Menjembatani Tafsir Klasik dan Sains Digital lewat Mafatihul Ghaib karya Ar-Razi

Gambar Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Pemikir klasik Islam Fakhruddin ar-Razi kembali relevan di era digital. Hal ini ditunjukkan melalui kajian terbaru yang ditulis Hasbullah Diman dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an bersama Asyrof Arobi dari Universitas Islam Jakarta, yang mengulas bagaimana tafsir klasik Mafatihul Ghaib dapat dibaca ulang untuk menjawab tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Studi ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS) dan menegaskan bahwa dialog antara agama dan sains bukanlah gagasan baru, melainkan sudah berakar kuat dalam tradisi intelektual Islam.

Kajian ini menjadi penting karena di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, bioteknologi, dan sains digital, masyarakat Muslim kerap dihadapkan pada pertanyaan besar: sejauh mana teks keagamaan klasik masih relevan untuk memahami dunia modern? Melalui telaah mendalam atas tafsir Mafatihul Ghaib, para penulis menunjukkan bahwa karya Fakhruddin ar-Razi ulama abad ke-12 yang dikenal rasional dan filosofis menyediakan kerangka berpikir yang justru sejalan dengan semangat ilmiah kontemporer.

Tantangan Baru di Era Digital

Penulis mencatat adanya ketegangan antara kemajuan sains modern dan cara memahami tafsir klasik. Di satu sisi, perkembangan teknologi membuka akses luas terhadap teks-teks keagamaan melalui platform digital. Di sisi lain, muncul risiko penafsiran berlebihan, terutama ketika ayat-ayat Al-Qur’an dipaksakan agar selaras dengan teori ilmiah mutakhir. Fenomena ini memunculkan dua kecenderungan ekstrem: apologetika berlebihan yang mengklaim semua temuan sains sudah ada dalam Al-Qur’an, dan sikap skeptis yang menolak sama sekali hubungan agama dengan sains.

Dalam konteks inilah tafsir Mafatihul Ghaib menjadi relevan. Ar-Razi dikenal sebagai mufasir yang menggabungkan teologi, filsafat, dan pengamatan empiris. Ia tidak terjebak pada tafsir literal semata, tetapi membuka ruang dialog antara wahyu dan akal. Menurut Hasbullah Diman dan Asyrof Arobi, pendekatan ini sangat dibutuhkan di era digital, ketika informasi ilmiah beredar cepat namun sering terfragmentasi.

Metode Kajian yang Menyeluruh

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis pustaka dan hermeneutika. Para penulis menelaah ayat-ayat kauniyah—ayat yang berbicara tentang alam semesta—seperti penciptaan kosmos, fenomena astronomi, proses kejadian manusia, siklus air, dan struktur alam. Tafsir Ar-Razi dibandingkan dengan tafsir klasik lain serta dikontekstualisasikan dengan temuan sains modern.

Selain kajian teks, penelitian ini juga dilengkapi dengan wawancara dan observasi terhadap akademisi serta praktisi keagamaan. Pendekatan ini memperkaya temuan, karena tidak hanya melihat tafsir sebagai teks sejarah, tetapi juga sebagai wacana hidup yang terus diperdebatkan dan dimaknai ulang.

Temuan Utama: Antara Dukungan dan Kehati-hatian

Hasil penelitian menunjukkan meningkatnya kesadaran di kalangan akademisi dan praktisi keagamaan tentang relevansi tafsir Ar-Razi dalam memahami isu-isu sains dan teknologi modern. Banyak diskusi akademik menjadikan Mafatihul Ghaib sebagai rujukan untuk membahas topik seperti kecerdasan buatan, bioetika, dan kosmologi.

Namun, temuan ini juga memperlihatkan perbedaan pandangan yang tajam. Sejumlah sarjana mendukung adaptasi tafsir klasik untuk menjawab tantangan modern, dengan alasan bahwa Al-Qur’an bersifat lintas zaman. Di sisi lain, ada pula yang mengingatkan bahaya penafsiran berlebihan yang dapat mengaburkan pesan spiritual utama teks suci. Perdebatan ini menunjukkan bahwa integrasi agama dan sains bukan proses sederhana, melainkan memerlukan kehati-hatian metodologis.

Implikasi bagi Pendidikan dan Masyarakat

Penelitian ini menegaskan bahwa tafsir Mafatihul Ghaib dapat menjadi fondasi etis dalam pengembangan teknologi. Alih-alih sekadar mencari “pembenaran ilmiah” dalam ayat-ayat Al-Qur’an, pendekatan Ar-Razi mendorong refleksi mendalam tentang makna, tujuan, dan tanggung jawab manusia dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan.

Bagi dunia pendidikan, temuan ini membuka peluang pengembangan literasi sains-religi yang lebih seimbang. Guru, dai, dan pembuat konten digital dapat menggunakan kerangka Ar-Razi untuk menyampaikan hubungan agama dan sains secara moderat, tidak reaktif, dan tetap berakar pada nilai spiritual. Dalam konteks kebijakan publik, dialog ini juga relevan untuk merumuskan pendekatan etis terhadap teknologi baru yang berdampak luas pada kehidupan sosial.

Dialog yang Terus Dibuka

Hasbullah Diman dan Asyrof Arobi menekankan bahwa kunci dari integrasi agama dan sains adalah dialog terbuka dan berkelanjutan. Tafsir klasik tidak perlu ditinggalkan, tetapi juga tidak boleh dibekukan. Dengan pendekatan hermeneutik yang kritis, warisan intelektual seperti Mafatihul Ghaib dapat dihidupkan kembali sebagai sumber inspirasi bagi masyarakat modern.

Penelitian ini sekaligus mengingatkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal cara berpikir. Di tengah banjir informasi, umat beragama membutuhkan kerangka interpretasi yang utuh yang mampu menghubungkan sains, etika, dan spiritualitas.

Profil Penulis

Hasbullah Diman, M.A.
Afiliasi: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an
Bidang keahlian: Studi Al-Qur’an dan Tafsir, Hermeneutika Islam

Asyrof Arobi, M.A.
Afiliasi: Universitas Islam Jakarta
Bidang keahlian: Tafsir dan Pemikiran Islam Kontemporer

Sumber Penelitian

Diman, Hasbullah & Arobi, Asyrof. Divine Harmony: Digging Up Science and Technology Verses in the Tafsir of Mafatihul Ghaib by Ar Razi in the Digital Era. International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS), Vol. 4, No. 1, 2026, hlm. 15–34.

Posting Komentar

0 Komentar