
Temuan Utama: Belanja Lebih Nyata, Keputusan Lebih Yakin
Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten. Mayoritas responden menyatakan bahwa penggunaan metaverse dan AR memberikan pengalaman belanja yang lebih interaktif dan meyakinkan dibandingkan belanja online konvensional.
Beberapa temuan utama yang menonjol antara lain:
- AR membantu visualisasi produk secara realistis. Konsumen merasa lebih yakin karena dapat “mencoba” produk secara virtual, seperti pakaian, furnitur, atau kosmetik, sebelum membeli.
- Metaverse menciptakan pengalaman imersif. Ruang belanja virtual dengan avatar dan simulasi toko membuat konsumen merasa lebih dekat dengan produk dan merek.
- Tingkat kepercayaan meningkat. Sekitar dua pertiga responden menyatakan kepercayaan mereka terhadap produk meningkat setelah menggunakan fitur AR atau metaverse.
- Kenyamanan dan kepuasan lebih tinggi. Konsumen merasa belanja menjadi lebih menyenangkan karena tidak perlu datang langsung ke toko fisik.
- Niat beli semakin kuat. Pengalaman visual dan interaktif terbukti mendorong keputusan pembelian secara lebih cepat.
Amindiah Safitri menegaskan bahwa AR saat ini lebih banyak digunakan dibandingkan metaverse karena lebih mudah diakses melalui ponsel. Sementara itu, metaverse masih menghadapi kendala infrastruktur dan perangkat, meskipun potensinya dinilai sangat besar.
Dampak bagi UMKM dan Dunia Usaha
Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi pelaku usaha, khususnya UMKM di Malang. Teknologi AR dan metaverse dapat menjadi strategi pemasaran yang efektif untuk bersaing di era digital. Dengan visualisasi produk yang lebih jelas, pelaku usaha dapat mengurangi keraguan konsumen dan meningkatkan peluang penjualan.
Bagi UMKM kuliner, fesyen, dan kerajinan lokal, AR bisa digunakan untuk menampilkan detail produk secara interaktif. Sementara itu, metaverse dapat dimanfaatkan sebagai ruang pamer virtual atau toko digital yang dapat diakses konsumen dari berbagai daerah.
Dalam konteks bisnis syariah, teknologi ini juga mendukung prinsip transparansi dan kejujuran, karena konsumen dapat melihat produk secara lebih detail sebelum membeli. Hal ini sejalan dengan nilai kepercayaan yang menjadi fondasi transaksi syariah.
Kontribusi bagi Pendidikan dan Kebijakan
Selain dunia usaha, penelitian ini juga relevan bagi pendidikan tinggi dan pembuat kebijakan. Di lingkungan Universitas Al-Qolam Malang, hasil riset ini dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam mata kuliah pemasaran, e-commerce, dan perilaku konsumen. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga praktik nyata teknologi terbaru.
Bagi pemerintah daerah, temuan ini menunjukkan perlunya dukungan terhadap infrastruktur digital dan literasi teknologi agar adopsi metaverse dan AR dapat berjalan lebih merata. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, teknologi ini berpotensi memperkuat ekonomi lokal dan memperluas pasar UMKM.

0 Komentar