Masalah yang Terus Membesar
Dalam beberapa tahun terakhir, angka penyalahgunaan narkoba di Nigeria meningkat tajam, terutama di kalangan anak muda. Data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa sekitar 14,3 juta warga Nigeria usia 15–64 tahun pernah menggunakan zat psikoaktif untuk tujuan non-medis. Kelompok usia 25–39 tahun tercatat sebagai pengguna terbanyak, beriringan dengan tingginya tingkat pengangguran di kelompok usia tersebut.
Menurut Miriam, kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari faktor struktural yang sudah lama membelit Nigeria: kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, serta lemahnya layanan kesehatan mental. Lebih dari 40 persen penduduk hidup dalam kemiskinan, sementara pengangguran di kalangan lulusan muda mencapai lebih dari 50 persen. Di sisi lain, jumlah psikiater di seluruh negeri diperkirakan kurang dari 150 orang.
Dalam konteks ini, narkoba kerap menjadi “jalan pintas” bagi sebagian anak muda untuk melarikan diri dari tekanan hidup, frustrasi ekonomi, dan ketidakpastian masa depan.
Dari Jalur Transit Menjadi Pasar Konsumsi
Secara historis, Nigeria pernah dikenal sebagai jalur transit perdagangan narkoba internasional. Namun, dalam dua dekade terakhir, negara ini berubah menjadi pasar konsumsi besar, bahkan mulai muncul produksi lokal untuk beberapa jenis zat terlarang.
Jika pada masa lalu penggunaan zat lebih banyak terbatas pada bahan alami untuk keperluan medis dan ritual, kini terjadi pergeseran ke obat sintetis dan penyalahgunaan obat resep. Tramadol, opioid farmasi, ganja, dan sirup batuk berkodein menjadi beberapa zat yang paling banyak disalahgunakan.
Perubahan ini dipicu oleh krisis ekonomi sejak 1980-an, urbanisasi cepat, melemahnya struktur keluarga tradisional, serta terbatasnya peluang kerja yang layak bagi generasi muda.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Dalam artikelnya, Miriam melakukan telaah sistematis terhadap 45 sumber data, mulai dari artikel jurnal, laporan pemerintah, hingga basis data internasional yang terbit antara 2015–2024. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memetakan pola penyalahgunaan narkoba, dampak kesehatan, serta beban ekonomi yang ditimbulkannya.
Alih-alih hanya menyoroti perilaku individu, kajian ini menempatkan narkoba dalam kerangka besar pembangunan nasional, dengan melihat keterkaitannya dengan kebijakan ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan ketimpangan sosial.
Temuan Utama: Angka yang Mencemaskan
Beberapa temuan penting dari kajian ini antara lain:
- Sekitar 14,3 juta warga Nigeria usia produktif terlibat penggunaan narkoba non-medis.
- Ganja menjadi zat paling banyak digunakan, disusul opioid farmasi dan sirup batuk berkodein.
- Kelompok usia 25–39 tahun memiliki prevalensi tertinggi.
- Pengangguran muda mencapai lebih dari 50 persen, menjadi faktor risiko utama.
- Nigeria hanya memiliki sekitar 11 pusat rehabilitasi narkoba khusus untuk seluruh negeri.
- Jumlah psikiater kurang dari 150 orang untuk populasi lebih dari 200 juta jiwa.
Dari sisi ekonomi, beban yang ditimbulkan sangat besar. Laporan Biro Statistik Nasional Nigeria memperkirakan kerugian ekonomi akibat narkoba mencapai lebih dari ₦4,8 triliun per tahun, setara miliaran dolar AS. Sebagian besar kerugian berasal dari hilangnya produktivitas tenaga kerja dan meningkatnya biaya layanan kesehatan.
Dampak Langsung bagi Kesehatan Publik
Penyalahgunaan narkoba di Nigeria berkaitan erat dengan meningkatnya gangguan mental, penyakit menular, kecelakaan, dan kekerasan. Banyak pengguna mengalami depresi, psikosis, hingga ketergantungan berat yang sulit ditangani.
Kondisi ini semakin rumit karena layanan kesehatan mental sangat terbatas. Rumah sakit umum kerap kewalahan menangani pasien dengan gangguan akibat zat, sementara program pencegahan dan rehabilitasi berbasis komunitas masih minim.
“Penyalahgunaan narkoba di Nigeria telah berkembang menjadi krisis kesehatan publik yang kompleks dan saling terkait dengan kemiskinan, pengangguran, dan lemahnya sistem layanan kesehatan,” tulis Miriam dalam artikelnya.
Mengapa Ini Penting bagi Masa Depan Nigeria?
Lebih dari 60 persen penduduk Nigeria berusia di bawah 25 tahun. Jika generasi muda terjebak dalam lingkaran narkoba, negara ini berisiko kehilangan bonus demografi yang seharusnya menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, biaya sosial yang ditanggung keluarga sangat besar. Banyak rumah tangga miskin menghabiskan hingga seperempat pendapatannya untuk membeli zat terlarang atau biaya pengobatan akibat ketergantungan.
Dalam jangka panjang, penyalahgunaan narkoba menggerus kualitas sumber daya manusia, meningkatkan kriminalitas, dan membebani anggaran negara.
Jalan Keluar: Pendekatan Terpadu
Miriam menekankan bahwa pendekatan berbasis penegakan hukum semata tidak cukup. Nigeria membutuhkan strategi terpadu yang menggabungkan:
- Penguatan sistem kesehatan, termasuk layanan rehabilitasi dan kesehatan mental di tingkat primer.
- Program pencegahan di sekolah dan komunitas yang menyasar remaja sejak dini.
- Intervensi ekonomi, seperti pelatihan kerja dan kewirausahaan bagi pemuda.
- Kebijakan sosial untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan.
Menurutnya, narkoba harus dipandang sebagai masalah pembangunan, bukan sekadar pelanggaran hukum.
0 Komentar